Sabtu, 20 Februari 2016

Gelora Ngentot Dari Putri Sulung Tante Bugil

Gelora Ngentot Dari Putri Sulung Tante Bugil - Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarikdipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana.

Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Gelora Ngentot Dari Putri Sulung Tante Bugil

Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.

"Ada apa Na, malam-malam begini."
"Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?"
"Ya, Dari mana kamu?"
"Sengaja kemari."
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.

"Ada apa, Nana?"
"Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari."
"Pengin? Pengin apanya?" Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
"Nana, apa-apaan kamu ini.." Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya dan katanya, "Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas."

Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.
"Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari."
"Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo," kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.

"Kamu amat bergairah, Nana.." bisikku lirih di telinganya.
"Hmm.. iya.. Sayang.." balasnya lirih sembari mendesah.
"Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh.." serunya sembari menelan ludahnya.
"Ayo, Mas.. teruskan.."
"Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?"
"Semuanya," kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda.

Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya. "Sedot kuat-kuat Mas, sedoott.." bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. "Mas lepas.." katanya sambil telentang di lantai. Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.

"Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak.." Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat "cocorde" milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak. "Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus," lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi.

Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. "Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh.." Sebentar kemudian Nana lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Nana. "Uh.. Mas.. apaan ini," kata Nana kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

"Mas.. ini asli?"
"Asli, 100 persen," jawabku.
Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.

"Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini."
"Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya."
"Alangkah bahagianya MBak Tari."
"Makanya kamu pengin seperti dia, kan?"
Nana langsung menarik penisku. "Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan."
Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.

"Cepat Mas, cepat.."
"Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang.."
Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. "Cepat Mas.." ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

"Jangan paksakan, Sayang.." pintaku.
"Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus.." Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit, "Aouwww.. sedikit lagi.." Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana sedikit berkurang ketegangannya.

Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, "Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya.." Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.

"Nana, kenapa kamu?"
"Lemas, Mas. Kamu amat perkasa."
"Kamu juga liar."

Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.

Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas.

Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
"Mas Danu, mau nyoba lagi?" bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
"Masih gede juga?" tanyanya menggoda.
"Ya, tambah gede dong."
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.
"Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?" tanyanya.
"Belum, dokter melarangnya," kataku berbohong.
Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

TAMAT

Senin, 15 Februari 2016

Menikmatin Ngentot Tukar Pasangan

Menikmatin Ngentot Tukar Pasangan - "Lho, Memang Papa juga tidak sakit menyaksikan Mama main dengan orang lain?" balasku tak mau kalah.
"Ma, Justru disitulah seninya, ada perasaan sakit hati, cemburu, nafsu, dll"
Istriku terdiam, mungkin mencoba mencerna kata-kataku. Lama kami terdiam dengan pikiran kami masing-masing, akhirnya..
"Baiklah Pa, Mama setuju, tapi harus dengan pasangan yang bersih! Bukan cowok/cewek panggilan!"
Lega rasanya mendengar kalimat yang aku tunggu-tunggu dari mulut istriku.

*****

Aku langsung mencari-cari pasangan yang mau just fun dengan kami, email-email dari pengirim cerita cerita seks yang menceritakan tukar pasangan aku kirimin ajakan dan setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan reply yang cukup banyak. Memang rata-rata peminat tukar pasangan agak susah cocok, ada aja yang jadi kendala, ntar cowoknya ga cocok dengan ceweknya atau sebaliknya.

Menikmatin Ngentot Tukar Pasangan

Meskipun istriku tergolong cantik dan masih muda (19 tahun) namun bodynya agak kurus dengan dada 32A alias kecil mungil, belum pernah melahirkan, sedangkan aku sendiri Chinese, berwajah biasa-biasa aja, dengan umur 29thn, 173 cm, 73 kg (Kalau ada pembaca yang berminat silakan kirim email)

Pengalaman pertama Dengan suami istri manado, Sungguh pasangan yang serasi, yang laki tinggi, ganteng dan atletis sedangkan istrinya putih bersih, semampai, dengan body yang aduhai, meskipun agak minder akhirnya kami lakoni juga,
Bertempat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur dengan Paviliun, kami memesan 2 kamar bersebelahan, setelah keadaan aman kami berempat dalam satu kamar. Awal mula rasanya sangat canggung, Namun toh akhirnya kami mulai dengan cumbuan-cumbuan bersama pasangan kami masing-masing, Aku berciuman mesra dengan istriku sementara Johan dan Erni (sebut saja namanya begitu) asyik berciuman juga, Kami saling pandang melihat langsung pasangan lain bermesraan, gairah didadaku semakin terbakar menyaksikannya..

Perlahan namun pasti pakaian kami sudah bertebaran dilantai, Sambil terus bercumbu aku menyaksikan body Erni yang telah bugil, sungguh indah.. aku tak tahan sendiri aku langsung melangkah kearah Erni dan Johan pun mengerti dia langsung mencumbu istriku..

Sementara aku sedang menciumi seluruh tubuh Erni yang mulus, aku melihat johanpun sedang asyik menikmati tubuh istriku, Perasaan gairah, nafsu, cemburu berbaur menjadi satu.. Aku tumpahkan semua hasratku ke tubuh Erni, Jengkal demi jengkal tubuh Erni tidak ada yang luput dari jilatan lidahku dan elusan jari-jariku, buah dadanya yang besar dengan gemas aku remas, putingnya yang kemerahan aku kulum, jilat dan kadang aku gigit pelan, Erni semakin terbakar, jari-jarinya yang lentik menggenggam senjataku, sementara istriku aku lihat sedang asyik mengoral senjata Johan yang telah keras.. Ernipun tak mau kalah, dengan mahirnya dia menjilati dadaku, perut dan terus turun menjilati senjataku, diselingi dengan kocokan tangannya yang lembut..

Kian lama suasana kian panas, aku balik menyerang Erni, lidahku bermain lama di vagina Erni, klitorisnya yang agak besar aku jilat sampai mengembang, lidahku mencoba menerobos kedalam liang vaginanya, sementara jari jariku terus memilin puting buah dadanya, Erni semakin tak tahan dengan seranganku sementara aku lihatpun istiku masih asyik mencumbu penis Johan, mulut istriku yang mungil sampai monyong mengulum senjata Johan yang berukuran lumayan,
Aku semakin terbawa arus, Erni berteriak-teriak tak tahan minta aku segera memasukkan senjataku, namun aku belum puas menikmati keindahan tubuhnya, meskipun lidahku sampai kaku menusuk vagina Erni namun aku terus melumat seluruh tubuhnya.

Aku lihat istriku sudah menerima tusukan senjata Johan dengan gaya doggy, erangan dan rintihan mereka terdengan jelas ditelingaku.. Akupun segera membopong tubuh Erni dan menidurkannya di kasur.. Dengan gaya konvensional Aku masukkan senjataku ke dalam vagina Erni yang sudah basah.. Lain.. sungguh lain dengan vagina istriku, vagina Erni meskipun sudah punya anak 2 masih terasa mencengkram.. Aku terus menaikturunkan pantatku meraih puncak kepuasan, namun sampai keringatku bercucuran dan berbagai macam gaya sudah aku lakukan, aku belum keluar, ada perasaan ingin menang dihatiku yang membuat aku sekuat mungkin menahan orgasmeku..

Dan akhirnya memang aku menang, aku lihat Johan sudah menyemburkan spermanya ke perut istriku.. Aku semakin bergairah melihatnya, Dengan gaya doggy aku terus menggempur Erni yang sudah orgasme 2x, istriku yang melihat aku belum keluar menghampiri aku, tanpa disuruh istriku menjilati ujung dadaku dan kadang disedotnya kencang, Gairahku semakin tak terbendung.. Akhirnya akupun melepaskan orgasmeku di bokong erni..

Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan kembali pertempuran. Kali ini permainan menjadi 3 lawan satu dan masing-masing orang mendapatkan jatah, Pertama adalah Erni, Tubuh Erni terlentang pasrah menerima cumbuan kami bertiga, aku mencium bibir Erni yang sensual sementara istriku mencumbui buah dada Erni dan Johan asyik menjilati vaginanya.. dan efeknya sungguh luar biasa tanpa penetrasi Erni sudah mengalami orgasmenya, giliran kedua adalah istriku, hampir seluruh bagian tubuh istriku tak luput dari belaian dan jilatan, dengan kompak Erni, Johan dan aku menyerang istriku, kali ini istriku bertahan agak lama, akhirnya karena senjataku sudah menegang kembali aku masukkan senjaku ke dalam vagina istriku, sementara Erni dan Johan mencumbui buah dada istriku kiri dan kanan, dan tak lebih dari 5 menit istrikupun mengalami orgasme dengan teriakan yang cukup erotis.

Kini aku dan Johan saling berpandangan, aku mempersilahkannya duluan. Karena aku tidak bakat gay, aku biarkan Johan dicumbu oleh istriku dan istrinya, dengan rakusnya Erni menjilati dada Johan sementara istriku aku mengkaroke senjata Johan, kadang bergantian istriku yang menjilati tubuh Johan sementara Erni mengoral senjata suaminya.. Dan mungkin fisik Johan yang sedang lemah atau memang kenikmatan yang diterimanya terlalu tinggi, Johan menyemprotkan cairan kenikmatannya saat Erni sedang mengoralnya..

Kini giliranku.. sambil berciuman dengan Erni, istriku mencumbui dadaku, lidah istriku yang mahir bermain dari leher sampai senjataku, sementara akupun tidak tinggal diam meremas apa saja yang ada didekatku, kadang buahdada Erni, kadang buah dada istriku, kadang pinggul dan pantat Erni kadang pantat istriku, kini ujung dadaku dicumbu keduanya Erni menjilati dada kiriku dan istriku menjilati dada kananku, sungguh kenikmatan yang tiada tara, senjataku semakin membengkak keras, tak sabar akupun meminta Erni diatas, dan dengan lincahnya Erni menuntun senjataku, pinggulnya yang besar bergoyang seirama keluar masuknya senjataku dalam vaginanya,
meskipun kenikmatan yang aku peroleh dobel namun memang untuk orgasme yang kedua aku agak lama, Aku lihat Johan asyik menonton kami, sementara Erni akhirnya malah orgasme diatas perutku, posisinya diigantikan istriku, istriku yang termasuk lihai bergoyang, mengeluarkan seluruh kemampuannya sementara Erni mencumbu dadaku dan mengelus biji kemaluanku, Aku semakin tak kuat menahan kenikmatan yang datang, akhirnya aku semprotkan spermaku kedalam vagina istriku berbarengan dengan orgasme istriku. Kemudian kami tertidur dalam kelelahan dan kepuasan.

*****

Pengalaman kedua adalah seorang wanita setengah baya yang hanya ingin menonton kami main, katanya gairahnya hanya bisa terbakar jika menyaksikan suami-istri bersetubuh langsung didepan matanya, Karena dia yang mau membayar semuanya, ajakkannya aku terima, tentunya setelah bicara dengan istriku. Dan sungguh aku dibuat kaget saat bertemu dengannya, wajah dan bodinya bisa aku nilai 9. Tak banyak basa-basi kamipun langsung menuju hotel.

Aku sebenarnya bergairah banget melihatnya, sayang dia hanya mau menonton, aku dan istriku kini asyik bercumbu, kami saling meremas dan memberikan rangsangan, Perlahan pakaian kami berserakan, aku dan istriku sudah telanjang bulat sementara tante Henny semakin serius memperhatikan kami, aku lihat wajahnya yang putih sedikit memerah, mungkin sudah bergairah menyaksikan percumbuan kami yang semakin panas, istriku sedang mengoral senjataku, Aku hanya bisa terpejam menikmati permainan mulut istriku di senjataku, namun sungguh tidak aku duga, bibirku terasa ada yang melumat, aku membuka mata sedikit, ternyata tante Henny sedang melumat bibirku dan dalam keadaan telanjang bulat.. Aku yang dari tadi memang bergairah melihatnya semakin bergairah, aku balas melumat bibirnya, lidah kami saling mendorong, sementara jari-jariku meremas buah dadanya bergantian, istriku masih asik mengeluarkan senjataku dalam mulutnya..

tante Henny menyodorkan buah dadanya ke mukaku, langsung saja aku cium kedua buah dadanya bergantian, tak puas sampai disitu, mulutku langsung melumat putingnya, tante Henny semakin meracau tak karuan, dan tak tahan sendiri, dia menarik istriku yang sedang ayik mengoral senjataku yang kaku, dan tante Henny menggantikan istriku mengoral senjataku, istriku pun langsung berpindah mencumbu dadaku, kini aku yang berbalik tak tahan, aku tarik tubuh tante Henny yang sedang berjongkok, lalu aku bisikan supaya dia nungging, dan dengan sati sentakan saja, senjataku sudah terbenam seluruhnya ke dalam vagina tante Henny, Oh.. sungguh hangat sekali vagina tante Henny, aku menggerakkan pinggulku mengeluarmasukkan senjataku, dan istriku yang pintar mengambil inisiatif memilin buah dada tante Henny sementara tangan yang satunya menggosok lembut klitoris tante Henny, dan Tak perlu waktu lama, seluruh tubuh tante Henny mengejang dan melepaskan orgasmenya yang pertama, jelekknya tanpa ba bi Bu lagi tante Henny langsung menuju pembaringan dan tidur!!

Kini tinggal aku dan istriku yang sedang nanggung melongo!! untunglah kami cepat sadar dan meneruskan permainan menuju puncak kenikmatan, mungkin karena pemanasan sudah cukup, tak lama dengan gaya standar dia diatas aku dibawah kami berbarengan mencapai orgasme. Ketika kami bangun, tante Henny sudah tidak ada di tempat dan hanya meninggalkan amplop berisi uang, Aku jadi tambah bingung??

*****

Sejak saat itu, kami mencoba mencari pasangan2 lain yang sepaham dengan pikiran kami, lebih baik selingkuh di depan mata kan, dari pada di belakang suami/istri pada main nyeleweng semua??

Senin, 08 Februari 2016

Ngentot Di Tempat Kursus

Ngentot Di Tempat Kursus - Hari itu hujan rintik-rintik di awal tahun 2001, aku bersama temanku berniat mendaftarkan diri di sebuah tempat bimbingan belajar yang katanya paling berkualitas di kota kami untuk persiapan UMPTN 2001. Sesampainya di sana aku dan temanku disambut seseorang di tangga.
Dia berkata, "Mo mendaftar yah Dek..? Kalo mau mendaftar di atas."
Dia kelihatan agak dewasa dari yang lainnya yang ada di sana. Belakangan aku tahu dia tentor kelas IPA yang juga mengajarku di kelas, sangat kebetulan yah.

Tidak cakep sih kakak itu, namun rayuannya membuatku sangat tersanjung. Dan wibawa serta senyumannya sangat membuatku terkesima, apalagi saat ia menjelaskan terlihat sekali kecerdasannya terpancar. Aku semakin kagum melihatnya. Dari hari ke hari kami semakin akrab. Aku pun biasa diantarnya pulang, kami pun sering ngobrol bersama tentang masalah kami karena kami juga sudah saling terbuka bahkan menyangkut cerita pribadi kami. Kami juga seringbercanda. Ia pun sesekali menyentuhku, sehingga aku merasakan sesuatu yang lain dalam sentuhannya yang begitu lembut dan mesranya.

Ngentot Di Tempat Kursus

Sampai pada suatu hari dia mengajakku nonton dan aku pun menerima ajakan itu. Kami pun pergi sekitar jam 7 malam ke twenty one. Saat film tengah diputar, ia tidak henti-hentinya melihatku. Aku pura-pura serius nonton, tapi aku sebenarnya juga melihatnya. Kemudian ia mulai berani memegang tanganku, aku pun membiarkannya dan ia pun berkata, "Kakak sayang kamu."
Serr.., rasanya aku tersambar petir asmara dan tidak kuasa menolaknya, apalagi ketika ia mulai berani menyandarkan kepalanya di bahuku dan meletakkan tangannya di pahaku. Aku semakin tidak kuasa menepisnya.

Kemudian ia pun memandangku sejenak dan langsung menyambar bibirku, aku pun menyambutnya dengan mesra. Lidah kami saling bertautan dan aroma nafas kami saling memburu mereguk nikmatnya air liur kami yang saling kami tukarkan. Kebetulan di sederetan kursi kami duduk tidak ada orang, jadi tidak ada yang melihat aktivitas kami ini. Baru sekali ini saya melakukan hal seperti ini di bioskop, bahkan sama pacar saya yang jauh lebih cakep dari kakak tentor saya ini saya tidak pernah melakukannya. Itulah sebabnya saya sangat menikmatinya.

Kakak saya yang satu ini pun semakin berani mengelus-elus paha mulusku yang kuning langsat itu, dan dia berkata, "Paha kamu mulus yah.., Kakak jadi tambah sayang sama kamu."
Kebetulan rok yang kupakai saat itu memang mendukung, sebuah rok biru pendek selulut namun ada belahannya yang menyebabkan tangan kakakku ini mudah menyusup masuk mencari kehangatan cinta di antara dua pahaku.
Namun karena malu aku pun menahan tangannya, dan berkata, "Jangan Kak."
Ia pun tidak memperhatikan kata-kataku, dan tangannya terus memaksa masuk.

Sekarang celana dalamku bagian paha dalam sudah ia raih. Sedikit lagi ia tarik, maka ia akan mendapatkan kemaluanku yang sudah basah ini.
Ia berkata, "De.., nggak pa-pa kok, enak deh, masa nggak percaya sih sama Kakak. Ya Yang.. ya..!"
Aku pun tetap bertahan untuk tidak memberikan apa yang ia mau, namun tenaganya lebih kuat dari padaku, sehingga slep.., jarinya menyentuh klitorisku.

Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, apalagi ketika ia mulai memainkan tangannya di lubangku bagian luar, mengelus-elus buluku yang tipis dan menggesek-gesekkan klitorisku yang sudah basah dengan cairanku. Sungguh sensasi yang luar biasa yang sudah lama tidak kurasakan. Memang sih pacarku yang dulu (sebelum dengan yang sekarang) agak nakal dan suka minta jatah, tapi yang sekarang orangnya sangat baik, alim, nggak kurang ajar. Tapi aku gampang dekat sama laki-laki, jadi pacarku yah pacarku, temenku yah temenku, kadang malah lebih dekat dari pacarku, seperti kakak tentorku sayang yang sedang asyik memainkan klitorisku ini.
Tidak sadar aku pun mengeluarkan suara-suara yang erotis sambil menjambak rambutnya, "Ahh.. ahh.. Kakak.., Kakaak.., enak. Kakak nakall..!"

Kepalanya yang tanpa sadar juga sudah sudah menempel di kedua payudaraku. Film pun habis, lampu kembali menjadi terang. Ia pun memandangiku dengan mesranya.
"Pulang yuk..!" katanya sambil menggandeng tanganku.
Sambil berjalan turun, aku pun membetulkan rokku yang sudah diacak-acak olehnya tadi.

"Maafin kelakuan Kakak yah tadi." ia pun memecahkan kebisuan di antara kami berdua.
"Nggak pa-pa, tapi jangan diulangi lagi yah Kak.. aku takut." jawabku.
Ia langsung merangkul pinggulku dan mencium pipiku, sungguh sangat mesranya. Kami pun pulang dengan menggunakan jasa taxi.

"Turun dulu Kak..!" kataku saat taxi sudah sampai di depan rumahku.
Ia pun menyanggupi dengan langsung membayar taxi dan ikut turun bersamaku. Sungguh lelaki yang bertanggung jawab dalam hatiku. Aku pun mengambil kunci di bawah pot, di situ biasa kami menyimpan kunci kalau tidak ada orang di rumah. Maklumlah, ibuku sering pergi ke rumah kakakku yang paling tua, sehingga aku biasanya hanya tinggal di rumah bersama saudara-saudaraku. Bapak dan ibu sudah cerai sejak aku SD.

Aku langsung mempersilakannya masuk ke rumah mungilku.
"Duduk Kak.., mo minum apa..?"
"Nggak usah repot-repot deh, ehh iya orangtuamu nggak ada..?"
"Nggak ada Kak, lagi pergi kayaknya."
"Oohh.."
Begitu percakapan kami setelah kami masuk. Aku pun langsung masuk kamar untuk mengganti baju.

"Tunggu sebentar yah Kak." kataku, namun ia langsung mengikutiku ke dalam kamar dan menggendongku ke atas ranjang, lalu mengunci pintu kamarku.
"Kak, Kakak mau apa..?" tanyaku lugu.
"Lanjutin yang tadi yah..?" ucapnya.
"Jangan Kak, aku takut..!" kataku lagi tapi dia langsung memelukku dan meciumku dengan liarnya.
Aku yang juga sudah terangsang menyambutnya dengan ciumanku yang bernafsu.

"Achh.., ack.., ack..!" bunyi mulut kami yang saling terpaut mesra.
Ia pun melepaskan semua bajunya dan bugil di depanku. Kemaluannya yang menggelantung di depanku sangat besar, baru kali ini aku melihat yang sebesar ini. Kemaluan pacar-pacarku tidak ada yang sebesar dan sehitam ini, sungguh membuatku ingin merasakannya. Walaupun aku suka petting samapacarku, namun aku masih tetap menjaga perawanku sampai saat ini. Aku tidak kuasa menolak ketika ia melepaskan seluruh bajuku, sehingga aku polos tanpa sehelai benang pun yangmenempel pada tubuhku.

Di kamarku sendiri, di atas ranjangku sendiri, dimana ibuku biasa tidur bersamaku, sekarang akusedang memegangi batang kemaluan tentorku yang amat panjang dan keras yang ia sodorkan ke mulutku. Walaupun sempat menolak karena agak jijik, namun akhirnya aku mau juga dan malah keenakan menghisap miliknya seperti lolypop yang dulu sering diberikan mama waktu aku kecil.
Kakak tentorku pun mengerang keenakan, "Ahh.., aah.., ahh.., enak Sayang.. terus..!"
Terdengar juga saat itu, "Ckkc.. ckk..!" bunyi hisapan mulutku di batang kemaluannya.

Dalam posisi aku tidur dan ia mengangkang di atasku sambil kedua tangannya meraih payudaraku dan meremas-remasnya, aku pun keenakan dibuatnya. Ia kini melepaskan penisnya dan menghisap kedua payudaraku secara bergantian dengan liarnya sambil tangannya memainkan klitorisku dan sesekali menusuk masuk ke lubangku yang sudah amat becek. Aku pun merasa sangat nikmat dibuatnya.
"Aaah.., ahh.., uhh.., uuhh Kaa.. Kkaakaa..kk tyus Kak eenaakk.., ah.. aahh uhh yeah..!" begitulah teriakanku sambil meracau tidak karuan karena menahan nikmat yang luar biasa.

Ia pun menjilati tubuhku, turun dan turun hingga sampai kepada lubang kemaluanku yang ia garapmesra.
Aku pun melenguh keenakan, "Aahh.., aahh.. Kakk.., aku mo keluar..!"
Ia seakan tidak menggubrisku, jilatannya pindah ke arah paling sensitif. Klitorisku dimain-mainkan dengan lidahnya. Aku hanya bisa merem melek dibuatnya, karena sensasi yang luar biasa atas permainan lidahnya di bagian tubuhku yang sensitif.

"Kakk.., Kakk.., aku keluarrh. Ahh.., aahh..!" aku pun mengeluarkan cairanku, namun ia tidak berhenti menghisap vaginaku sampai semuanya dibuat bersih.
"Oohh.., Kakk.., enakk.. Kakk..!" aku seakan tidak perduli lagi apa yang kuucapkan.
Ia pun mencoba menusukku dengan senjatanya yang sudah menegang dari tadi. Sungguh seorang kakak yang perlu diteladani, ia mau memuaskanku dulu baru memikirkan nasib 'adek'-nya.

Aku pun dengan senang hati melebarkan kakiku untuknya, seakan aku pasrah memberikan diriku untuknya. Ia pun berusaha memasukkan batang penisnya ke arah vaginaku, namun agak sulit karena memang aku masih perawan. Aku pun merasa sakit, namun karena ia juga meremas payudaraku dan menghisap bibirku, rasa sakit itu sedikit terobati. Sampai akhirnya, "Bless..! Pertahananku berhasil ditembusnya.
Aku pun berteriak, "Ahh.., saa.. saakiitt Kaakk..!"
Ia pun membelai rambutku, dan berkata, "Tahann ya uhh..!"

Ia pun nampak keasyikkan menikmati jepitanku, "Uhh.., Dekk.., kamu hebat..!"Kami pun terus berciuman sementara tangannya memainkan puting susuku yang semakin mengeras.
"Ahh.., aahh.. aahh.." betul-betul nikmat dan asyik, "Aahh.., ohh.., uuhh..!"
Ia pun menghisap bibirku dengan lembut.
Tidak lama kemudian, "Ahh.., aahh.., ohh.., yeaahh.. yeaah.. Kak.. aku mo keluarr. Oohh aku sudah tidak tahan lagi..!" dan, "Serr.." keluarlah cairanku.

Aku pun merasakan kenikmatan yang teramat sangat di sekujur tubuhku seiring keluarnya cairan di liang kenikmatanku beserta darah segar yang sejak tadi keluar dan membasahi sepreiku. Namun aku tidak menangis dan menyesalinya, bahkan seketika itu juga dia mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluanku dan menyemprotkan spermanya ke seluruh wajahku, dan mulutku. Aku pun membersihkan sisa-sisanya dengan menelan sperma yang ia semprotkan dengan menghisap batang kemaluannya sampai bersih.

Kemudian kami pun menatap mesra, berpelukan dan tertidur bersama. Masalah besok yah besok lah diatur. Terima kasih bimbingannya yah Kakak. I love You.

TAMAT