Jumat, 27 Mei 2016

Gadis Perawan cuma berbalut handuk putihnya

Gadis Perawan cuma berbalut handuk putihnya Cerita Dewasa  “ Capek sekali tubuhku hari ini, sepanjang hari ini sangat banyak pekerjaan yang kuselesaikan, walau belum kelar semuanya rasa-rasanya senang juga melakukan aktivitas hari ini. Sore itu jam telah nyaris 1/2 enam sore, sesudah membereskan berkas-berkas di ruang saya siap pulang ke tempat tinggal, mobil Escudo hitamku telah siap ditempat parkir mengantarku pulang. 
Gadis Perawan Yang Sangat Cantik Untuk Jadi Karyawati Pabrik 


Kulihat jalanan di depan kantor tidak macet, nyatanya perkiraanku salah, lebih kurang 2 km dari kantor, jalanan macet keseluruhan, yah sudahlah nikmati saja dari pada menggerutu juga tidak bakal ngurangin macet. Kaca mobil kututup kunyalakan AC serta kuputar siaran radio di mobil, mencarinya channel tidak ada yang bagus, pada akhirnya ketemu channel musik slowrock, wah asik juga dari pada bengong. 
Tempat kantorku kebetulan deket dengan deretan pabrik-pabrik, serta jam segitu rupanya macet angkutan umum yang mencari penumpang, mendadak ditengah kemacetan jalanan kulihat didepan satu toko ada seseorang wanita yang manis sekali, kulitnya putih, tingginya sekitaran 165 cm dengan memakai seragam pabrik biru-biru ditutup blazer hitam terbuka yang terlihat ketat tampak dadanya demikian menyesakkan pakaian seragamnya, untuk ukuran karyawan pabrik, cewek itu sangat cantik, walau pakaiannya demikian simpel tak sepadan dengan kecantikannya. 
Kuperhatikan dengan cermat, dia terlihat memandangku serta tersenyum tidak tebal menatapku, akupun tersenyum memandangnya, mendadak saya dikejutkan nada klakson mobil dibelakangku, cepat-cepat kutancap mobilku berhubung jalan didepan telah lancar sekitaran 30 mtr. ke depan. 
Menyesal sekali saya tak dapat berhenti saat itu, kulihat di spion wanita itu naik angkot di tiga mobil dibelakangku.. Kalau saja? 
Sekira 200 mtr. jalan lancer, mendadak kemacetan datang lagi, semakin sumpek saja saya, pada akhirnya kulihat didepan ada toko kecil dengan tempat parkir yang agak luas, pada akhirnya lampu sent mobil kunyalakan kekiri serta saya berhenti, walau masihlah ada rokok, kuniatkan beli lagi sembari beli minuman enteng, sembari mengharapkan wanita di angkot belakang dapat ketahuan lagi jejaknya. 
Alamak.. Sembari minum teh botol dingin, mendadak saja angkot dibelakang yang membawa wanita itu berhenti, saya mengharapkan.. Mendadak benar saja wanita itu turun lalu membayar biaya ke sopir di depan. 
Wah memanglah benar bila telah jodohku nih.. Kulihat wanita itu masuk juga kedalam toko, sembari tersenyum tidak tebal dia menuju ke penjual toko itu serta kulihat beli lima buah indomie, susu dancow serta kopi instant lima sachet. 
 œLho tempat tinggalnya di mana Mbak?   tanyaku sembari tersenyum. 
 œOh saya kos dibelakang toko ini, Mas,   jawabnya sembari mencari dompet dari dalam tasnya. 
 œNama saya Adi, bisa kenalan Mbak?   tanyaku sembari menjulurkan tangan buat bersalaman. 
 œSaya Wati, Mas,   jawabnya sembari senyum serta menjabat tanganku.. 
Busyet tangannya mulus sekali serta hangat sekali agak berkeringat. 
 œBerapa Mbak?   kata Wati pada penjual toko sembari keluarkan dompetnya. 
 œDua puluh sembilan ribu limaratus Mbak  œjawab penjual toko itu. 
 œIni saja Mbak, sekalian teh botol satu serta rokok dua bungkus  kataku sembari ngeluarin duit seratus ribu ke wanita penjaga toko. 
 œNggak usah Mas, saya ada kok  kata Wati sembari ngeluarin dualembar duit duapuluh beberapa ribu. 
 œYa telah gini saja, duit ini bawa dahulu, namun saya minta dibikinin kopi dahulu, sekalian bila bisa main ke kos-mu sembari nunggu macet, bisa tidak?   Kataku sembari ngembaliin uangnya. 
 œBaiklah bila demikian terima kasih, namun tempatnya buruk lho Mas, kata Wati sembari tersenyum. 
 œAh janganlah gitu, saya jadi tidak enak nih ngrepotin minta kopi segala  Kataku sembari terima kembalian dari penjaga toko. 
 œMbak, saya titip mobil ya, sekalian ini buat parkirnya,   sembari kukasih wanita penjaga toko duit limaribu  
 œWah terima kasih ya Mas  kata penjaga toko. 
Wati tersenyum serta mengajakku jalan di gang samping toko itu, jalannya kecil hanya satu mtr. lebarnya, jadi bila jalan tidak dapat bareng, mesti satu-satu, Wati jalan di depan serta saya dibelakangnya. 
Kuperhatikan terkecuali dadanya yang membusung, nyatanya pinggul serta pantat Wati betul-betul montok habis, beberapa hingga rok yang dipakainyapun membungkus ketat pantat indah itu cocok sekali dengan pinggul yang ramping, ditambah bau badannya yang wangi walau kutahu itu bau minyak wangi umum. 
Kurang lebih duapuluh mtr. jalan, Wati berhenti serta buka pagar besi kecil disebuah tempat tinggal tanpa ada halaman serta nyatanya didalamnya berjajar kamar-kamar kontrakan dengan pembatas tembok satu mtr. antar kamarnya. 
 œDisini Mas, kamarku paling ujung, dekat dengan kamar mandi, silakan masuk dahulu Mas, saya ingin panasin air sebentar buat buat kopi  kata Wati nerocos. 
Kamarnya nyatanya cukup bersih, di ruangan tamu ada karpet biru, meja kecil ditengahnya serta diujung TV 14 inch terpasang rapi ditambah hiasan manik-manik yang bagus, tidak pernah kulihat kamar tidurnya, namun lihat ruangan tamunya teratur rapi saya meyakini kamar tidurnya tentu bersih juga. 
Kuambil remote TV serta kunyalakan, cocok berita sore, kuikuti perubahan pencalonan presiden dari beberapa politikus negeri ini, namun saya lebih tertarik lihat photo dibelakangku nyatanya photo Wati memakai kebaya serta samping, cantik sekali.. Tak dandan saja dia cantik, terlebih dalam photo itu belahan dada kebaya agak rendah, hingga sembulan payudara putihnya terlihat seksi serta erotis sekali. 
 œItu fotoku saat di kampung bln. lantas Mas, saat acara kawinan sepupuku  kata Wati sembari membawa dua gelas kopi. 
 œMemangnya kampungmu di mana? Serta lagi jadi apa saat acara itu?   Tanyaku sembari menolong nurunin gelas kopi di taruh di meja. 
 œKampungku di Cianjur Mas, saat itu saya kebagian ngisi nari Jaipongan, yah gini-gini saya penari Jaipongan Mas, walau cuma hanya acara di kampung aja  Kata Wati sembari tersenyum manis. 
 œPantesan namun cantik juga anda pakaian kebaya ya, lebih sensual serta menarik  Kataku sembari melihat muka cantiknya. 
 œPantesan apa Mas? Masak orang kampung gini dibilangin sensual serta menarik  Kata Wati. 
 œPantesan badan anda bagus serta tertangani itu lantaran rajin jaipongan ya  
 œAh Mas, dapat saja,   tuturnya sembari mencubit tanganku. 
 œSilahkan Mas diminum kopinya, saya tinggal sebentar ya ingin mandi dahulu, telah gerah banget nih rasanya  
Wati masuk kedalam kamarnya serta mengambil peralatan mandi, letak kamar mandi kontrakan itu ada diluar namun masihlah dekat dengan kamar Wati mungkin saja hanya sekitaran 4 mtr. saja dari pintu kamarnya. 
 œTunggu sebentar ya Mas, silahkan diminum kopinya  Wati jalan dengan berkalungkan handuk putih dipundaknya, sesaat rambutnya diikat ke belakang, tampak cantik serta alami sekali.Sekitaran sepuluh menit Wati didalam kamar mandi, kudengar nada,  ˜waduh bagaimana nih pakaiannya basah gini,  ™ pada akhirnya saya mendekat kamar mandi serta berteriak. 
 œAda apa Ti? Ada yang dapat saya santu?  kataku sedikit kuatir serta heran. 
 œNggak apa-apa kok Mas, bajuku pada jatuh serta basah, Mas apa di luar ada orang lain?  Bertanya Wati sembari teriak. 
 œNtar saya saksikan dahulu, ke pintu depan kataku sembari jalan ke pagar serta gang kecil menuju tempat tinggalnya. 
 œNggak ada siapa-siapa Kataku sembari mendekat ke pintu kamar mandi. 
Mendadak pintu kamar mandi terbuka serta kulihat Wati cuma berbalut handuk putihnya, kulihat pundaknya putih sekali, sesaat payudaranya yang montok sedikit menyembul serta pahanya yang putih serta mulus sekali tampak tertutup handuk kurang lebih 20 cm di atas lututnya, wah saya jadi kaget sekali serta mendadak Wati menengok dari belakang pintu serta lari menuju kamarnya. 
 œSorry ya Mas, bajuku pada basah semuanya, saya ubah pakaian dahulu ya,  kata Wati sembari lari dengan badan mulus terbalut handuk. 
Lihat panorama yang menggairahkan itu, menyebabkan otot dalam celanaku berdenyut-denyut, serta sedikit mengembang,  ˜gile bener, badannya montok bener ™. Kataku dalam hati, sembari masuk ke kontrakannya serta melihat-lihat lagi photo sensualnya. 
 œMaaf ya Mas, sesungguhnya saya malu tadi,  kata Wati sembari duduk di sampingku, Wati sore itu menggunakan kaos kuning serta bawahan celana strit hitam ketat hanya lutut, tetapi kaos panjangnya menutupi sisi bawah hingga 10 cm di atas lutut. 
Malam itu kita cuma bercakap saja hingga jam delapan malam, dari percakapan itu kutahu bila Wati telah nyaris satu tahun bekerja, pernah kuliah D-1 sisi Sekretaris serta saat ini bekerja dibagian administrasi keuangan satu pabrik, serta kutahu kalau Wati telah miliki pacar di kampungnya, tetapi orangtuanya kurang sepakat. 
 œJangan kapok main ya Mas,  kata Wati mengharapkan. 
 œJustru saya yang mengharapkan bisa main ke sini lagi bila anda tidak keberatan,  kataku sembari menggunakan sepatu, sembari jalan pulang kuberikan kartu namaku. 
 œKalau ada apa-apa telpon saja,  kataku sembari bersalaman, perlahan-lahan kuremas tangan halusnya serta Wati terlihat malu serta tertunduk. 
 œDaah saya pamitan serta Wati mengantarkan saya hingga ke tempat parkir. 
Sesudah perjumpaan itu, lebih kurang dua bln., kami cuma bersahabat saja, bahkan juga Wati menyebutkan kekaguman lantaran saya tidak pernah melakukan tindakan tak sopan, walau kami kerap pulang hingga jam 10 malam, paling cuma berpegangan tangan saja, entahlah mungkin saja makin lama dia mulai sayang, walau telah kuceritakan kalau saya telah beristri serta miliki seseorang anak. Sampai satu hari, saya masihlah ingat itu hari Rabu, dia menelpon ke HP-ku, 
 œMas, saya ingin bercakap dapat tidak, sore ini jemput saya ya?  kata Wati di telephone. 
 œOke, emangnya ada apa?  Tanyaku. 
 œYah pokoknya kelak saja deh, saya ingin narasi, telah dahulu ya, hingga kelak ditempat umumnya,  Wati tutup telponnya. 
Pas jam 16. 30 saya meninggalkan kantor, kulihat dari terlalu jauh Wati telah menanti serta sedikit melambaikan tangan kegirangan. Wati masuk ke mobilku serta tersenyum. 
 œMas, kita janganlah pulang dahulu ya, saya ingin narasi banyak serta menentramkan hatiku,  kata Wati sembari menatapku. 
 œOke, kita berjalan-jalan ke Ciater saja ya, di sana kita dapat berendam air panas sembari bercakap,  ajakku sembari terpikir ada kolam renang yang memanglah cukup nyaman untuk berendam pada malam hari. 
 œOke, sepertinya asik juga tuh,  Kata Wati mengiyakan. 
Saya menelepon ke tempat tinggal, serta katakan ada pekerjaan di kantor yang perlu dikerjakan, bila ada apa-apa ngebel saja ke kantor, kebetulan saya telah setting teleponku tiga kali kring di-forwardkan ke HP-ku. 
 œKamu ada permasalahan apa, kok terlihat kusut demikian?  kataku sembari mencubit dagu Wati. 
 œNggak tahu mengapa saya ingin narasi masalahku ke Mas, sepertinya saya tenang bila telah ada di sampingmu Mas,  kata Wati sembari memegang lenganku. 
Posisi mobilku memanglah agak sulit untuk berdekatan, sampai pada akhirnya Wati cuma dapat memegang lenganku saja. Sembari sedikit berkaca-kaca, Wati bercerita kalau pacarnya di kampung telah mengambil keputusan jalinan dengannya. Sepanjang di perjalanan saya banyak kasih saran serta pengertian padanya, serta diapun terlihat lebih tenang. Hingga di Ayam Goreng Brebes, Lembang saya memarkirkan mobilku. 
 œKita makan dahulu yuk,  ajakku. 
Berhubung tempat parkirnya penuh, saya agak jauh memarkir mobilku, serta baru kesempatan ini Wati berani jalan disampingku sembari memeluk pinggangku, akupun pada akhirnya merapatkan badan serta memeluk pundaknya sembari menuju ke tempat makan. 
Menuju ke Ciater, diperjalanan Wati memandangku selalu serta mendadak saja bibirnya mengecup pipiku, saya agak gugup tetapi nikmati juga, sembari sesekali kuremas tangan halusnya. Wah ingin tidak mau banyak rangsangan sepanjang perjalanan mulai memengaruhi adrenalinku juga. Serta sesampai di Ciater nyatanya suasananya hujan agak deras, jam telah tunjukkan jam delapan malam, berendam di kolam renang rasa-rasanya tidak mungkin saja, pulang juga telah telanjur, pada akhirnya kutawarkan ke Wati. 
 œGimana bila kita berendamnya di kamar saja?  
Saya agak cemas dia keberatan, namun tuturnya,  œYa terserah Mas aja kata Wati. 
Di front room hotel, saya booking satu kamar yang ada bathtub buat berendam air panas, didepan meja frontroom Wati masihlah memeluk pinggangku, kesempatan ini merasa kelembutan dadanya menyentuh tubuhku, serta ini ingin tidak mau punya pengaruh pada otot pejal di dalam celana dalamku. 
Malam itu Ciater dingin banget, kabut turun tidak tipis banget sesudah hujan, sampai perjalanan menuju ke kamarpun mesti perlahan-lahan, petugas hotel telah menanti di depan kamar serta membukakan pintu kamar.Silahkan Pak, silakan Bu, apa ada yg dipesan?  kata Pegawai hotel ramah, mengira kami pasangan suami istri. 
 œSementara belum Mas, kelak saja jika butuh aku telephone dari kamar,  kataku sambil berikan sedikit petunjuk untuk Pegawai hotel. 
Wati masuk ke kamar & saya masihlah duduk di area Televisi, sambil mencari-cari chanel yg keren, sambil melepas penat dua jam lebih di belakang kemudi. Tiba-tiba Wati ke luar dari kamar, alamak Wati telah berganti pakaian bersama celana pendek pink ketat & kaos senam ketat putih polos pendek sampai tampak pusarnya, kulihat bayangan puting payudaranya yg kecoklatan, tidak dengan dibungkus beha, pahanya putih & mulus menantang, sementara pantatnya yg bahenol tercetak ketat di celananya & dadanya memang lah montok menantang. 
 œAyo Mas, menurutnya ingin berendam? Janganlah liatin gitu dong,  Kata Wati sambil duduk disampingku. 
 œOke, namun saya nggak bawa pakaian berendam nih,  kataku sambil mengakses pakaian kerjaku, saya yg telah tak kuat menyaksikan pemandangan yg memancing birahi itu. 
 œMas, badanmu kekar pula ya,  œkata Wati sambil memeluk lenganku dari samping, terasa payudara montoknya melekat erat di lenganku. 
Perlahan kuusap paha putih Wati & tiba-tiba Wati berdiri & duduk di pangkuanku, hasilnya badan montok itu kupeluk sambil kuangkat kakinya kuletakkan pahanya yg putih, mulus & hangat itu di atas pangkuanku. Perlahan Wati menatap mataku, selanjutnya memelukku erat sekali, terasa sekali kekenyalan payudara montoknya, walau terhalang kaos slim yg dipakainya, lumayan lama Wati menyembunyikan wajahnya di bahuku, seterusnya dirinya bicara lirih. 
 œMas, saya sayang anda, saya takut kehilangan anda Mas,  kubelai perlahan rambutnya, kurenggangkan pelukannya & kutatap mata Wati, dalam hitungan detik, bibir kami saling melumat mula-mula agak perlahan, sambil kunikmati kelembutan bibirnya, pass lama kami beratraksi bersama bibir kami & semakin lama pagutan & ciumannya semakin buas, & kamipun saling melumat bibir. 
Perlahan ciuman kami agak melemah, lembut kuciumi lehernya, belakang telinga & pundaknya, kukecup lembut tidak dengan nada, tangan kananku mendarat perlahan di dadanya, demikian padat, kenyal & kencang, sementara tangan kiriku pelahan mengangkat kaos ketatnya. Wati menengadahkan wajahnya & membusungkan dadanya sambil mengangkat tangannya, & langsung kulepas kaos ketatnya, betul-betul keindahan payudara satu orang perempuan yg kulihat didepanku, kulitnya yg putih bersih tidak dengan cacat, ditambah sepasang payudara yg montok, padat & menantang, perlahan kujelajahi & kusapu lembut gunung indah nan menantang itu, & perlahan kuusap putingnya yg menonjol keras kecoklatan, bisa saja dirinya telah terangsang. 
 œMas, pantatku kayak ada yg mengganjal nih, di buka celananya ya Mas, agar nggak sakit,  kata Wati. 
Saya berdiri & Wati mengakses reslutingku, melepas ikat pinggangku & menurunkan celanaku. 
 œApa itu Mas?  kata Wati sambil menutup matanya dgn jari yg tetap terbuka. 
Otot pejalku yg telah membesar & mengeras sekali, tercetak terang terhadap celana pendek katun yg ketat, perlahan kutarik tangan Wati, kutempelkan tangannya menyusuri bonggol keras dari luar celana pendekku, perlahan & lama-lama Wati berinisiatif meremas kontolku dari luar celana pendekku. 
Kubiarkan Wati mengelus dgn jemarinya & sesekali meremas, kadang pelan kadang agak kuat, mungkin saja dirinya sejak mulai menikmati mainan barunya, sementara kunikmati falsafah kenikmatan, sambil kulihat ekspresinya. 
 œGimana Ti?  kataku sambil menatap matanya. 
 œMas, saya belum sempat lakukan seperti ini, tadinya malu sekali saya melihatnya, nyatanya kemaluan laki-laki mampu se gede ini ya?  menurutnya sambil tersipu. 
 œKalau anda ingin, anda boleh buka celanaku  kataku. 
Perlahan tangan halus itu menurunkan celana pendekku & tiba-tiba kontolku yg telah tegak & berdiri keras seolah miniatur tugu monas, Wati menatap tidak berkedip menyaksikan kemaluanku, pelan jarinya mengelus batangku yg tegang seperti kayu, urat-urat yg menonjol beliau telusuri perlahan, alamak nikmat sekali, & garis urat di tengah-tengah sektor belakang ditelusurinya perlahan, kontolku berkedut-kedut & tiba-tiba diremasnya kantong pelirku, sungguh kenikmatan yg luar biasa. 
Kutarik Wati utk berdiri, kebelai pinggul indahnya, berputar kebelakang meremas bongkahan pantatnya yg bahenol, kupeluk & kuusap erat punggungnya, perlahan kukecup lehernya, belakang telinganya & pundaknya, kulihat & kurasakan kulitnya merinding, Wati mempererat pelukannya & menempelkan ketat dadanya yg padat membusung ke dadaku, paduan antara kehangatan & falsafah birahi yg mengalir melalui kulitnya. 
Wati yg cuma tinggal menggunakan celana dalam tidak tebal warna pink, menggoyangkan & menempelkan ketat kemaluanku yg telah tegang membesar ke daerah bukit venusnya, walaupun masihlah terpisahkan celana dalamnya, tapi kurasakan ada kelembaban dari balik celana dalamnya. Kulihat mata sendu Wati menikmati foreplay yg panjang tengah malam itu, terlihat beliau telah terangsang sekali, dari sorotan matanya & pelupuk matanya yg agak sembab, pun payudaranya yg kencang menantang bersama puting yg mengeras. 
Kuraba celana dalamnya & kuturunkan, Wati menolong menurunkan celana dalamnya & melempar bersama ujung kakinya, sambil kucium & kulumat bibir seksinya, kujamah & kuremas payudara montoknya, & pula merta kuangkat badan telanjang nan mulus itu ke kamar & kutidurkan di atas kasur bersprei putih bersih. 
Sambil masihlah menciuminya, saya tidur merapatkan ke tubuhnya, kaki kuangkat & kegesek-gesekkan di atas paha putihnya, sementara tanganku kembali meremas dadanya yg kian montok & menggunung dgn puting susunya yg menonjol mungil kecoklatan. Perlahan saya turun menciumi lehernya & memutar-mutarkan lidahku ke gunung kembarnya bergantian, kusapu sampai basah dgn menyisakan puting, kepada sektor akhir kelak, sementara tanganku menjelajah ke pangkal pahanya, menyibak rambut kemaluannya yg halus menghitam itu, kuusap bibir vaginanya & Wati menggelinjangkan pinggulnya. 
Kuperhatikan Wati memejamkan matanya menikmati sentuhan & rangsangan yg kuberikan, sementara tidak dengan sadar kontolku yg tegak & keras, diremasnya perlahan & kadang menguat disaat rangsangan datang menguat. Kumainkan ujung jariku menyapu bibir vaginanya yg telah membasah & kusapu pelan belahan lubang vaginanya yg membasah, sambil kujilati putingnya dgn ujung lidahku bersamaan kuputar perlahan kelentitnya bersama ujung jari telunjukku, 
seirama antara jilatan lidahku di ujung putingnya & usapan ujung jari telunjukku di ujung kelentitnya, pun merta Wati menggoyangkan pantat & pinggulnya, menggeleparkan & mengakses lebar pahanya & membusungkan dadanya sampai nampak merangsang sekali, sambil menutup matanya dgn bibir yg membasah & sedikit terbuka, sementara tangannya menggenggam erat sekali kemaluanku yg tetap mengeras & berdenyut-denyut. 
 œUuff mmaas, kau apakan tubuhku ini,  mulut Wati mengerang menahan kenikmatan. 
Tubuhnya menggelinjang keras sekali, pahanya bergetar hebat & kadang menjepit tanganku bersama erat ketika jariku masihlah menyentuh kelentitnya, & tiba-tiba kontolku dicengkeram bersama keras seolah menggandeng utk menikmati orgasmenya dalam foreplay itu. 
Kuremas dgn irama perlahan payudaranya yg tambah mengeras & membusung itu bersama tangan kiriku, sementara tangan kananku terjepit diantara ke-2 paha mulusnya, kemaluanku diremasnya & tangan satunya memelukku erat sementara paha & kakinya menggelepar keras sekali sampai sprei putih itu berserakan tidak karuan, orgasme mula-mula telah dirasakannya. 
Tidak Dengan mogok kumainkan pelan tidak dengan henti kelentitnya, & barangkali waktu ini Wati telah terangsang kembali. 
 œMas, tolong masukkan, saya mau merasakannya sayang,  tuturnya sambil menghiba & meringis menahan kenikmatan tak ada tara yg dirasakannya. 
Perlahan saya menaiki tubuhnya, pahaku menempel erat dipahanya yg mengangkang & kepala kontolku menempel di kelentitnya menukar ujung jari telunjukku. 
Sambil kuciumi leher putihnya, pundak & belakang telinganya, kepala kontolku bergerak-gerak mengelilingi bibir memeknya yg hangat & basah, kulihat Wati merem melek menikmati benda pejal di bibir memeknya, lidahnya menyapu bibirnya sampai membasah, & wajahnya memerah dgn mata merem melek tidak beraturan. Bersama perlahan hasilnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, waktu kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret & sangat susah, kulihat Wati sedikit meringis & mengakses mulutnya & sedikit menjerit. 
 œAah,  
Tetapi hasilnya kepala kontolku telah mulai sejak masuk & mulai sejak kurasakan kehangatan vaginanya, perlahan kumasukkan sesenti demi sesenti, kepada lebih kurang cm ke 4 menuju ke 5, Wati tiba-tiba berteriak & menjerit. 
 œAduh Mas sakit sekali,  menurutnya,  œSeperti ada yg menusuk & nyerinya hingga ke perut,  tuturnya. 
 œAku cabut aja ya?  
 œJangan, biarkan lalu kutahan rasa sakit ini,  
Saya yg telah merasa kenikmatan yg luar biasa & sedikit demi sedikit mulai sejak kumasukkan lagi batang kontolku. Kulihat Wati meneteskan air mata, tapi tiba-tiba dirinya menggoyangkan pantatnya & pastinya hasilnya kontolku nyaris semua masuk, kenikmatan yg belum sempat kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yg kenyal, hangat, agak lembab & nikmat sekali. 
Hasilnya kamipun mulai sejak menikmati pertalian tubuh ini. 
 œMas rasa sakitnya telah agak menyusut, saat ini ke luar masukkan kontolmu Mas, rasanya nikmat sekali  
Perlahan saya sejak mulai mengayun batang kontolku ke luar masuk ke vagina Wati, kulihat tangannya diangkat & memegang erat-erat kepalanya & hasilnya menarik sprei ruangan tidurnya, sementara pahanya dirinya kangkangin lebar-lebar & mencari-cari pinggulku, sampai hasilnya kakinya melingkar di pantatku & seolah meminta kontolku buat dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya. 
Sekian Banyak kali ayunan, hasilnya saya agak percaya beliau telah tak demikian merasakan sakit di vaginanya, & kupercepat ayunan kontolku di vaginanya. Wati berteriak-teriak & tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng & tangannya menarik kuat-kuat sprei lokasi tidurnya, bisa jadi ia ingin orgasme, pikirku. Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat & kakinya semakin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besar nya tergencet dadaku, rasanya hangat & kenyal sekali, saya diam sejenak & kubenamkan kontolku seluruh di dalam vaginanya. 
 œOh, mmas saya ke luar.. Ahh.. Ahh.. Ahh,  
Saya merasakan nikmat yg teramat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya falsafah darah mengalir kencang di kontolku, & saya percaya kontolku teramat tegang sekali & demikian membesar di dalam vagina Wati, sepertimya saya serta dapat mengeluarkan air kejantananku. 
Sekian Banyak disaat selanjutnya, kubuka sedikit jepitan kaki Wati dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Wati, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Wati, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, & hasilnya dgn langsung saya kayuh kontolku ke luar masuk dari vagina Wati, nikmat sekali rasanya. Ada bisa saja delapan hingga sembilan kayuhan kontolku di vagina Wati, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yg dapat meledak dari dalam kontolku & hasilnya.. 
Croot.. Croot.. Croot.. Croot.. 
Vaginanya berdenyut-denyut menikmati falsafah maniku yg hangat, sementara kurasakan batangku masihlah berdenyut-denyut nikmat, kubenamkan batangku dalam kehangatan vaginanya yg basah. Kupandang wajahnya yg berkeringat, perlahan kusapu bersama tanganku & kuciumi bersama penuh rasa sayang, hasilnya kamipun terkulai lemas & Wati memeluk tubuhku erat, tidak dengan mempedulikan cairan yg merembes ke luar dari lubang kenikmatannya. 
Ada lebih sejam kami tertidur dalam kenikmatan, & setelah itu berdua kita berendam bersama air hangat di bathtub, sampai badanpun terasa segar kembali. Sesudah menikmati makan tengah malam di cafeteria, hasilnya kamipun kembali ke kamar jam 12.00 tengah malam, mengulangi permainan bersama lebih ganas sampai jam 1 dinihari, kamipun tertidur tidak dengan busana, & kupeluk badan telanjangnya dalam kehangatan selimut. 
Sampai esoknya kuputuskan buat membawa cuti sehari & sebelum checkout jam 12 siang, kami tetap menyisakan dua kali permainan di kamar tidur & di bathtub. Lain kali bakal kuceritakan pengalamanku bersama Wati di kampungnya kala saya mengantarnya mudik.

Related Posts

Gadis Perawan cuma berbalut handuk putihnya
4/ 5
Oleh