Minggu, 30 Oktober 2016

Cerita Sex Jablay di Perkosa Habis-Habisan

untuk mendapat freechips testing 10rb bos harus melakukan deposit perdana bos ku 15rb hanya untuk validasi rekening saja bos ku silahkan di coba bos ku :).


 AGEN POKER  

Warung yang menjual minuman keras itu , terletak jauh dari keramaian di pinggir kota . Warung itu selalu buka dan hampir tak pernah tutup . Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, bandit , rampok , pembuat onar. Tempat itu menjadi sarang penjahat .

Sejumlah preman terlihat sedang asik minum-minum. Empat dari mereka bermain kartu remi yang sudah lusuh . dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Mereka sedang merencanakan perampokan terhadap toko emas di kota
Setelah berbicara cukup lama , Rony menyalakan Rokoknya , lalu berjalan ke luar warung . Matanya menerawang jauh , menatap jalan kecil yang mulai gelap itu . Sampai matanya agak memicing , karena silau , tersorot lampu mobil .
Suzuki Carry itu tepat berhenti di samping Rony . Perlahan kaca gelap mobil itu terbuka , dan terlihat sosok gadis muda . “ malam pak , numpang tanya , perumahan cemara indah , dimana pak..” suara gadis itu begitu lembut , membuat birahi Rony jadi bangkit .
Rony menatap gadis itu , dia tersenyum , di otaknya mencari cara , untuk memperdaya gadis itu .
“ sebenarnya bisa lewat jalan ini terus lurus , tapi jalan di depan ada galian kabel , jadi harus muter , terus lewat gang kecil di sebelah sana..” kata ronny membohonginya .
“ Oh , lewat jalan gang .. yang mana yah pak..” kata gadis itu lagi . “ wah jalannya sempit dan rusak , terus agak belok belok..” kata Rony lagi .
Gadis itu diam , sepertinya binggung . “ begini saja , biar saya antar , saya naik motor , nanti kamu ikuti motor saya ..” kata Rony .
Gadis itu tersenyum , “ wah , terima kasih , jadi repotin bapak saja nih..” .
Rony tersenyum , jantungnya berdetak lebih cepat , rencananya sudah makin mendekati ke mangsanya . Rony tersenyum lagi lalu berkata “ tidak apa apa koq , tapi saya mau makan dulu yah.. di warung dalam sana .. kamu tunggu saja sebentar..” .




Rony berencana , untuk mengepungnya bersama teman temannya dan membawanya masuk ke warung itu .
Tapi di luar dugaan Rony , gadis itu malah turun dari mobil suzuki carry itu. “ eh pak , saya juga agak haus .. saya ingin minum juga..” katanya .
Itu langkah yang salah , gadis itu tak menyadari banyak serigala lapar di dalam sana
Rony tersenyum sekali lagi , dan menatap gadis itu . Yang berpakaian seksi dan sensual. Dia mengenakan gaun pesta . Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya agak terlihat .
Buah dada gadis itu tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun pesta itu.
Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut , membuat kakinya yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, gadis itu berjalan perlahan, masuk ke dalam warung itu. Rambutnya yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya.
Setelah gadis itu berada di dalam warung itu , Dia tidak yakin apakah memang tempat ini yang baik , setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali kenapa bisa sampai ke tempat ini.
Gadis itu mulai grogi , dia terus dekat Rony yang asik melahap mie instan rebus , lalu memutuskan untuk memesan teh botol dan sambil berdiri menunggu sebentar.
Keempat orang yang sedang bermain kartu remi memandanginya dengan mata melotot penuh nafsu birahi .Gadis itu sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Tak lama , suasana semakin memanas .
“ pak , ayo tolong antarkan saya.” kata gadis itu pada Romy . Rony tersenyum “ sabar yah , oh iyah nama kamu siapa sih ” . Gadis itu tak menjawab . Tapi Rony bertanya lagi “ eh , nama kamu siapa ?” . “ Linda “ jawabnya singkat.
“ Oh nama eloe bagus juga , “ kata Rony . Linda berkata lagi “ ayo pak , nanti saya bayar ongkosnya , tolong bapak antar saya sekarang “ .

AGEN DOMINO
www.bioskopdewasa.com

Rony tersenyum sinis , lalu tangannya hinggap di pantat Linda dan merabanya . Gadis itu tersendak “ eh.. jangan kurang ajar yah..” katanya . Rony tersenyum menyeringai “ he he he baru gitu aja eleo udah marah , gimana kalo gua entot loe..” .
Nada bicara Rony berubah , yang tadinya lembut ,sekarang jadi kasar . Linda menyadarinya , ini tidak baik . Segera dia menuju ke pintu , untuk pergi dari sana . Tapi terlambat , dua orang bandit berada di depan pintu . Mereka berdiri sambil mengusapi selangkangan mereka .
“Hei Non, gimana kalo loe buka baju eleo , jadi kita bisa senang senang!” seseorang dari mereka berkata. “Gimana kalo kita nyanyi sama-sama , sambil telanjang Non?” yang lain menimpali.
Linda mulai panik , “ minggir , saya mau pergi ..” katanya .
Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahunya serta mendorongnya duduk di kursi sementara preman itu sendiri duduk di sebelah Linda. “ Hei , apa apa nih..” kata Linda
Kemudian tanpa aba aba , preman itu menjilat dan mencium telinga Linda .Linda berontak , dan menjerit “ apa apa nih , bajingan… “ . Lalu tangan Linda reflek menampar pipi preman itu . Teman temannya yang lain tertawa tawa .
Tiba tiba , preman itu mencabut belatinya , dan menancap belati itu di kursi kayu yang di duduki Linda , tepat di antar kedua paha Linda . Untungnya belati itu tak sampai melukai pahanya .
Linda hanya bisa memandangi belati mengkilap itu dengan mulut terbuka tak percaya kejadian ini harus menimpa dirinya .
Ketika Linda tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Linda, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Linda. “ Hei , apa apa nih tolong , jangan “ . Linda meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan.
“ Hei , jangan gangu dia , dia milik gua..” bentak Rony . Dan preman itu melepaskan tangannya .
Rony segera mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang preman memegang tangan Linda yang terus berusaha meronta dan menjerit, “ Tolong.. tolong… lepaskan… jangan…” dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata “ yah terus menjerit .. gua suka dengar suara jeritan eleo…”
Wajah Linda memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya.
Tapi dua dari preman itu segera menarik tangannya , dan membawanya ke meja kayu , yang biasa dipakai buat makan . Linda terus meronta . Tangan preman itu menjambak rambutnya . Akhirnya mereka berhasil membawa dan membaringkan Linda di meja kayu itu .
Kemudian kedua tangannya di ikat pada kaki meja . Kini tangan linda , terikat terbuka , satu ke kiri dan satu kekanan . Kini Linda terbaring tak berdaya , dengan tangan terikat seperti di salib . Hanya kakinya yang bergerak menendang nendang tanpa arah . Juga jerit tangisnya yang memilu .
“ Yah , terus berontak , gua suka sekali melihatnya..” kata Rony tertawa . Linda terus berontak , dan menangis memohon dilepaskan . Tapi Rony hanya tertawa . “ eh , eloe orang minggir , liatin gua aja yah , cewek ini punya gua..” kata Rony pada teman temannya.
Teman temannya hanya tertawa tawa .
Lalu Rony segera merobek gaun Linda , dengan bantuan belatinya . Sekali tarik gaun itu lepas seluruhnya di sertai jeritan Linda .
Semua mata langsung tertuju pada tubuh Linda yang hanya memakai celana dalam hitam , dan juga bra yang hitam .
Rony merangkak naik keatas meja . Tapi Linda segera menedangnya . Rony cepat tanggap ,menangkis tendangannya , lalu memukul keras perutnya , Linda menjerit kesakitan “ aduh , ampun jangan pukul…” .
Rony pun turun lagi , dan mengikat kedua kakinya pada kaki meja itu . Kini Linda benar benar tak berkutik . Dia terikat diatas meja dengan kaki terbuka lebar. “ Ha ha cewek sialan loe , ayo berontak lagi..” kata Rony.
BANDAR POKER

www.bioskopdewasa.com

Linda hanya bisa menitikan air mata . Dan Rony pun segera mendekatkan mukanya pada selangkanan Linda , menciumi aroma vaginanya yang masih terbungkus celana dalamnya. Linda mengelijing dan memohon “ tolong hentikan jangan lakukan ini…” . Tapi itu sia sia saja .
Rony terus saja menciumi celana dalamnya , dan tak lama dengan belatinya itu dia merobek celana dalam dan Bra Linda . Kini tubuh Linda terbuka , tanpa sehelai benang pun . Rony menatap tubuh telanjang gadis itu , demikian juga preman preman bejat lainnya.
Buah dada Linda yang montok , vaginanya yang kecil dengan sedikit bulu bulu kemaluannya. Rony segera mendekat ke vaginanya . Dengan dua jarinya dia membuka lebar bibir vagina Linda .” wah , memek eloe masih bagus yah , apa eloe masih perawan..” kata Rony.
Linda tak menjawab , hanya terisak tangis . Rony pun mejulurkan lidah menjilati klitorisnya . Linda mengelijing dan meronta “ sudah tolong hentikan ” . Rony terus saja bernafsu melumat vagina Linda . Membuat Linda terus mengelijing .
“ aghhh “ jerit Linda , ketika Rony memasukan dua jarinya ke liang wanita Linda . Jari Rony menyolok nyolok vagina linda dengan cepat . Jerit kesakita Linda , malah semakin membuat gerakkan jari Rony Liar . Rony mengorek ngorek liang vagina linda . Lalu menarik jarinya keluar.
Rony mencabut jarinya , menatap jarinya yang basah , menyeringai , lalu kembali memasukan jarinya di liang vaginanya . “ rupanya , eloe udah gak perawan yah.. dasar perek ” ejek Rony .
Kembali jarinya menyodok nyodok vagina Linda , membuat Linda mengeram pedih.
Setelah Rony puas memainkan vaginanya , Rony melepaskan ikatan Linda dan langsung menariknya turun dari meja kayu itu .Linda tersungkur di lantai , dan Rony membuka celananya . Penis ngacung keras.
Tiba-tiba, Rony menjambak rambut Linda dan menariknya , Linda menjerit kesakitan “ ahhhh , tolong ampun…” .
Rony memerintahkan Linda untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Linda .
Rony memajukan penisnya mendekati muka Linda , penisnya yang sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Linda untuk membuat Linda membuka mulutnya. Linda meronta , tapi Kembali Linda menjerit keras , “ Ahhhh … “ ketika satu pululan tepat di mukanya
Ketika Linda kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Rony segera mendorong penisnya ke dalam mulut Linda. dan mulai mendorong dan menarik kepala Linda.
Kepala Linda bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Linda yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Linda tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Linda.
Air mata mulai meleleh di pipinya . Sambil Linda dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya. Rony kemudian menarik penisnya keluar , lalu mendorong lagi.
Setelah kira kira 10 menit , Rony menekan masuk penisnya . Linda tersedak , dan terasa sperma Rony muncrat di tenggorokkannya . Setelah penis itu benar benar terlepas dari mulutnya , Linda segerah memuntahkan sperma yang memenuhi mulutnya.
Seorang dengan perut buncit , tangannya penuh tatto segera menghapiri Linda.Membuka resleting celananya , Tangannya kemudian menjambak rambut Linda dan mulai mendorong masuk penisnya dalam mulut linda mengantikan Rony
Menggerakan penisnya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Linda. Semua orang dapat mendengar suara dahi Linda yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Linda yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.
Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Linda hingga hidung Linda terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Linda.
Dan dari sudut mulut Linda sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Linda. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Linda .Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Linda, Linda megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.
Dua orang kemudian memegangi Linda sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Linda sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock.
Ketika semuanya telah telanjang bulat, kembali Linda diangkat dan diletakan di atas meja kayu dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Linda terbuka lebar dan tubuhnya telentang.
BANDAR DOMINO
www.bioskopdewasa.com

Rony kembali mendekat dan naik ke atas meja. Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Linda. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Linda untuk mengangkat kepala Linda hingga Linda bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Linda.
Orang yang memegangi kaki Linda berusaha membuka kaki Linda lebih lebar. Dengan satu kali dorongan keras, penis Rony dengan keras memasuki vagina Linda. Linda menjerit sekeras-kerasnya, “ AaHHHGG . . .” dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya.
Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Linda. Ia menyeringai setiap kali Linda menjerit kesakitan.
Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Linda dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Linda.
Mereka mulai dengan memainkan buah dada Linda dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Linda terus menjerit , pilu “ ahhhggg ampun Ahhhh hentikan tolong….” .
Kaki Linda diangkat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Linda.
Beberapa menit kemudian jeritan Linda hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony tetap memperkosa Linda tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Linda, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.
Kepala Linda terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Linda “ AGHHHH………”. Rony mengejang beberapa saat penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Linda. Setelah Rony mencabut penis , spermanya pun berhamburan keluar dari liang vagina Linda yang membengkak dan memar.
Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan Linda dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.
Linda hanya bisa berbaring , menangis , tubuhnya menjejang kesakitan . kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Ia telah diperkosa , dilecehkan, harga dirinya di injak injak .
“Eh perek , kenapa nangis , Loe mustinya nikmatin, soalnya masih banyak cowok yang antri , semua mau cobain memek eloe kita baru aja mulai!” katanya pada Linda.
Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Sekarang, Linda dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka kembali dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Linda, ketika ia merasa tubuhnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.Linda mengerang lagi “ aghhh sakit…”
“Loe jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!” bentak orang itu.
Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Linda akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Linda hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai.
Sekarang Linda hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.
Tak lama preman itu menyemburkan spermanya ke dalam vagina Linda yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Linda.
Linda tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Linda lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya.” Sudah tolong lah Ahhh saya , sudah tak kuat , ahhh sakit…” .
Tapi Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Linda keras-keras hingga Linda menjerit kesakitan. “ AHHGGG sakit hentikan tolong…” . Dan menarik puting susunya dengan kuat “ AGHH sakit ampunnn…”
“Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!” bentaknya pada Linda.
Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Linda. Linda sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya.
Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Linda. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Linda membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Linda. Sehingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu.
Ketika orang itu puas ia menarik rambut Linda dan menamparkan penisnya ke wajah Linda. “satu-satunya yang boleh loe mohon cuma ini tau? Loe sendiri yang masuk ke sini pake pakaian merangsang kayak perek , dan loe mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti” Orang itu membentak Linda.
Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Linda sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Linda, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Linda kemudian menarik rambut Linda untuk membersihkan penis mereka.
Dan ketika orang yang terakhir selesai Linda berbaring hampir tak sadarkan diri.
Wajah, buah dada, dan puting susu Linda seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Linda. Linda tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Linda harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya.
Rambut Linda yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Linda hanya berbaring di atas meja , kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya.
Vagina Linda tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.
Dua orang menarik tubuh Linda turun dari meja itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Linda dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Linda melihat meja tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan.
Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Linda didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya.
Linda merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendorong dan mengangkat tubuhnya. Ketika Linda membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.
Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Linda kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Linda diturunkan mengarah ke penis Rony. Dengan sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Linda.
Dan Linda sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit “ Ahggg Aghh perih tolong hentikan sudahh..”
Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Linda dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Linda dan berhenti tak bergerak.
Selanjutnya Linda merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Linda panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Linda membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
“Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!” kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Linda sambil tersenyum.
Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Linda yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Linda, kembali menyengat seluruh tubuhnya.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Linda sebelumnya. Pikiran Linda menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk.
Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Linda seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya.
Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Linda hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Linda, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan.
Kemudian dua orang terkakhir tadi menarik tangan Linda, melingkarkan jari-jari Linda di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Linda, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.
Sekarang Linda sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Linda untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Linda sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Linda.
Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Linda. Linda terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Orang di anus Linda lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Linda. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Linda tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu.
Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Linda berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak.
Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Linda. Linda kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.
Orang-orang tadi bergantian memperkosa Linda di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Linda.
Ketika Linda melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Linda, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.
Penis lain kembali masuk ke vagina Linda. Linda kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, “ aghhh aghh aghh…” . yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Linda melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya.
Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.
Sepanjang malam Linda terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali.
Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Linda, tubuh Linda tersungkur , terkapar tak berdaya .Linda lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap Linda tak sadarkan diri.

Jumat, 28 Oktober 2016

BELAJAR SEX


Sebut saja nama saya Tony, usia saat ini 28 tahun, saya tipe laki-laki yang bsa dibilang biasa-biasa saja. Tinggi badan 170 cm,berkulit putih, dan mempunyai berat badan 67 kg. Saya sayai memang tidak ada yang spesial dari diri saya. Cerita sex saya ini terjadi pada tahun 2014 ketika saya sedang menjalani semester akhir pada sebuah unibersitas swasta tinggi terkenal di jakarta.
Saya seorang lelaki asli dari suatu kota di jawa tengah, dan dijakarta saya tinggal kost-kostsan. Saya mempunyai seorang sahabat yang sebut saja namanya Revita. Dia satu kampus dengan Saya, Revita adalah gadis ber kulit putih, berambut hitam panjang, bertubuh mungil tetapi badanya padat berisi. Sebenaranya kami sudah menjalin persahabatan semenjak duduk dibangku SMA dulu.

BOKEP JEPANG


 Dahulu kami 4 orang sahabat yaitu saya, Revita Dery dan Deva, Dery dan Deva memilih untuk melanjutkan study-nya di luar negri. Kini tinggalah saya dan Revita 2 orang sahabat yang selalu bersama. Sebenarnya kami masih sering komunikasi dengan Dery dan Deva, walaupun itu hanya melalui media sosial saja. Terkadang jika mereka pulang ke Indonesia, kami masih sering untuk berkumpul. Dimana setiap kami berkumpul, kami selalu menghabiskan waktu untuk mengingat tentang pengalaman kamki dan untuk sekedar melepas rindu. Persahabatan saya dengan Revita saat itu hanya sebatas sahabat dekat saja. Kami saat itu terlalu munafik untuk mengelak dari perasaan cinta dianatara kami. Setelah lulus SMA Revita dan saya mempunyai janji untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.


 Saat itu kami beremat merencanakan untuk liburan ke Bali, moment itu yang sangat kami tunggu-tunggu. Bahkan kami sudah booking hotel dan merencanakan tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Namun rencana tinggal lah rencana, 4 hari sebelum hari H, Deva dan Dery membatalkan niat ke Jakarta karena mereka ada urusan yang sangat penting, entah urusan apa itu.
Pada akhirnya saya dan Revita-pun berpikir bagimana caranya untuk mengisi waktu liburan yang kosong tersebut karena kami sudah membatalkan semua rencana liburan kami bersama teman kuliah. 1 hari sebelum hari H saya bermain di kost Revita, seperti biasa kami hanya mengobrol dan merasa kecewa dengan batalannya libuaran kami ke Bali.


 Saat itu, memang suaranya terdengar ngantuk dan kuramg tidur,
Kita jadi berangkat gak nih Rev? udah jam 5 lewat hlo ini, ntar kita kesiangan n kena macet ”, ttanya saya.
Jadi dong Ton, tapi gwe belum mandi nih, bentar yah Gwe mandi dulu yah. Loe kalau mau kesini langsung masuk aja, pintunya gak Gwe kunci, sekalian Loe masukin barang-barang Gwe ke mobi Loe yah Ton ”, pintanya.  Oke deh Rev, tapi jangan lama-lama yah ”, jawabku singkat.

Tidak lama kemudia saya-pun sudah parkir di depan kost Revita dan langsung masuk ke kamarnya. Ternyata dia belum kelar mandi dan saya dengan cepat memasukkan barang-barang nya masuk ke mobil saya. Kemudian saya berteriak dari luar kamar mandi,
Rev, Gwe tunggu di mobil yah, GPL (gak pake lama) ”, teriakku.
 Iya Ton, Gwe bentar lagi kelar kok ”, sahutnya.

 Sekitar 10 menit saya menunggu di mobil kemudian Revita-pun keluar dengan hotpant hitam dan baju kaos couple yang kami beli sebelumnya, agar terlihat sehati,hhe,
Sorry yah Ton, jadi lama nunggu, Gwe tadi pagi ngantuk banget ”, ujarnya.
 Iya santai aja kali Rev, yang penting kita jadi jalannya ”, jawabku.
Sepanjang perjalanan kita banyak ngobrol tentang kegiatan kampus, skripsi dan hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sambil mendengarkan lagu. Revita benar-benar sahabat yang baik. Kita saling menghibur dan saling mengisi, bercanda dan ledek-ledekan adalah hal yang biasa buat kami. Dan anehnya kita sama sekali tidak pernah membicarakan perasaan kami masing-masing.
Hanya saja saya sering khawatir jika Revita sakit atau terjadi kenapa-napa dan begitu pula sebaliknya. Benar-benar persahabatan yang tulus dan saya sangat takut untuk menodainya dengan perasaan cinta. Takut dia pergi meninggalkan saya. Takut dia berpikir bahwa saya mengkhianati persahabatan kita. Saya memacu mobil tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan.


 Sekitar 10 menit saya menunggu di mobil kemudian Revita-pun keluar dengan hotpant hitam dan baju kaos couple yang kami beli sebelumnya, agar terlihat sehati,hhe,
Sorry yah Ton, jadi lama nunggu, Gwe tadi pagi ngantuk banget ”, ujarnya.
 Iya santai aja kali Rev, yang penting kita jadi jalannya ”, jawabku.
Sepanjang perjalanan kita banyak ngobrol tentang kegiatan kampus, skripsi dan hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sambil mendengarkan lagu. Revita benar-benar sahabat yang baik. Kita saling menghibur dan saling mengisi, bercanda dan ledek-ledekan adalah hal yang biasa buat kami. Dan anehnya kita sama sekali tidak pernah membicarakan perasaan kami masing-masing.
Hanya saja saya sering khawatir jika Revita sakit atau terjadi kenapa-napa dan begitu pula sebaliknya. Benar-benar persahabatan yang tulus dan saya sangat takut untuk menodainya dengan perasaan cinta. Takut dia pergi meninggalkan saya. Takut dia berpikir bahwa saya mengkhianati persahabatan kita. Saya memacu mobil tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan.


 Karena saya berusaha menikmati perjalanan ini. Hanya sekitar 2,5 jam mobil saya sudah memasuki kota Bandung. Kemudian kami mencari restoran untuk sarapan kami. Kebetulan pagi-pagi kita gak sempet makan, cuma makan snack doank di mobil. Setelah makan, kita coba memasuki Factory Outlet (FO), dari FO yang satu ke FO yang lainnya. Memilih baju dan akhirnya kita membeli sepasang baju kembar lagi. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, perut kami juga sudah mulai laper. Ris, makan yuk, Gwe laper nih dan kita jangan terlalu sore ke lembangnya yah ”, ucapku.
Iya-iya Ton, Sorry yah tadi Gwe nggak liat jam, habis keasikkan belanja sih hehehe… 
 ujarnya sambil tertawa.
Kemudian saya mengarahkan Jazz ku kea rah atas Bandung. Sekitar jam 6 kita sudah sampai. Kita menikmati hidangan di depan kami sambil minum cappuccino hangat. Kami mempunyai selera yang sama dalam hal minuman, sama-sama menyukain cappuccino. Pas saya melihat jam ternyata sudah jam setengah 9 malem. Kita keasikan ngobrol sambil browsing internet pakai laptop yang yang saya bawa dan tak terasa 2,5 jam telah berlalu.
 Hujan turun dengan sangat deras sekali. Kita nunggu hamper 1 jam ternyata hujan tidak kunjung reda. Akhirnya dengan meminjam payung kita berhasil sampai mobil dan waktu telah menunjukkan pukul 21:45 wib. Dan akhirnya kita meninggalkan resto tersebut. Tidak lama kemudian saya merasakan hal yang aneh pada mobilku, stir menjadi berat dan saya berpikir mobil ban saya ada yang kempes. Kemudian di tengah guyuran hujan, saya turun berdua Revita untuk melihat ban mobil saya, tentu saja Revita memayungi saya. Ternyata dugaan saya benar bahwa ban kanan depan mobil saya kempes, mungkin terkena psaya. Tidak mungkin untuk mengganti ban dalam keadaan cuaca seperti ini. Kemudian kami berdua kembali masuk ke mobil,
Rev, ban mobil kempes nih, Gwe ganti dulu yah, Loe tunggu aja di mobil ”, ucapku.
Loe gila yah? Ujan-ujan gini Loe mau ganti ban? Ntar Loe sakit lagipula bahaya malem-malem ganti ban ”, ucapnya perduli.  Kalau gak kayak gini kita gak bisa pulang Rev, mau nunggu hujan reda? Tambah malem lagi ”, ucap saya. Pokoknya Gwe gak setuju Loe ganti mobil sekarang, mending jalanin deh mobil nya ”, ucapnya. Saat itu saya menurut denga perkaytaaan Revita dan kemudian menjalankan mobil perlahan-lahan,
Rev, Gwe punya ide tapi Gwe gak yakin Loe setuju sama ide Gwe ”, usul saya.
Memangnya apa ide Loe Ton ? ”, tanyannya.
“ Bagaimana kalau kita cari hotel atau tempat penginapan, kita nginep semalem disini, besok pagi kita pulang, kecuali kalau Loe ijinin Gwe ganti ban mobil ini sekarang ”, tanyaku.
Sejenak Revita berpikir dan menjawab,
“ Oke deh kalau gitu kita cari hotel terdekat disini daripada Loe keujanan dan sakit, itu lebih ngerepotin Gwe lagi nantinya ”, ucapnya setuju.
Beberapa menit kemudian kita melihat sebuah penginapan dan saya membeLoekkan kendaraan saya ke penginapan tersebut. Ternyata hujan malah semakin besar dan diselingi kilatan dan petir. Dengan payung yang tidak terlalu besar kita berdua masuk ke Loebby untuk check in. Pas masuk Loebby beberapa orang sempat melihat ke kita karena hampir semua baju kami basah akibat hujan angin yang besar.
Saat itu kemudian saya bertanya ke resepsionis,
 Mas, saya pesen kamar single bed 2 ”, ucapku.
Maaf mas, yang tersisa hanya kamar double bed 1 dan sisanya family room ”, jawab recepsionis itu.
Karena kamar tinggal 1 saja sayapun kemudian bertanya ke Revita,
Gimana? Yang ada cuma itu, mau gak? ”, tanyaku.
Gak ada pilihan lain kan? Ya udah ambil aja deh Ton ”, jawabnya
Kemudian kami balik ke mobil untuk mengambil barang-barang dan segera menuju kamar tersebut. Kamar nya hanya ada 1 bed ukuran double, dan kamar mandi dengan shower hangat. Kemudian kami mandi secara bergantian. Saya hanya memakai celana boxer dan baju kaos yang kami beli di FO. Sedangkan Revita memakai baju kaos lengan buntung dan celana pendek. Saat itu badan terasa lelah sekali,
Riss, kok Loe mau sih nginep dan tidur sekamar sama Gwe? ”, tanya saya.
Jangan pede dulu Loe Ton, Gwe cuma gak mau Loe sakit aja, kalau Loe sakit ntar Gwe juga yang repot, siapa yang beliin obat? Siapa yang anterin Loe ke dokter? Lagipula kita sahabatan udah lama banget, Loe tau siapa Gwe dan Gwe tau siapa Loe ”, ucapnya panjang lebar.

Ngomong-ngomong terima kasih yah udah jadi sahabat Gwe, Gwe seneng banget punya sahabat kayak Loe Rev, Gwe gak mau kehilangan Loe Rev”, ucap saya serius.
Saat itu kemudian saya langsung memeluk Revita begitu saja. Dengan sedikit bingung Revita menyambut pelukan saya dan sambil bertanya,
Maksudnya Loe gak mau kehilangan Gwe apa? Emank Gwe mau kemana? Gwe kan gak kemana-kemana ”, ucapnya dengan seidkit candaan.
Gwe baru sadar bahwa selama ini yang Gwe rasain ke Loe bukan perasaan sebagai seorang sahabat tapi lebih, Gwe sayang banget sama Loe, Gwe gak mau Loe ninggalin Gwe dan married sama orang lain. Ternyata selama ini Gwe udah bohong sama perasaan Gwe, gwe takut ngomong ke Loe, nanti semuanya akan berubah. Dan Gwe takut Loe ninggalin Gwe Rev ”, ucap saya panjang lebar.
Sambil memandang tajam mata saya Revita,

Ton, Gwe gak akan pernah tinggalin Loe, I’m promise to You, coz, I Love you so much ”, ucapnya dengan mimik wajah serius.

Saya melihat wajah cantik Revita mengeluarkan airmata dan tidak lama kemudian saya berusaha mengangkat dagunya dan mulai mencium bibir nya. Lembut sekali dan ini merupakan ciuman pertama Revita karena Revita belum pernah pacaran sebelumnya. Dan bagi saya ini untuk kedua kalinya karena sebelumnya saya pernah berciuman dengan mantan pacar saya.

Cukup lama kami berciuman kemudian saya mulai memegang buah dada dari Revita, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Saya meremasnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Revita mulai mendesah, perlahan saya angkat bajunya dan dia menurut saja. Terlihat buah dada yang putih dengen putting berwarna merah muda, ternyata Revita sudah tidak memakai bra setelah mandi, mungkin karena bra nya basah.

Dengan cepat saya turunkan celananya berikut celana dalamnya. Terlihat Kewanitaan yang putih dengan bulu-bulu yang tercukur rapi. Saya mulai mencumbunya mulai dari leher, menjilati kupingnya kemudian turun ke arah buah dadanya. Dia mulai mengeluarkan desahan-desahan kecil. Saya menkilati sekitar putingnya, sedikit gigitan kecil pada putingnya.

Revita mulai meracau. Saya turun kebawah dan muali menjilati kewanitaan dan klitorisnya. Ternyata klitorisnya sudah basah, tampaknya Revita sudah terangsang. Secara telaten saya jilati klitorisnya hingga akhirnya dia menjambak rambut saya dan keluar cairan hangat. Wangi sekali kewanitaan Revita, tampaknya dia sangat merawat kebersihan kewanitaan-nya.

Saya langsung melucuti pakaian saya hingga bugil, Revita tampak sedikit kaget melihat Kejantanan saya yang berukuran sedang. Saya suruh dia mengocok lembut dan menjilati Kejantanan saya, awalnya dia tampak jijik tapi lama-lama sudah biasa. Lembut sekali jilatan-jilatan dan isapannya pada Kejantanan saya. Tidak lama kemudian saya mengarahkan Kejantanan saya ke lubang kewanitaan-nya Saya melihat dia dengan tajam dan dia hanya melihat saya dan memejamkan matanya. Saya tidak tahu apakah itu tanda setuju atau tidak tapi dia tidak melakukan penolakan. Saya mulai memasukinya pelan-pelan, dia sedikit menahan sakit kemudian saya berhenti sejenak lalu saya coba masukin lagi Kejantanan saya hingga akhirnya masuk, darah perlahan-lahan mulai keluar dari kewanitaan-nya.

Saya yakin itu darah perawannya Revita. Kemudian saya mulai melakukan gerakan maju mundur dengan tempo biasa saja, Revita tampak menahan sakit tapi menikmatai. Sekitar 15 menit kami melakukan itu hingga akhirnya saya sudah mulai merasa ingin Klimaks dan sempat bertanya ke Revita apakah dikeluarkan di dalem atau di luar dan dia bilang di dalam saja, dan tidak lama kemudian,

 Crottttt… Crottttt… Crottttt… Crottttt… ”,

Tersemburlah air mani saya bercampur lendir kawi Revita memenuhi lubang kewanitaan Revita. Sesaat kemudian kami tergolek lemas di tempat tidur dan membayangkan apa yang telah kami lakukan. Kami saling diam tanpa kata. Saya coba menoleh ke Revita dan dia mengeluarkan air matanya. Saya memulai pembicaraan,
Rev, maafkin Gwe yahg, tidak seharusnya Gwe ngelakuin ini pada Loe, Gwe bener-bener khilaf, maafin Gwe ya Rev ”, ucap saya dengan mata berkaca-kaca.
Bukan bukan salah Loekog ini ini Ton, loe gak perlu minta maaf ”, ucapnya sambil mengusap airmata-nya. Rev, Gwe janji akan nikahin Loe, Loe mau kan jadi istri Gwe kelak ? ”,tanya saya.

Sambil tersenyum dia berkata,
Ton, Loe cowok yang baik. Loe selalu ada buat Gwe disaat Gwe utuh Loe. Loe selalu mengerti bagaimana cara memperlakukan Gwe. Gwe sebenernya sedih waktu liat Loe jadian sama Lola, tapi Gwe pengen lihat Loe bahagia. Loe cowok sempurna di mata Gwe, tidak ada alasan buat bilang tidak ke Loe. Gwe sayang sama Loe, Gwe mau jadi istri Loe Ton ”, ucapnya membuat hatiku tentram.

Maksih ya Rev, gw janji bakal selalu buwat loe bahagia dan nggak akan seklaipun ngecewain Loe… Love you so much Rev… Emuuuachhh…”, ucap saya sambil mengecup keningya.
Iya makasih ya Ton, Love to So much ”, balasnya.

Singkat cerita, setelah kejadian itu, pada pada akhirnya kamipun berpacaran dan kami semakin sering Hubungan intim. Pada Akhirnya setealah kami di wisuda, dan saya mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing dan Revita bekerja di salah satu Bank Sawata di Indonesia. Pada bulan juni 2015 kami memutuskan untuk menikah dan kehidupan kamipu n selalu bahagia. Selesai.

PENGALAMAN SEX

Namaku Yuni, kini umurku sdh 25 tahun, sekarang sdh bekerja sebagai seorang manager pada perusahaan ekspor dan impor. Seharusnya aku sdh berumah tangga, tp untuk saat ini aku belum menemukan pria yg sesuai dgn sesui dgn selera seksku yg menggebu-gebu. Aku merasa sdh bosan selalu berganti laki-laki. Aku sdh bosan menjadi budak nasfuku sendiri yg sulit dikendalikan. Aku ingin mengakhiri semua petualangan seksku. Ya… memang aku suka berganti laki-laki, tp aku pilih laki-laki yg menurutku sehat dan perkasa. Aku tdk pernah mengharapkan sesenpun uang dari laki-laki yg pernah aku singgahi, aku hanya butuh penyaluran hasratku.
Aku menjadi maniak seks, gara-gara aku mulai hubungan seks sejak masih usia dini. Orang yg pertama kali mengambil perawanku adalah teman ayahku sendiri. Orang itu namanya Jonet, kedengarannya memang kampungan, tp penampilan wajah dan postur tubuhnya yg gagah membuat setiap waYuni jatuh cinta. Postur tubuhnya tinggi besar ya sekitar 170 cm, wajahnya ganteng dihiasi kumis tipis melintang dibibirnya. Hidungnya mancung, tp tatapan matanya sangat menawan, dan terlebih lagi kelihatan berwibawa. Aaaaah…….ketika aku ingat sama om Jonet birahi sekku bangkit.
Sampai saat ini entah dimana kabarnya, entah dimana om Jonet berada. Sejak aku mengikuti orangtuaku pindah kedaerah asalnya di Sulawesi samasekali tdk pernah berhubungan dgn om Jonet. Dari om Jonet itulah aku yg pada saat itu masih berusia 13 tahun mengenal hubungan sek.
Aku mengenal om Jonet sejak berusia 5 tahun. Kebetulan waktu itu rumah kontrakan om Jonet bersebelaha dgn rumah kontrakan orangtuaku. Om Jonet berprofesi sebagai mekanik sepeda motor. Dari profesi itulah, maka bapakku sering minta tolong untuk menservis sepeda motor. Terkadang om Jonet datang kerumahku untuk sekedar memperbaiki sepeda motor, dia sama sekali tdk mau menerima ongkos sesenpun, hanya ongkos membeli onderdil saja. Katanya sih untuk nambah saudara diperantauan. Karena servis motornya sangat memuaskan, sehingga hubungan om Jonet dgn orangtuaku sangat akrab. Saking akrabnya, om Jonet menjadi leluasa bermain dirumahku.
Suatu ketika ibuku sedang sakit, sampai harus opname selama satu minggu dirumah sakit, bapakku sibuk bekerja, pulang kerja langsung kerumah sakit. Karena kondisi rumah sakit yg penuh sesak, aku tdk diijinkan oleh bapak ikut menunggu ibu. Bapakku minta om Jonet tolong menjaga aku dirumah dan mengantar aku sekolah di SMP. Dgn senang hati om Jonet memenuhi permintaan bapakku. Om Jonet sangat perhatian, dia tdk segan-segan meninggalkan pekerjaan hanya untuk menjemput aku pulang sekolah dan diajak mampir menjenguk ibu dirumah sakit. Dirumah om Jonet selalu menemani aku, bahkan selalu menyediakan makanan kesukaanku. Malam itu hujan turun sangat deras sekali diselingi tiupan-tiupan angin, cahaya petir berkilat-kilat masuk celah-celah kaca jendela, suaranya menggelegar.


Duaaaaaaaar…………gledung…………., pet…….listrik padam, rumahku menjadi gelap gulita.
“Om……om………aku takut………takut……om. Om Jonet dimana…….om……kesini…….aku takut banget.”
Aku menjerit keras ketakutan, sekujur tubuh gemetar, dari celana pendekku seperti ada air mengalir. Rupanya aku ketakutan sampai terkencing-kencing. Aku yg saat itu sedang tiduran dikamar, mencari om Jonet yg sedang istirahat diruang tengah.
“Yun……….Yun……..om disini.” Aku dengar langkah kaki om Jonet menuju kamar, karena gelap gulita akhirnya aku bertubrukan dgn om Jonet.
Oommm…… tanganku mendekap dada, susuku yg baru numbuh terasa pegal dan sakit ketambrak tubuh om Jonet. Beruntung dua tangannya segera merangkul tubuhku supaya tdk jatuh, aku dipeluk erat-erat. Tubuhku yg setinggi bahu om Jonet seakan tenggelam dalam pelukkannya.
“Yun……., kok aku mencium bau pesing.” Aku kaget, ternyata celana pendekku basah.
Untung keadaan rumah sedang gelap, jadinya om Jonet tdk melihat wajahku yg merah padam menahan rasa malu. Aku segera melepaskan diri dari dekapan om Jonet.
“Yun….., tunggu disini sebentar ya, aku mau ngambil senter.” Om Jonet mau melangkah, aku yg masih ketakutan segera berpegangan erat pada lengannya.
“Om……., ikut ya aku takut banget.” Sementara diluas hujan bercampur tiupan angin tambah deras, suara petir menggelegar duaar……..deeeeeeeeeer……memekakkan telinga.
Aku terus mengikuti langkah om Jonet mencari-cari senter.
“Yun….., tuh celanamu basah, sana ganti dulu. Nih senternya dibawah kekamar mandi.” Aku malu sekali ketika om Jonet melihat celana pendekku basah bau pesing lagi.
“Aku takut banget, temani ya om.” Aku menarik-narik tangannya, memaksanya kekamar mandi.
“Yun……ayo masuk……aku diluar saja.” Om Jonet masih terus berdiri didepan pintu kamar mandi, karena aku paksa akhir menemani aku didalam kamar mandi.
Ketika aku sedang melepas baju, tiba-tiba duaaaaaar……njegaaaaaaaar…….kembali suara petir menggelegar menyambar-nyambar. Saking takutnya aku kembali memeluk tubuh om Jonet, wajahku aku sembunyikan pada dadanya yg bidang. Senter yg dipegang om Jonet jatuh kelantai, tubuhnya yg aku peluk sekuat tenaga tdk bisa bergerak.
Aku hanya mendengar degup jantungnya yg tambah kenceng. Terpaksa pahaku yg tdk tertutup selembar kainpun tersentuh oleh telapak tangan om Jonet. Kembali kilatan pentir menyambar dan menggelegar, aku masih terus memeluk tubuhnya kuat-kuat, tdk mau lepas, aku takut sekali. Mengetahui aku masih ketakutan, tangan om Jonet pindah keatas memeluk tubuhku yg sdh telanjang bulat, buah dadaku yg baru seukuran bola tenes seperti tertekat perutnya. Rasa takukku mulai berkurang manakala tangan om Jonet mulai membelai bagian punggung.
“Yun………, nggak usah takut…..sana tubuhmu disiram air dulu. Aku nunggu diluar saja ya Yun.” Tangan om Jonet berusaha melepas dekapan tanganku.
Kemudian membungkuk mengambil senter yg tadi jatuh dilantai, otomatis om Jonet dapat melihat seluruh tubuhku yg masih telanjang bulat. Matanya seperti tdk berkedip ketika cahaya senter itu mengerah pada bagian dadaku yg sdh membusung. Saking takutnya, aku tdk menghiraukan rasa malu sedikitpun.
“Ya…..om, tp om nunggu didalam saja. Takut pentirnya nyambar lagi.” Aku berbalik membelakangi om Jonet, tubuhku aku siram air, tp bau pesing masih melekat pada bagian bawah tubuhku.
Meskipun dingin, terpaksa aku mandi lagi. Air mengguyur seluruh tubuhku, seluruh permukaan tubuhku aku bersihkan pakai sabun mandi. Sementara om Jonet yg masih menemani aku, mengarahkan cahaya senter keseluruh tubuhku yg tertutup buih-buih sabun. Aku cuek saja, aku santai saja, dua tanganku menggosok-gosokan sabun keseluruh tubuh. Aku terlonjak kaget ketika suara guntur kembali menggelegar keras seklai……duaaar………..duaaaaaaaaar……..glenduuuuuung. Rasanya seluruh isi kamar mandi bergetar hebat, sampai pintu kamar mandi braaak…tertutup oleh tiupan angin. Aku segera meloncat gemetar dan takut, tubuh om Jonet aku tubruk, aku peluk erat sampai pakaiannya basah oleh cipratan air dalam gayung yg masih aku pegang. Untuk kedua kalinya, terpaksa tangan om Jonet kembali memeluk tubuhku yg gemetar ketakutan.
“Om……..Yuni taku banget.” Wajahku menengadah, bibirku gemetaran.
Dan tanpa sengaja wajah om Jonet yg sedang menunduk saling bertemu, bibirnya menyentuh keningku. Aku terus memeluk erat tubuh om Jonet, sementara dua telapak tangannya yg terasa hanget mengusap-usap punggungku. Rupanya om Jonet berusaha menenangkan aku.
“Dah Yun…….lepasin tanganmu, bajuku jadi basah Yun…..” Bujukkan om Jonet tdk bisa mengurangi rasa takut pada suara petir yg terus menerus menggelegar.
Rasanya aku aman dalam dekapannya yg hangat, terpaksa dua tanganku menjepit sepasang tangan kekar om Jonet. Rupanya om Jonet gelgapan karena aku tdk mau lepas dari pelukkannya.
“Om…….aku takut………takut banget sama petir…….om peluk Yuni ya…” Wajahku masih menengadah, bibir tambah gemetaran sampai gigiku gemeletuk menahan rasa takut.
Tp tanpa diduga, bibirku bertemu dgn bibir om Jonet yg rupanya mau bicara. Suara om Jonet gelagepan, manakala bibirnya aku gigit kuat-kuat. Perlahan rasa takutku mulai hilang, tp kali ini seperti ada perasaan aneh yg menyelimuti diriku. Rasanya bibirku tdk mau lepas dari bibirnya yg tertahan oleh gigitan gigiku. Bibirnya terasa hangat, aku tdk tahu perasaan apa yg melanda diriku. Yg kutahu sekarang aku sdh mulai tenang, rasa takutku sdh hilang. Dan rasa aneh terus menjalar manakal bibir om Jonet berberak-gerak mau lepas dari gigitanku.
Gigitanku mulai longgar, tp bibirku seperti tdk mau lepas dari bibir om Jonet yg terasa hangat. Sementara itu dua telapak tanganya yg hangat membelai suluruh punggungku naik-turun. Aaaah……..aku melengus pendek ketika tangannya turun sampai bagian pantatku. Belaian tangannya terasa nyaman sekali, aku sendiri tdk tahu perasaanku saat itu ketika tangan om Jonet masih meraba-raba bagian belakang tubuhku. Yg aku tahu hanya semakin memperketat pelukanku. Yg aku tahu hanya semakin erat bibirku menyentuh bibir om Jonet yg terasa mulai kenyal seperti makan permen karet. Sampai suara petir menghilang om Jonet memaksa lepas bibirnya dari gigitanku.
“Yun…….kamu sdh tenag………jangan takut……..Yun.” Dua tangannya memegang pipiku, matanya menatapku, seperti menyakinkan aku supaya tdk takut lagi.
“Yun………sekarang kamu teruskan mandi ya……..tuh…….tdk ada suara petir lagi.” Kemudian tubuhku didorong dgn halus, tp kali ini karena suasan masih gelap dua telapak tangannya tanpa disengaja seperti nyenggol bagian dadaku yg sdh membusung.
Kembali perasaan aneh muncul lagi, buah dadaku tdk sakit, tp seperti ada rasa aneh pada dua susuku. Telapak tangan om Jonet rasanya hangat, seperti ada rasa geli. Aku yg masih tdk tahu perasaan itu hanya diam dan mendesah panjang……aaaah……..oooh. Tp perasaan itu hanya sebentar. Aku seperti kecewa ketika om Jonet melepaskan telapak tangannya dari permukaan kulit susuku yg membulat.
“Yun…….lepasin dong tanganmu, bajuku basah……dingin banget Yun.” Mesti ada rasa kecewa, terpaksa aku melepaskan tanganku dari tubuhnya.
Aku masih berdiri kaku, yg aku lihat om Jonet sedang ngambil senter dilantai, lalu digantung pada paku yg menempel ditembok.
“Lho…..kok kamu beluh mandi, tuh ditubuhmu masih banyak sabun yg nempel.” Jari tangan om Jonet menunjuk tubuhku yg hanya tertutup oleh busa sabun.
Kemudian om Jonet melepas baju dan celana yg basah. Aku yg waktu itu masih lugu dan tdk tahu perasaan yg melanda, hanya diam mematung sambil melihat om Jonet melepaskan baju ditengah keremangan lampu senter. Yg aku lihat kini hanya celana dalam coklat yg masih nempel pada bagian bawah perut om Jonet. Dari balik celana dalam om Jonet seperti ada benda panjang yg nonjol dan bergerak-gerak. Aku yg masih lugu sama sekali tdk tahu.
Ketika segayung air menggujur tubuhku barulah aku sadar, tp aku seperti tdk dapat berbuat apa-apa. Angan-anganku seperti melayar, rasanya bibirku masih hangat oleh sentuhan bibirnya. Dan tiba-tiba aku kaget ketika dinginnya air berulang kali mengguyur tubuh, rasa dingin sekali seperti bongkahan es.
Sementara diluar hujan masih turun deras, kali ini tiupan angin sdh berhenti, tp masih terdengar suara guntur yg menggemuruh. Kembali rasa takut yg tadi hilang muncul lagi, aku seperti tdk memperdulikan rasa malu, ketika om Jonet menguyur-guyurkan air menghilangkan sisa-sisa busa sabun yg mesih menempel.
Dan ketika om Jonet menyiram bian tubuhnya yg bau pesing akibat sisa air kencing yg masih nepel, suara petir itu menggelegar sangat keras……duar………gleger……….der…….glendung. Aku terlonjang kaget, segera mendekap erat tubuh om Jonet yg masih telanjang dari arah belakang. Gayung yg masih penuh dgn air terlepas dari tangannya. Sepertinya om Jonet kaget, apa karena petir atau pelukanku yg mendadak itu. Terpaksa tangan om Jonet turun karena pelukan tanganku.
Lagi-lagi kejadian tiu tdk disengaja ketika telapak tangannya seperti menyenggil bagian bawah perutku, dan yg satunya lagi menyentuh permukaan kulit pahaku. Rasa takutku pada suara petir semakin menjadi-jadi, dan aku semakin erat, tambah kuat tanganku memeluk tubuh om Jonet dari belakang. Kemudian yg aku rasa om Jonet membalikkan tubuhnya saling berhadapan. Petir itulah yg membuatku tambah ketakutan, aku tdk berani melihat kilatan-kilatan cahaya petir lewat celah-celah atap.
Aku segera menyembunyikan wajah pada dadanya om Jonet yg masih telanjang. Gigiku saling menggigit menahan rasa sakit sampai berbunyi gemeletuk. Bibirku juga gemetaran, sepertinya rasa takut itu tdk mau hilang. Malam itu rasanya aku tersiksa oleh rasa takut, sedangkan hujan dan petir seakan tdk mau berhenti. Meski demikian rasa aneh muncul lagi, dada bidang om Jonet rasanya seperti bertambah hangat. Aku semakin betah dan semakin kuat menyembunyikan wajahku dan tanpa sadar gigiku mengigitnya keras-keras. Yg aku dengar suara mengaduh menahan rasa sakit.
“Aduh…..aduh…….Yun sakit banget……lepasin gigitanmu……..dadaku sakit.” Aku hanya bisa mengurangi gigitanku, gigiku sama bibirku seperti tdk mau lepas dari dadanya.
Seperti ada perasaan lain yg muncul dalam jiwaku. Yg aku rasakan dadanya om Jonet tdk hanya hangat, seperti benda kenyal yg masuk dalam mulutku. Kemudian om Jonet mengeluh panjang.
“Uuuuuuh………..sest……..ses.” Aku yg masih polos tdk tahu apa yg sedang dirasakannya.
Yg aku tahu mulutku seperti tdk mau lepas dari benda kenyal yg nempel didadanya. Suasana malam yg gelap diringi deru air hujan dan gemuruh petir, membuat aku dan om Jonet tambah larut pada perasaan aneh itu. Yg aku tahu rasa aneh itu seperti berubah menjadi rasa nyaman. Lambat namun pasti, tdk disengaja aku mulai merasakan nikmat mengigit, mengecup ujung dada om Jonet.
“Uuh……..set…….auh……om.” Hanya jeritan kecil yg aku dengar keluar dari mulut om Jonet.
Sementara dua tangannya yg hanya memeluk tubuhku kini mulai mengusap-usap punggungku. Bagian perutnya seperti menekan kuat dua susuku yg tambah mengkal. Ujung bulu perutnya seperti mengusap lembut ujung pentil susuku, sentuhan itu semakin kuat. Sepertinya ada perasaan lain pada diriku kutika ujung pentilku tergesek-gesek lembut. Tanpa aku sadari mulutku yg menempel erat pada ujung dadanya om Jonet mulai mengeluh.
“Eeh…….uuh……uuuuuuuh.” Hanya suara itu yg keluar dari mulutku yg mesih mengigit, melumat ujung pentil om Jonet.
Dan belaian tangan om Jonet semakin menjadi-jadi, rasanya bongkahan pantatku seperti diraba, kadang diremah halus. Rasanya ada seperti ada benda panjang yg bergerak-gerak menempel diperutku. Benda itu seperti keras tp lunak, sepertinya benda aneh itu rasanya semakin hangat. Aku dan om Jonet yg semakin terbuai perasaan itu hanya saling melenguh bergantian, kadang suara lenguhan itu terdengar besama-sama.
Kini rasa aneh itu berubah menjadi nikat, ketika tangan Om Jonet mulai merasa bongkahan dadaku, ada rasa geli diujung pentilku namun sebentar berubah nikmat. Dan jiwaku seperti melayg, wajahku menengadah dan bibirku bertemu dgn bibirnya. Ya….aku sekarang sdh mulai menikmati lagi lumatan bibir. Tanganku tdk lagi memeluk tubuhnya, tp sekarang sdh melingkar pada leher om Jonet. Aku semakin kuat menggelantung pada lehernya, aku semakin kuat manarik tubuhnya. Tubuh om Jonet yg tinggi akhirnya melengkung, membungkuk mengimbangi tubuhku yg hanya setinggi bahunya. Kembali suara lenguhan-lenguhan terdengar bersamaan.
Perasaan nikmat itu kian menjadi-jadi, tatkala sepasang susuku digenggam dan kadang diremas lembut. Pada sisi lain aku merasa benda aneh yg ada dibawah perutnya mulai keluar dari celana dalamnya yg melorot sendiri karena basah. Benda itu seperti tegak mengacung, rasanya menekan halus pada kulit perutku. Aku menjadi penasaran pada benda panjang itu, dan tanganku lepas dari leher om Jonet. Tp sekarang turun mencari-cari benda itu. Tanganku seperti bergerak sendiri, seperti punya mata. Dan aku kaget benda itu rasanya bulat dan besar, telapak tanganku seperti tdk mampu menggem semuanya.
“Aaaah………uuuuh………Yun……..Yuni.” Om Jonet mengeluh sampai bibirnya lepas dari lumatanku.
Namun aku masih penasaran, meski benda itu sdh aku genggam kuat-kuat. Benda itu rasanya keras tp kenyal, telapak tanganku sepertinya senang memegangnya.
“Oooh…….., Om……..,” Hanya suara itu yg keluar dari mulutku, ketika jari om Jonet mulai mengusap pentilku bergantian, kadang dipilit lembut.
Putingku yg dulu masik melesak, sekarang seperti sdh mencuat. Rasanya geli bercampur nikmat, ketika jari-jari om Jonet memilin dua pentil bersama-sama. Kami sdh tdk menghiraukan lagi suasana gelap dan hujan. Yg aku rasakan kini hanya nikmat yg melanda sekujur tubuhku.
Kini tanganku mulai terbiasa menggengam benda miliknya om Jonet. Jari tanganku menelusuri sepanjang benda itu, dan ujungnya bentuknya aneh. Ujung benda itu seperti beda dgn ujung benda milik anak laki-laki yg masih kecil. Aku sering melihat milik anak kecil, tp bentuk ujung masih lancip. Kok ujung benda milik om Jonet seperti….aku hanya bertanya-tanya dalam hati. Sulit aku menebaknya seperti apa, tp yg jelas beda banget sama punya anak laki-laki yg sering aku lihat. Aku hanya menggesek-gesek, kadang jariku seperti nyenggol lubang yg ada pada ujungnya.
“Uuuuh………set…….sesst…..Yun…….oooh.” Hanya itu yg terdengar dari mulut om Jonet disamping kanan telingaku.
Aku semakin heran rasa nikmat itu semakin menjalar sekujur tubuhku. Apalagi ketika kuping telingaku dilimat, kadang dijilat-jilat.
“Ooooooh………..om………oooooooooh.” Aku hanya mampu mendesah, mengeluh nikmat.
Tangan kirinya mulai merambat turun meraba perut, turun lagi meraba pahaku bergantian. Sementara tangan kanan om Jonet merengkuh punggungku dan bibirnya turun lagi pada leherku yg dikecup-kecup. Dan rasa nikmat itu semakin lama semakin panjang. Bagian bawah perutku seperti nikmat banget diraba-raba.
“Aaaaaah……..” Aku melenguh lagi, ketika jari-jari om Jonet membelai bulu-bulu yg mulai tumbuh pada bagian kelaminku.
“Uuuuuuuuh………….aaahkkkkk………seet.” Bibirku mendesis panjang, rasanya enak banget sentuhan tangan dan jari itu pada bagian meqiku, meski kadang bercampur rasa geli.
Aku yg sdh dibuai rasa nikmat, sama sekali tdk protes, aku semakin senang ketika meqiku diusap-usap. Kini dua telapak tanganku saling menggam benda itu, ya aku pernah dengar kalau ibu-ibu bilang pada anak lelakinya yg masih kecil kalau mau pipis. Ya…….aku mulai tahu namanya. Benda bulat panjang miliknya om Jonet namanya penis. Aku tambah gemes, aku remas kuat-kuat penisnya om Jonet.
“Aaaahhhhh…….ouuuukkhhhh……..Yun…….Yun………terusin……..trus……….trus…….trusiiiiiiiii………siiiiiiin, enak banget Yun.” Kali ini om Jonet semakin meracau tak karuan.
Dan tiba-tiba seperti ada hentakan nikmat ketika jari oh Jonet memasuki belahan meqiku.
“Ooom………ooooom………kok kayak gini……………ooooom Yuni enak banget………..trus………..trus………..truuuuuuuuuuus.” Aku mengeluh panjang, dada oh Jonet aku gigit kuat-kuat.
Dan dari dalam perut seperti ada yg meledak-ledak, entah perasaan apa itu, yg kutahui hanya nikmat berkepanjangan dari meqiku. Dan jari itu seperti menyentil ujung meqi ditengah-tengah. Biji kacangku ditengah belahan meqi rasanya geli campur nikmat.
“Ooooooooh………..sssset……enak……….nik………..nik……..mat…….om.” Om Jonet tambah semangat menyentil kadang memilin biji meqiku.
Akhirnya seperti ada yg mau keluar dari lobang meqiku.
“Mmmmpphhhhh………okh………………ooh………nikmat…………trus……….trussssss………aku………..mau………pipis……om” Aku menjerit nikmat ketika dari lobang meqiku seperti croott…….croott……..croott……croott………crooooooootttt……….sluuuuuuuuuur.
Yg aku rasakan air pipis kali ini rasanya lain, tdk seperti biasa. Seperti basah tp meqiku lengket, kali ini aku tdk tahu entah air pipih apa. Yg jelas setelah pipis badanku seperti lemas tdk bertenaga. Meqi sama bijinya masih terasa nikmat oleh sentuhan tangan om Jonet. Dan saking nikmatnya aku jatuh terduduk dilantai sambil berpenggangan erat pada lehernya, om Jonet ikutan ambruk menimpa tubuhku.
Rupanya malam yg gelap ini memberi pengalaman pertama bagiku. Malam ini aku merasakan nikmatnya sentuhan lelaki dewasa. Tubuhku yg tdk bertenaga lagi seperti melayg dan terus melayg. Malam gelap yg ditimpa badai, seakan menambah geloraku. Kini badai itu melanda seluruh tubuhku dan tubuh om Jonet yg tambah panas membara. Rasanya aku tdk ingin badai itu segera berakhir, kini rasa takut hilang berganti senang. Aku senang ditengah badai itu, gelombangnya seperti mengayun-ayun seluruh gelora yg ada dalam setiap sendi-sendi tubuhku. Setiap hempasannya aku nikmati dgn segenap tubuhku.
Aku tdk ingin rasa nikmat itu hilang, aku mau lagi. Rasa nikmat itu tambah panjang ketika tangan kekar om Jonet menggendong tubuhku. Dua tangannya yg kuat mengangkat tubuhku pada bagian punggung dan lutut. Tanganku melingkar pada lehernya, susuku yg sebelah kanan terhimpit dada bidangnya. Ditengah temaramnya sinar lampu senter, om Jonet mulai melangkah sambil menggendongku. Setiap kali melangkap, dadanya menggesek ujung pentilku yg kini menjadi tegang dan keras. Kini ujung pentilku seperti keluar dari bongkahan susu, sepertinya sdh tegak.
Penis om Jonet mengganjal bagian bawah pantatku, kadang menggesek lembut pada setiap langkahnya. Om Jonet sama sekali tdk merasakan beratnya tubuhku yg kini sdh melayg. Dan yg paling menggelitik perasaanku adalah manakala dari lobang meqi seperti ada denyutan kuat. Terlebih biji meqiku sekarang seperti mencuat mau keluar dari sarangnya. Titik itu rasanya enak banget menggesek-gesek belahan pantatku. Dan tubuh melayg, lalu jatuh terhempas, yg kutahu kini sdh ada diatas kasur dalam kamar tidurku. Tubuh kami saling menindih, kadang bergulingan dan ciuman om Jonet merambat turun disekujur tubuhku.
Setiap jengkat tdk ada yg terlewatkan, ujung jempol kakiku rasanya geli campur nilmat. Ketika aku membuka mata yg kulihat dikeremangan malam om Jonet sedang mengulum ujung jempol. Lalu betisku dicium dikecup, ujung kumisnya yg tipis itu menyapu setiap pori-pori. Yg aku mampu hanya mendesah dan mendesah berulang kali. Kulit pahaku yg putih mulus tdk lepas dari hisapan bibirnya. Lalu aku menjerit dan menjerit manakala bibir itu singgap pada gundukan meqiku.
“Aaaaaaaaah………….uuhhhh…………uhuk……….uhuk.” Aku melengus nikmat dan nikmat.
Bibirku kadang meringis menahan rasa nikmat, kadang aku gigit kuat-kuat. Setiap jengkal meqiku disapu bersih, lidah itu seperti menjulur-julur menelusuri belahan meqiku. Pahaku aku pentangkan lebar-lebar, dua tangaanya meraih bongkahan susuku dan diremas lembut. Aku hanya mampu meringis dan menggeleng, pantatku aku angkat tinggi-tinggi seakan memberikan seluruh bongkahan meqiku.

“Oooooooooooom…..om………om………..om………..sssssettt……….settttttttt, meqiku diapain kok nik…..nikm……………..aaaaaaaaat ba…..bang……ngeeeeet.” Aku terus meracau tak karuan. Dan akupun menjerit lagi, tatkala lidahnya yg tajam mengait ujung biji meqi. “Aduh……..aduh……….oahk……..ehek………..bijiku…………….bij………ji meqiku diapain.” Lidah itu seperti tambah ganap menjilat lobangku, kadang bibirnya menelan habis semua biji meqi.
Kumis itu rasanya geli sekali setiap menyapu belahan meqiku. Pentilku tambah keras, kadang diusap, kadang dipilin, dipencet. Sementara bongkahan susuku tambah mengkal setiap kali remasan itu datang. Demi mendengar lenguhan nikmatku, om Jonet semakin semangat menjilat, kadang menghisap tdk peduli jepitan pahaku pada kepalanya. Dua tanganku menekan keras-keras kepala om Jonet, aku seperti tdk rela bibir dan lidahnya lepas dari bongkahan meqiku.
Pahaku semakin kuat menjepit kepalanya yg jatuh terjerembab dalam kubangan meqiku. Aku biarkan bibir dan lidah om Jonet menikmati setiap jengkal meqiku. Aku biarkan biji meqi digigit lembut. Jilatannya membuat aku melayg, setiap ujung sarafku seperti mau melepaskan seluruh isinya.
“Auuuukhhhhh………Auuh…………..heegghhh……….egh……..” Biji meqiku meledah ditelan habis, lalu seperti ada yg mau keluar dari ujung meqiku yg paling dalam.
Nafasku tidar beraturan, seperti ada yg melonjak-lonjak dalam perutku. Dan lalu aku seperti ada yg mengalir deras dari lobang meqi….cret……..cret………..slur…………slur……………sleeeeeeer………crut.
Kembali air itu lepas dari dalam rongga meqiku…..aku tekan kuat-kuat………sleeeeeer……………….sllluuuuuuuuuuurrrrrrrrrrr. Perasaanku sepertinya sdh lega.
“Aku puas………nikmat………oommm oooh enaaaaak banget. Awaaaaaas aku ma……….mauuuuuu pipis.” Mulutnya melekat kuat pada lobang meqiku seperti tdk mau lepas.
Aku sdh tdk tahan dan air meqiku keluar membasahi mulut om Jonet. Namun lagi-lagi lidah itu seperti menyapu seloroh lobang meqiku yg sdh sangat basah, lidah itu terus menjilat-jilat setipa air meqiku tanpa sisa. Perasaanku ini sdh lega, jepitan pahaku sdh longgar. Aku angkat kuat-kuat kepala om Jonet…..lalu plop…..plop…….plok…….mulutnya lepas dari bibir meqiku.
“Ooom……maafin Yuni ya…….tadi ngencingi mulut om, maafin aku ya ooom.” Sekarang om Jonet merangkak diatas tubuhku. Tubuhku ditindih didekap erat.
“Yuni……….kamu jangan bilang seperti itu, oom seneng sekali sama air meqimu, rasanya gurih banget.”
“Itu kencing kan jijik om. Ih om Jonet air kencing kon dijilat, apa nggak jijik om.” Aku mencubit pinggangnya gemak.
“Aduh sakit…….sakit…….lepasin Yun, kok kamu nakal sih.” Om Jonet meringis kesakitan wajahnya yg ganteng keliatan tambah lucu.
“Abis om Jonet yg nakal duluan. Masak meqi Yuni dijilat-jilat, apa nggak bau.” Kembali tanganku membelai kepalanya dgn mesra.
“Bau meqimu enak banget, seger lagi.” Dari arah bawah titik om Jonet menggesek-gesek belahan meqiku yg mulai lebar.
Ujung titik itu sepertinya tajam sekali menyentuh, menekan biji meqiku.
“Om Jonet mulai ngawur lagi” Om Jonet diam saja, kini bongkahan susuku jadi sasaran empuk mulutnya. Susuku ditelan habis, ujung lidah itu kembali menjilat pentilku. Satu tangannya kadang yg kiri, kadang yg kanan meremas susuki bergantian. Gesekan bulu perutnya, menambah nikat. Aku hanya diam pasram menerima setiap kenikmatan dari om Jonet. Kenikmatan itu membuat aku lupa diri, sampai tdk menyadari titik om Jonet membuka belahan meqi perawanku. Berkali-kali ujung penis itu gagal, mungkin saking licinnya meqiku sering terpeleset. Yg aku rasakan penis itu tambah besar saja memenuhi belahan meqiku yg terbelah dua. Lobang meqiku berdenyut-denyut rasanya pengin menghisap kuat-kuat penis om Jonet. Tangan kiri menjang penis itu, aku tuntun menemukan lobang meqiku yg masih sempit.
“Oommm………masuk sini………” Penis itu menurut, ujungnya mulai masuk, tp lobang seperti tertusuk, seperti tersayat.
“Aduh……..adu………pelan-pelan………..perih……..sakit……….sakit banget.” Aku merintih-rintih, bibirku meringis menahan sakitnya tusukan titik. Om Jonet menurunkan pantatnya, ujung titik itu menekan masuk bles……bles…
“Sakit………perih banget………..uukh……ukhh…….meqiku sakit.” Aku menangis merasakan sakitnya diperawani penis gede.
Om Jonet menunduk bibirku dilumat-lumat bergantian dgn pentil susuku. Rasa nikmat kembali hadir dalam tubuhku, aku mulai melupakan rasa sakit pada lobang meqiku yg sdh robek. Dan penis itu meski perlahan masuk lagi bles……..berhenti, lalu……..bles…….diam lagi seakan memberi kesempatan pada meqiku menerima kehadiran penisnya yg keras dan besar lagi. Rasa sakit berangsur hilang, ada sedikit rasa nikmat yg datang dari denyutan penis itu. Dan setelah lobang meqiku tambah lebar, maka penis itu…….blus…….blus masuk lagi meski baru separoh.
“Ahk…….ahak……….ahak………uuuuuh, perih………….prih………nikmat.” Aku masih marasa ada rasa perih campur nikmat.
Kembali penis itu berdenyut-deyut supaya lobang meqiku tambah lebar. Om Jonet sabar sekali mempermainkan lobang meqiku yg masih perawan.
“Yun………meqimu………..akh…….enak.” Om Jonet menindih tubuhku, sementara penis diam lagi dalam lobang meqiku.
Kembali mulutnya melumat ujung pentilku yg makin gatel. Lumatan, gigitannya membuat aku tambah mabuk kepayg, aku sodorkan dua bongkahan susuku, aku biarkan om Jonet menyusu. Aku mulai seneng menyusui laki-laki. Om Jonet seperti anak kecil, dia rakus sekali menyusu padaku. Rasa perih dalam meqiku kini sdh hilang, lobangku semakin lebar. Meski baru separo penis om Jonet seakan memenuhi seluruh lobangku. Denyutan penisnya seperti mengaduk-aduk lobang meqiku. Aah, penis itu mulai menusuk lagi semakin dalam……bles…..bles……bles…….bleseeeek. Bret…….breeeeet, aku menjerit sakit.
“Auuuuuuuuuh…….ehek…….uh……uh…..ehek, sakit banget………..meqiku sakit banget. Om jahat banget……” Aku menangis merintih-rintih. Meqiku seperti mau sobek, meqiu seperti tertusuk sedalam-dalamnya.
Meqiku seperti mau pecah.
“Yun…………sakit……..ya, sebentar lagi hilang. Yuni………meqimu enak banget………” Om Jonet yg masih menindih tubuhku menghiburku, tangannya mengusap air mataku, lalu dikecup mesra keningku.
Kecupan pindah kemataku, pindah lagi kepipiku bergantian.
“Yun……makasih………..aku sayang banget sama kamu.” Penisnya yg sdh masuk semua diam kembali, aku mencoba kehadiran penis itu. Dan aku bisa, aku bisa menikmati hadirnya penis itu dalam meqiku. Tanganku memeluk erat-erat punggungnya.
“Om……..om sayang nggak sama Yuni.”
“Ya jelas dong……..om sayang banget sama kamu Yun, apalagi perawanmu sdh aku ambil.”
“Om………sekarang Yuni sdh tdk perawan lagi. Om…….mau tanggung jawab sama aku ya.” Aku terus merajuk-rajuk.
“Yun kamu tdk menyesal aku perawani.” Aku hanya menggeleng. “Kamu ikhlas, peranwanmu aku ambil” aku hanya mengangguk setuju. Om Jonet memelukku erat banget sambil berbisik “Kamu mau aku tanggungjawab kayak apa Yun.”
Matanya metatap wajahku, aku membalas tatapannya yg seperti meyakinkan aku.
“Yuni penging om bertanggung jawab sebagai suami.” Mendengar jawabanku om Jonet hanya mengangguk setuju.

“Ya……….Yuni, aku tanggung jawab.” Sebagai balasannya aku semakin memperketat pelukan.
Sekarang batinku sdh tenang. Rasa sakit dalam meqiku sdh hilang, aku tambah sayang.
“Mas…….ambillah tubuhku………nikmati meqiku, pelan-pelan ya……….”
Mas Jonet mulai lagi menusuk-nusuk meqiku. Meski pelan-pelan rasanya nikmat sekali. Tusukan penisnya tambah mantap sampai aku merem melek merasakan nikmat. Meqimu terus berdenyut setiap kali menerima tusuk penis itu, aku hisap kuat-kuat, bibirmu meqiku seakan-akan menggigit setiap jengkal botong penisnya.
“Yun meqimu……….Yun………….meqimu buat aku. Yuuuuunnniiiiiii nikmattt banget…..”
Kini meqiku sdh terbiasa menerima tusukan penis, tambah lebar saja, air pejuhku makin deras mengalir memperlancar tusukan penis itu keluar masuk semakin lancar.
“Uh……..ah………uh……..aaaah…………terus mas………….trrrus………..yg kenceng mas.” Penis itu terus menusuk-nusuk meqiku. Batangnya menggesek-gesek ujung itil yg ikut-ikutan keluar dari sarangnya.
Tanganku berpegangan erat-erat meremas sprei kasur, menahan nikmat derasnya tusukan demi tusukan penis mas Jonet. Aku pejamkan mataku kuat-kuat menahan nikmat penis mas Jonet dimeqiku yg sdh banjir. Sementara dari atas tubuhku, nampak mas Jonet semakin semangat memompa penisnya keluar-masuk dalam meqiku. Bibirnya menyeringai menahan nikmat setiap kali meqiku berdenyut-denyut.
“Yuni…….Yuni………oooooh……Yun……….kamu enak banget. mee………..mee………meqimuooooh………uuuuh enak banget. It……..it……i……i….iiitiiiilmuuuuuuuu aahk Yun.” Mas Jonet terus mendesak nikmat.
Aku balas tusukkan penisnya, kadang dua kakiku yg melingkar dipinggang aku tahan. Penis mas Jonet amblas semua dalam meqiku, aku hisap kuat-kuat dgn denyutan bibir meqiku yg sdh sangat merekah. Penis besar terasa mengganjal sekali, lobang seperti penuh terisi oleh batang penisnya yg besar dan panjang. Dari dalam lobang meqi, ujung penis itu aku kait-kati sama unjung meqiku yg paling dalam. Sementara keringatnya keluar menetes-netes, aku dan mas Jonet terengah-engah mengejar kanikmatan birahi.
“Mas…….oooh………mas……..enak banget………kon……..ko……ntolmu panjang banget.”
“Yun……..lobang meqimu……………..uuuuuhkkuakh………sempit banget……….njepit banget.”
“Mas…………tusuk……….gen……..jot……..aku…….akk…….uuuuu mau keluar, trus…………yg banter……..genjot………….mas……………meqikku…………….kellll……………..kluar………..akh…..ahak……uuuuh……” Dari tubang meqiku seperti ada yg mengalir deras…….terasa seperti cret…….cret….cret..cret……….creeeeeeeeeeeeetttttttttttt. “Aaaaaaaaaaakh aku keluar mas.” Meqiku berdenyut-denyut kuat sekali.
“Yun………ta……….aku tdk tahan……oukh………aaahkkkk.”
Tubuh mas Jonet ambruk menimpaku. Dan dari dalam lubang penis menyembur air banyak sekali, sler…….slerrrrr……..sleerrrr…..creeettt….creeettt…….creeettt…..creeeeeeettt. Air pejuh itu aku hisap kuat-kuat, aku telan semuanya masuk dalam rahimku sedalam-dalamnya. Aku simpan air pejuh itu agar bercampur dgn benihku sendiri. Rasa nikmat sekali pertama kali meqiku waktu pertama kali minum pejuh yg kental dan hangat sekali. Akhirnya tuntas sdh kenikmatan persetubuhannku yg pertama kali. Aku coba lihat meqiku sendiri, ternyata sdh bengkak, ada tetesan darah perawanku. Rasanya meqimu seperti njador banget.

Kamis, 27 Oktober 2016

CINTA TERLARANG SEPUPU