Senin, 31 Agustus 2015

Merangsang Ngentot Lewat SMS

Merangsang Ngentot Lewat SMS - "Mas, komputernya hang lagi nih..!" teriakku.
Tidak berapa lama, Bryan masuk ke kamarku.
"Kamu emang gatek, Yen.." celetuk Bryan kakak iparku.
Belum sempat aku bangun dari tempat duduk, kedua tangan Bryan sudah berada di bawah ketiakku. Jemarinya yang berbulu, begitu cepat menekan tombol 'Ctrl-Alt-Del'. Komputer di depanku kembali berfungsi. Aku terhenyak. Bryan masih berdiri menunduk di belakangku. Dengan sengaja kedua tangannya menyentuh payudaraku. Aku tidak bereaksi. Memang ini yang kuinginkan. Jujur saja, aku sebetulnya dapat mengatasi masalah komputer 'hang'. Sebenarnya yang tadi hanya trik saja untuk 'memancing' Mas Bryan masuk ke kamarku.

Merangsang Ngentot Lewat SMS

"Lembut banget Yen..," bisiknya lirih.
Tidak lama kemudian dia keluar kamar. Hampir aku tidak mendengar ucapannya. Pikiranku jauh menerawang.
"Seandainya Mas Bryan menjadi milikku..," gumanku dalam hati.
Aku terus membayangkan bagaimana bahagianya Priscilla, kakak sulungku, bersuamikan seorang Bryan. Badannya tinggi tegap. Kulitnya yang putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus. Mas Bryan yang peranakan Jawa-Pakistan, sudah satu setengah tahun tinggal di rumah kami. Karena Cilla, panggilan kakak sulungku, sedang mengandung, Mama meminta mereka tinggal sementara di rumah ini.

Dering handphone membuyarkan lamunanku. Ahh, rupanya hanya SMS saja. Tapi, wooww ternyata itu pesan dari Mas Bryan.
Isinya singkat, "YEN, TOKETNYA INDAH BANGET, SORRY YA NGACENG AJA."
Aku tersenyum membacanya. Aku mengerti maksud kata-kata terakhirnya, bukan ngaceng aja, tapi ngga sengaja. Kalaupun Mas Bryan benar-benar terangsang ketika berada di kamarku, memang wajar. Bukan hanya dia yang mengatakan buah dadaku indah, bahkan teman-teman cewek di kampus pun iri melihat punyaku ini. Apalagi sebelum Mas Bryan masuk kamarku, aku sengaja hanya mengenakan kaos oblong tanpa BH.

Malamnya, Mas Bryan SMS lagi. Dia sedang asyik menonton liga Italy di home theatre rumahku. Dalam pesannya, dia minta ditemani nonton bola. Kujawab tidak. Aku memang tidak senang menonton bola.
"KALO BOLA YANG LAIN MAU." pancingku me-reply pesannya.
Sebetulnya aku ingin sekali berdua dengannya di malam seperti ini. Tetapi yang menjadi masalah adalah letak home theatre yang di pojok dekat taman persis bersebelahan dengan kamar tidur Mamaku. Kalau ketahuan kan jadi kacau semua. Kamar Mas Bryan sendiri ada di lantai atas, bersebelahan dengan adikku yang bungsu. Tetapi, kalau nonton TV Mas Bryan lebih senang di bawah. Mbak Cilla sudah tahu kebiasaan suaminya menonton bola di bawah. Kesempatan ini kumanfaatkan sekalian. Tetap lewat sarana SMS, kupancing Mas Bryan masuk kamarku.

Gairah seksku sedang memuncak-muncaknya malam itu. Mungkin karena mau dapat mens. Aku harus berterima kasih banyak pada fasilitas SMS lintas operator ini. Sudah dua minggu lebih, saya dan Mas Bryan saling kirim pesan rahasia. Padahal kami sama-sama berada di rumah. Kalau bicara langsung atau telepon kan beresiko ada yang menguping. SMS benar-benar menghubungkan cintaku padanya.

Pintu kamar terkuak perlahan. Dengan sedikit berjinjit Mas Bryan masuk kamarku. Mengenakan celana pendek dan kasus oblong. Kumis dan cambangnya baru dicukur. Birahiku menggelora melihat wajah Mas Bryan di depanku. Bahunya yang lebar mendatar ditambah dadanya yang bidang membuatku ingin segera menggelayutinya manja.
"Blom tidur Yen..?" tanyanya berbasa-basi.
Tidak kujawab. Aku hanya tersenyum manja sambil mengibas rambutku. Malam itu aku memakai baju tidur model 'you can see' dan celana selutut. Agak lama kukibaskan rambutku. Mas Bryan pasti tidak melewatkan kesempatan emas ini. Dengan kaos 'you can see', jelas terlihat olehnya payudaraku yang putih menyembul.

Pelukan hangat Mas Bryan langsung menyergap. Memeluk dari belakang, membuat tangannya bebas-puas menggerayangi payudaraku. Sambil mendesis-desis, bibirnya yang seksi mulai melumat leher dan belakang kupingku. Pantas saja Mbak Cilla betah di kamar. Mas Bryan memang paling jago memanjakan cewek. Permainannya lembut dan halus. Baru kali ini aku merasakan sentuhan-sentuhan seorang lelaki yang membuatku nikmat keenakan.

Tidak seperti Joko pacarku, Mas Bryan sangat sabar menelusuri seluruh bagian tubuhku. Dia begitu menikmati jengkal demi jengkal lekuk tubuhku. Aku sangat menikmati permainan jilatan lidah dan remasan jari-jarinya yang nakal. Kini aku hanya menyisakan celana dalam saja. Pakaian tidur dan BH sudah dicampakannya. Entah kenapa, Mas Bryan belum juga menjamah bagian paling peka dari tubuhku. Padahal aku sudah sangat mengharapkan jilatan demi jilatan merambah bibir kemaluanku yang sudah mulai membasah.

Ternyata, kesabaran Mas Bryan menjelajahi bagian tubuhku berhenti sampai disitu. Tiba-tiba dia mengangkat tubuhku ke tempat tidur. Dengan sedikit tergesa-gesa, dia membaringkan tubuhku di pinggir tempat tidur. Buru-buru dia melepas celana dalamku dan CD-nya. Dengan berlutut di pinggir tempat tidur, Mas Bryan sudah mengeluarkan senjata pamungkasnya. Sebatang daging keras memanjang sudah mendekati selangkanganku.

"Jangan dulu Mas..!" sahutku lirih.
Aku kecewa berat. Kenapa sih setiap lelaki selalu ingin cepat-cepat memasukkan batangnya ke lubang kemaluannya wanita. Padahal aku masih butuh foreplay yang lama. Kenikmatan tidak hanya didapat ketika batang itu ada dalam lubang kemaluan.
"Mas sudah ngga tahan, sayang..!" katanya.
Batang kokoh berurat itu mulai menekan-nekan. Aku meringis kesakitan.
"Ahh.., perlahan dong Mas..!" aku menahan sakit.

Seperti tidak mendengar permintaanku, Mas Bryan semakin kencang menekan. Kedua tangannya menyangga tubuhnya di bibir tempat tidur. Sementara kedua lututnya bertekuk di lantai. Gaya seperti ini pernah saya lihat di film biru. Kedua kakiku ditekuknya seperti kecoa kepanasan. Menurut cerita teman-temanku, posisi inilah yang didambakan setiap wanita. Dalam posisi seperti ini, penetrasi alat vital pria akan maksimal. Sementara kedua tangannya akan bebas meremas payudara si wanita. Tetapi semua itu tidak kuperoleh dari Mas Bryan.

Tidak seperti yang kuduga, sudah hampir tiga menit Mas Bryan belum berhasil menembus keperawananku. Puluhan kali dia mendorong batang kemaluannya, aku belum merasakan nikmatnya batangan daging memenuhi rongga vaginaku.
Tiba-tiba Mas Bryan berkata, "Mau keluar nih Cilla..!" sambil meringis menahan sakit.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Mas Bryan tidak sadar kalau tubuh yang dihimpitnya adalah tubuhku, adik iparnya, bukan Mbak Cilla istrinya.
Dan, "Cret.. cret.. cret.." cairan putih kental menghujam perutku.

Aku masih telentang ketika Mas Bryan mengenakan celananya. Tanpa permisi, dia langsung meninggalkanku. Cairan sperma Mas Bryan terasa meleleh ke bawah. Kemudian terhenti dan menggumpal di sela-sela bulu kemaluanku yang lebat. Seperti tidak percaya, aku mengenang kejadian beberapa menit yang lalu. Bukan tidak percaya pada hal yang kami berdua lakukan, tetapi pada 'kemampuan' Mas Bryan. Mungkin aku terlalu tinggi menghayal dan berharap Mas Bryan sebagai lelaki perkasa, sehingga aku merasa kecewa dalam kenyataannya.

Padahal, kalau Mas Bryan tidak terburu-buru, akan kuberikan pertama kali kenikmatan untuknya. Biarlah, Joko pacarku mengambil sisanya, karena memang aku tidak berharap banyak dari Joko. Hubunganku selama ini dengannya lebih karena aku menuruti keinginan Mama saja. Maklum sudah tua, menjanda pula. Mama ingin, aku Yennita, satu-satunya anak perempuan yang single, berjodohan dengan keponakan Papa almarhum.

Paginya aku bangun kesiangan. Seluruh badan terasa pegal, mungkin karena permainan semalam yang tidak tuntas. Kusambar handphone-ku, lagi-lagi SMS dari Mas Bryan. Tidak seperti biasanya, kali ini pesannya agak panjang. Intinya, dia minta maaf atas 'happy ending' yang kurang bagus tadi malam.

Menurut pengakuannya dalam SMS yang berturut-turut, sebelum tubuhku dibawanya ke atas tempat tidur, dia sudah merasa khawatir kalau Mbak Cilla atau Mama mengetahui kejadian itu. Dasar lelaki, Mas Bryan tidak mau melepaskan kesempatan itu begitu saja. Maka yang terjadi adalah dia buru-buru mengarahkan batang kemaluannya ke liang keperawananku. Dia masih sempat menikmati ejakulasi. Sementara aku, hanya dapat pegal dan kecewa saja. Tapi sudahlah.

Hari-hari berikutnya, kami masih sering ber-SMS ria. Isinya apalagi kalau bukan saling memancing birahi. Belajar dari film "Mission Impossible," kami selalu langsung menghapus setiap pesan SMS. Bahkan, kalau sedang tiduran di samping Mbak Cilla pun, Mas Bryan sengaja menyimpan handphone-nya di bawah bantal, agar dering atau vibrasinya tidak terdengar istrinya.

Pernah suatu ketika, lewat SMS Mas Bryan memberitahu kalau dia mau 'main' sama Mbak. Dia menantangku kalau mau mengintip permainan 'bola'-nya. Pintu kamarnya sengaja dibuka sedikit, memberi celah bagiku menikmati permainan seru mereka. Penasaran, kuturuti tantangannya. Dan alamaak, Bryan di atas ranjang memang seperti yang kudambakan selama ini. Kakakku sampai kewalahan mengimbangi irama permainan suaminya. Dari wajahnya, terlihat mereka lemas kelelahan. Kenikmatan duniawi akhirnya mereka renggut berdua malam itu. Sementara aku hanya dapat menelan ludah.

Ada juga lucunya Mas Bryan ini. Masih dengan SMS, dia 'melaporkan' hasil permainan dengan kakakku Cilla.
Ternyata isi dalam SMS-nya adalah, "Aku membayangkan tubuh Yennita ketika menindih Mbak Cilla."
Gila..! Aku balas SMS itu, "BUKTIKAN DENGANKU MAS, JANGAN HANYA MEMBAYANGKAN." aku mulai memancing dia lagi.

TAMAT

Jumat, 28 Agustus 2015

Nikmat nya Ngentot Berenang Bugil

Cerita Hot Nikmat nya Ngentot Berenang Bugil - Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.

Nikmat nya Ngentot Berenang Bugil

"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja" pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.

Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)

20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
"Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
"Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!" katanya sambil matanya menatapi dadaku
"Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot.

Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
"Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku.
"Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).

Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
"Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
"Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu" kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp.. emmphh.. nngg..!" aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.

Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
"Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan" katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
"Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.

Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
"Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.

Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.

Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
"Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?" tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih".
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.

"Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng" kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
"Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.

"Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus.

END

Minggu, 23 Agustus 2015

Yenny Saudara Ngentotku

Yenny Saudara Ngentotku

Cerita Hot Yenny Saudara Ngentotku - Suatu malam aku di telepon oleh saudara perempuanku yang bernama Yenny. Dia adalah anak dari adik perempuan ibuku. Umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Hubungan keluargaku dengan keluarga adik ibuku lumayan dekat dan akrab.

Malam itu adalah Jumat kira-kira pukul 23.00, aku diminta tolong untuk menjemputnya di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang 5. Salah satu temannya mengadakan acara pesta ulang tahun. Karena tidak ada yang bisa menjemput maka aku dimintai tolong. Orang tuanya sedang pulang kampung dan suaminya sedang dinas di luar negeri. Padahal aku sendiri juga ada janji berkumpul bersama teman-teman dan menginap.

Yenny Saudara Ngentotku

Aku berpikiran, hanya menjemput dan mengantar pulang saja tidak akan makan waktu lama, apalagi sudah tengah malam, aku masih bisa menyusul teman-temanku yang sedang dugem. Setelah kuparkir mobilku di basement, aku langsung naik eskalator dan menuju lantai 3 tempat cafe itu berada. Dari depan dapat kudengar dentuman suara musik dance yang cepat. Suasana di dalam gelap, hanya ada beberapa penerangan di sudut-sudut ruangan. Aku berkeliling mencari Yenny. Ternyata dia sedang di lantai menari dengan sedikit liar bersama teman-teman wanitanya. Ada beberapa yang seksi dan menarik perhatianku. Tapi tujuan utamaku adalah mengantar Yenny pulang dan bergabung kembali dengan teman-temanku.

"Yenny!" seruku. Ternyata dia tidak mendengar karena musik yang dimainkan sangat keras. Kupegang pundaknya, ia pun menoleh dan langsung mengenaliku.
"Indra..!" sapanya. Aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya, dan dia memang terlihat sangat mabuk.
"Kapan datangnya? Sudah lama?" tanyanya sambil bergoyang mengikuti alunan musik.
"Baru sampai, Sudah jam 11 lewat nanti Jimmy marah loh kalo pulangnya kemaleman." jawabku sambil sedikit berteriak.
"Iya aku tahu.. Sebentar ya.." Yenny meninggalkanku dan berpamitan pada teman-temannya.

Tidak lama kemudian, Yenny menghampiriku dan kami pun meninggalkan tempat pesta itu. Setelah berjalan beberapa langkah, Yenny kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Secara refleks aku memegang lengan dan pinggangnya.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya.. Tidak apa-apa kok.." jawabnya. Karena takut dia jatuh, maka aku terus memegangi pinggang dan lengannya.

Setelah sampai di mobil, langsung kunyalakan mesin dan kuarahkan ke rumahnya. Tidak sampai lima menit, Yenny telah tertidur dengan pulas. 15 menit kemudian aku telah sampai di rumahnya. Aku coba untuk membangunkannya, tetapi tidak bisa. Yenny benar-benar tertidur lelap sekali. Kubuka tas tangannya dan kuambil kunci rumahnya. Terpaksa aku menggendongnya ke dalam rumah.

Kubaringkan dia di ranjangnya dan timbul sebuah ide di dalam kepalaku. Aku telah bersusah payah menggendongnya ke kamarnya yang terletak di lantai 2, seharusnya aku mendapatkan imbalan yang setimpal. Imbalan yang kuinginkan tidak lain adalah kepuasan duniawi untuk penisku.

Aku langsung membongkar lemari pakaiannya. Tanganku meraba-raba celana dalamnya yang semuanya berukuran mini dan halus dengan berbagai warna, seleranya memang bagus. Kuambil satu yang berwarna kulit dan kuhirup dalam-dalam. Tidak tercium aroma dari vaginanya, tapi cukup untuk membuatku bergairah.

Aku berpaling ke arah Yenny, dia masih tertidur. Tiba-tiba saja aku tersentak dan langsung aku kembali membongkar-bongkar lemari bajunya. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, namun terdapat juga sedikit rasa kecewa. Dengan tangan yang sedikit bergetar kuangkat 'harta karun' itu. Kubuka lipatannya dengan perlahan, terbentanglah sebuah stocking nylon berwarna kulit yang sheer toe dan lacy top (transparan sampai ujung kaki dan pengikatnya berupa renda-renda yang seksi).

Penisku langsung bereaksi dengan kuat. Langsung otakku memerintahkanku untuk masturbasi sambil mengenakan stocking dan celana dalam Yenny. Sekali lagi kuperhatikan Yenny yang sedang tidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku. Perlahan-lahan kutarik stocking tersebut sampai ke tengah pahaku. Seluruh tubuhku diselimuti oleh getaran-getaran erotis ketika stockingnya bergesekan dengan kulitku. Demikian pula ketika celana dalamnya menyelimuti selangkangan, pantat dan buah zakarku.

Celananya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyelimuti penisku, tapi ini memudahkanku untuk bermasturbasi. Akan lebih nikmat lagi jika ada sebuah celana dalam lagi untuk membalut kejantananku, maka aku pun keluar dari kamar mandi dan kuambil sebuah celana dalam lagi yang berwarna merah muda. Langsung kubalutkan pada penisku. Kukocok penisku sambil membayangkan bercinta dengan saudaraku. Tanpa sadar aku menoleh ke arah Yenny dan timbul sebuah pemikiran untuk langsung bersetubuh dengannya. Namun ada pertentangan di dalam batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk bermasturbasi dengan melihat Yenny dari dekat dan mencoba untuk menyentuhnya bila memungkinkan.

Aku berlutut di samping ranjang Yenny. Dia tidur dengan telentang, kuamati dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Wajahnya yang cantik dan manis, rambutnya yang sedikit dicat coklat selalu terbayang-bayang di dalam hatiku. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Gaun pestanya berwarna hitam terbuat dari sutra yang halus, hanya ada sebuah tali yang menyimpang dari pundaknya untuk menggantungkan gaun tersebut.

Gaun sutra itu membungkus tubuhnya yang langsing dan padat dengan ketat, dan berakhir di atas lututnya. Ditambah lagi ada belahan di sebelah kanan sampai tengah pahanya hingga menambah keseksian gaun tersebut dan tentu saja pemakainya. Kakinya padat dan proporsional di balut oleh stocking hitam yang sangat transparan dan kakinya memakai sepatu tali (hanya ada 3 buah tali) berwarna hitam yang menggiurkan.

Kutelan ludahku, tidak dapat kupercaya saudaraku yang sering menjadi fantasi masturbasiku terbaring di hadapanku, seolah-olah mengundangku untuk menyetubuhinya. Dengan gugup jari tengah kananku menyentuh pergelangan kaki kanannya. Kuamati wajah Yenny, ternyata tidak ada reaksi. Kutelusuri tulang keringnya sampai tengah pahanya dengan jariku. Tidak ada reaksi juga darinya. Kugunakan telapak tanganku dan kutelusuri kembali sampai ke pergelangan kakinya. Kejantananku berdenyut-denyut dengan hebat, rasanya aku bisa orgasme dengan hanya mengelus-elus kakinya yang dilapisi oleh stocking yang halus. Berulang kali aku mengelus-elus kaki kanan dan kirinya dan sesekali memperhatikan wajah Yenny.

Kusentuh dengan ringan pipinya yang halus dan kencang, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, sampai aku dapat mendengar nafasnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, rasanya sungguh menghanyutkan. Kukulum dan kujilat bibirnya untuk beberapa saat, kemudian kukecup dan kujilati dadanya. Payudaranya terasa lembut dan benar-benar pas dengan pijatan tanganku. Aku hendak mencicipinya namun gaun yang masih ia kenakan menghalangi, terpaksa kukecup bersama gaunnya yang tipis dan halus.

Aku tidak menyangka Yenny tertidur begitu lelap hingga tidak dapat merasakan payudaranya sedang kuremas-remas. Pertama-tama kuremas dengan pelan dan lembut, kemudian remasanku bertambah kuat dan lebih kuat tetapi tetap lembut, karena aku tidak ingin menyakitinya. Melihat reaksi Yenny yang tetap tidak terbangun dengan apa yang sedang kulakukan, memompa gairahku untuk bertindak lebih jauh, bahkan saat ini aku tidak peduli lagi jika saudaraku yang cantik ini terbangun.

Aku beralih ke jar-jari kakinya. Kutempelkan hidungku pada jari kakinya yang mungil yang masih terbungkus manis oleh stocking dan sepatu talinya. Kuhirup dalam-dalam, aromanya benar-benar membuat kepalaku melayang, tidak tercium bau kaki yang memuakkan tetapi suatu wangi yang seksi dan menggetarkan. Kukecup satu persatu semua jari kakinya kemudian kulahap ke dalam mulutku. Hasratku meledak saat itu juga, kuoral kakinya yang terbalut stocking hitam yang halus dan lembut.

Baru kali ini aku begitu bernafsu melakukan french kiss dengan kaki perempuan. Aku tidak mau melakukannya jika pasangan seksku tidak memakai stocking atau pantyhose. Setelah puas melahap jari-jari kakinya, aku lanjutkan kecupan dan jilatanku ke pergelangan kakinya, pelan-pelan naik ke betis dan lututnya. Kugeser roknya sampai ke pertengahan pahanya. Yenny mengenakan stocking dengan bagian atas yang berenda (lacy top) dan benar-benar cocok di pahanya yang putih mulus. Tanpa ragu lagi, kujilati dan kukecup semua bagian pahanya.

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Aku terkejut dan langsung berlari dan mematikan suara HP tersebut. Ternyata aku mendapat SMS dari temanku, dan aku baru ingat kalau aku ada janji dengan mereka. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang langka ini, meskipun tabu tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Akhirnya kubatalkan rencanaku dengan teman-temanku. HP aku matikan, dan aku kembali menghadap Yenny yang tidur bagaikan patung.

Kukocok sebentar penisku yang sekeras batu dan kulanjutkan kembali menodai saudaraku. Siapa suruh dia begitu cantik dan merangsang gairahku. Kuangkat roknya sampai di atas lembah cintanya. Spontan saja kejantananku bergetar dengan kuat, sekujur tubuhku serasa lumpuh dengan gairah yang kurasakan. Tidak kusangka ia mengenakan celana dalam G string berwarna hitam yang sangat kecil. Bagian depannya hanya berupa segitiga kecil yang berpangkal di tempat bulu pubic tumbuh, hebatnya lagi Yenny mencukur bulunya sampai bersih.

Kain yang menyentuh bibir vaginanya tidak lebih dari 1 cm sehingga terbenam di dalam bibir vaginanya yang berwarna merah muda segar. Secara tidak sadar aku melepaskan desahan nafsu dan hasratku. Kusentuh segitiga kecil yang seksi itu, bahannya benar-benar halus dan lembut. Kutarik garis lurus ke arah gua cintanya. Bagaikan petir yang menyambar tubuhku, ternyata vaginanya terasa basah dan licin. Jari tengah kananku bolak balik menelusuri garis kenikmatannya. Makin lama makin terasa basah. Madu cintanya pasti terperangkap di dalam.

Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukkan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, aku pun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya.

Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran di sekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string-nya. Mulutku langsung menampung dan menyedot madu yang mengalir dengan deras. Aku terus menyedot bagaikan vaccuum cleaner. Tak dapat dihindari, suara sedotan pun terdengar nyaring. Aku tidak melihat lagi bagaimana ekspresi atau keadaan Yenny karena malam ini aku akan bercinta dengan saudaraku.

Setelah mereda, kukulum bibir vaginanya. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan bibir vaginanya yang mekar bagaikan bunga. Kugunakan kedua jariku untuk membuka pintu kenikmatannya, lidahku langsung menelusuri sisi dalamnya. Klitoris adalah sasaran utamaku. Kukulum dan lidahku menari dengan irama sedang. Klitorisnya tak dapat menolak ajakan dansaku dan bergerak mengikuti iramaku.

Aku dapat merasakan tubuh Yenny bergetar dan sedikit bergerak. Ini adalah tanda yang bagus. Ia pasti menikmatinya. Kunaikkan iramaku dan lidahku berdansa dengan liar. Tubuh saudaraku menggeliat dan otot-otot pinggulnya bergetar. Aku semakin terpacu dan bernafsu. Kuvariasikan gerakan lidahku dan kadang-kadang kugigit dengan lembut. Tubuh Yenny semakin tidak terkendali. Kunaikkan pandangan mataku dan kulihat matanya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, tangan dan kakinya pun ikut bergerak.

Aku masih ingin menikmatinya lebih lama, kuarahkan lidahku ke dalam gua kenikmatan duniawinya. Kujulurkan lidahku sejauh mungkin dan kujelajahi semua bagian dalamnya yang hangat dan lembut. Cairan hasratnya terus mengalir dan membasahi hidung dan daguku. Yenny sangat menikmatinya sama seperti aku. Aku jadi ingin bercinta dengannya dalam keadaan sadar, pasti akan lebih seru lagi. Aku iri sekali dengan suaminya, tetapi malam ini Yenny adalah milikku.

Aku kembali pada klitorisnya. Tidak lama, aku mendengar suara desahan halus yang bagaikan musik di telingaku. Desahannya makin kencang dan cepat, pinggulnya terangkat dan otot-otonya mengejang, untuk sesaat tidak terdengar desahannya. Setelah beberapa detik pinggulnya mendarat kembali ke kasur, Yenny kembali mendesah dengan penuh kenikmatan, otot-ototnya mengejang dan mengendur beberapa kali dan madu cintanya kembali membanjir keluar. Tidak kusia-siakan sedikitpun madu yang keluar.

Badannya mulai tenang, tapi kini giliranku. Kuposisikan tubuhku di atasnya dan bertumpu dengan tanganku. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka. Dengan sedikit dorongan, kejantananku masuk ke dalam lembah kenikmatan yang hangat. Badan Yenny sedikit terangkat lalu turun lagi. Kudorong lagi penisku hingga setengah panjangnya. Yenny kembali menggeliat, dan mulutnya terbuka lebih lebar dan kepalanya sedikit terangkat. Kutarik keluar sampai ujung kepala penisku lalu kudorong masuk lagi untuk beberapa kali, tidak ada hambatan yang terjadi, yang ada hanyalah jalan tol yang mulus.

Kali ini kudorong masuk semuanya. Vaginanya terasa kencang dan hangat. Aku tidak berani menimpanya jadi kusangga tubuh bagian atasku dengan tangan, pinggangku bergerak perlahan-lahan. Aku tidak berani terlalu cepat dan kencang, tapi aku jadi penasaran minuman beralkohol apa yang dia minum. Belum pernah aku bersetubuh dengan gerakan selambat ini, alhasil aku dapat merasakan semua sensasi yang terjadi pada waktu mendorong dan menarik. Yenny kembali mendesah.

Kuangkat kaki kanannya dan posisi Yenny bertumpu pada sisi badan sebelah kiri. Kupeluk kakinya yang menggairahkan dan kaki kiriku berada di depan, seperti posisi berlutut dengan satu kaki. Kuposisikan kejantananku pada gerbang kenikmatan cintanya dan kudorong masuk dan kutarik keluar dengan perlahan. Kubelai-belai kakinya yang mulus dan kupeluk bagaikan guling. Kembali kulahap jari-jari kakinya.

Ini benar-benar menakjubkan, orgasmeku sudah berada di ambang kenikmatan. Ingin sekali kukeluarkan madu murniku di dalam gua cintanya. Kukembalikan posisi Yenny sehingga ia tidur telentang. Kuangkat kedua kakinya membentuk huruf V. Kutarik penisku sampai hampir keluar dari pintu surga dunianya, kemudian kudorong masuk hingga ke pangkalnya. Setiap dorongan masuk yang mantap selalu membuat tubuh Yenny menegang.

Melihat respons yang indah ini, kupercepat irama percintaanku. Ternyata memang benar, tubuhnya menggeliat dengan hebat. Suara merdunya kembali terdengar menyanyikan puncak kenikmatan duniawi yang hanya dapat dicapai dengan orgasme. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi dengan hebat, dapat kurasakan dinding-dinding vaginanya menegang dengan kuat kemudian merenggang sebentar dan menegang lagi. Aku pun semakin bernafsu menyetubuhinya.

Orgasme yang melanda Yenny sungguh hebat, meskipun tidak sadar tetapi organ seksualnya masih bekerja dengan baik. Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan, akhirnya tibalah waktuku untuk menikmati indahnya dunia. Kucabut kejantananku, dan kuposisikan diriku di bawah dagunya. Tangan kiriku dengan intensif mengocok penisku yang hampir meledak. Tubuhku bergetar dengan sangat kuat, kesadaranku diambil alih oleh dahsyatnya orgasme. Kutempelkan ujung penisku pada pipi kirinya, semprotan pertamaku yang begitu kuat mencapai alisnya. Guncangan tubuhku yang kuat menggeser posisi penisku ke dagu Yenny. Di sinilah aku menghabiskan empat semprotan terakhir. Lima gelombang ejakulasi yang panjang, membuat tubuhku melayang.

Setelah tenang, aku memperhatikan hasil karyaku. Ada sebuah garis putih dari alis kirinya, memanjang ke mata dan pipinya dan berakhir di dagunya. Dagunya dipenuhi oleh madu cintaku sampai mengalir sepanjang lehernya. Ada cukup banyak maduku yang mendarat di bibirnya, aku yakin ada juga yang masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Yenny menelannya, spontan aku terkejut dan menjadi terangsang lagi.

Wajahnya yang cantik berhiaskan madu putihku membuatnya begitu cantik dan menggairahkan. Aku segera mengambil HP dan memotretnya dengan kamera HP. Kuhabiskan seluruh memory yang ada untuk mem-fotonya. Aku berpose dengan penisku di bibirnya, dan juga ketika penisku memasuki gerbang kenikmatannya. Ini adalah koleksiku yang sangat berharga.


E N D

Kamis, 20 Agustus 2015

Ngentot Di Keluarga Negara Italia

Cerita Hot Ngentot Di Keluarga Negara Italia - Setelah cukup lama bekerja dengan salah satu perusahaan asing di Jakarta, saya memutuskan untuk mengambil program Master of Electronics Engineering di Australia. Setelah mencari-cari universitas mana yang terbaik, saya memutuskan untuk kuliah di Universitas of Technology Sydney karena fasilitas mereka sangat memadai. Saya juga memutuskan untuk tinggal dengan salah satu keluarga di Sydeny di daerah Inner West of Sydney. Di keluarga inilah pengalaman menarik saya terjadi.

Ngentot Di Keluarga Negara Italia


Sewaktu pertama kali interview dengan keluarga ini mereka tampak sangat ramah. Mereka adalah pasangan suami-istri yang berasal dari Italy umur mereka sekitar 45 tahun. Mereka mempunyai seorang anak perempuan berumur 21 tahun. Anak perempuannya cantik sekali, dia mempunyai rambut yang hitam legam, panjangnya sebahu dan raut muka yang khas Italy, alis matanya tebal tapi terawat seperti foto model, namanya Antonella.

Antonella orangnya suka bersolek, oleh karena itu dia memutuskan untuk mengambil kursus kecantikan di TAFE, semacam program diploma di Jakarta. Ia juga sedikit manja, maklum anak satu-satunya. Ortu Antonella memutuskan untuk menyewakan salah satu kamar di rumahnya karena business mereka sedang tidak lancar. Kamarnya disewakan dengan harga $ 250.00/week, lumayan untuk tambahan sehari-hari kata mereka.

Pada bulan-bulan pertama semua berjalan dengan lancar. Saya kuliah dari pagi sampai sore dan kalau malam kadang-kadang suka ngobrol dengan induk semang saya. Mereka sangat ramah, mereka bersedia menyiapkan makan dan sering mengajak saya keluar menunjukkan kehidupan di Sydney. Kadang-kadang pada hari Sabtu dan Minggu Antonella suka mengajak saya ke night club, istilah disini "Clubbing". Saya merasa tinggal dengan keluarga sendiri dan mereka juga menganggap saya sebagai anak laki-lakinya. Mungkin ini sudah menjadi culture orang Italy yang suka hidup bersosialisasi.

Setelah 6 bulan tinggal bersama keluarga ini, suatu hari saya merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak kuliah. Saya berbaring di ranjang di kamar tidur saya. Kamar tidur saya yang bersebelahan dengan kamar Antonella. Kira-kira pukul 12.00 siang saya mendengar suara-suara berasal dari kolam renang. Oh ya, di rumah ini ada kolam renang. Tidak besar mungkin sekitar 7 x 3 meter. Saya beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk melihat siapa yang sedang berenang karena mustinya sekarang tidak ada orang dirumah.

Di kolam renang saya bisa melihat Antonella sedang berenang. Saya hampiri dia dan menyapanya.

"Hi Antonella," sapa saya.

Antonella terkejut ketika melihat saya dan menjawab,

"Hi Eddy, what are you doing at home? I thought you are at Uni,"
"No, I feel sick, so I decide to stay at home."
"O... have you take any medicine? "
"Yes, I took a tablet of Codral. Hey, what are you doing here? Aren"t you suppose to be at TAFE?"
"Nop, I feel bored so I decided to take a day off today."
"Oh, right then. I better stay in bed. Ok see you later." kata saya.

Selama percakapan tadi saya merasa agak kikuk, soalnya dari atas saya bisa melihat dengan samar-samar kalau Antonella berenang dengan tidak menggunakan baju renang! Alias naked/telanjang! Saya berusaha untuk tidak melihat langsung ke badannya dan berusaha untuk tidak merasa risih. Maklum baru pertama kali ini saya melihat Antonella tanpa busana. Biasanya saya suka melihat dia sering memakai baju seksi, tapi tidak pernah sampai telanjang.

Saya kembali ke kamar saya dan cepat-cepat pergi ke jendela. Kebetulan jendela saya menghadap ke kolam renang, jadi saya bisa melihat dengan jelas si Antonella. Dari celah-celah window blind saya bisa melihat Antonella berenang dengan tenangnya. Sayang saya tidak bisa melihat dengan jelas body si Antonella.

Setelah berenang beberapa lap, Antonella keluar dari kolam renang. Pada saat itu saya bisa melihat dengan jelas bodynya. Wah.. Bodynya benar-benar OK, maklum si Antonella orangnya memang suka menjaga kondisi tubuhnya. Dia sering pergi ke gym. Badannya tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap. Walaupun dia baru berumur 21 tahun badannya cukup tinggi sekitar 170 cm and berat badannya sekitar 57-60 kg. Saya tidak melihat selulit sedikitpun di pahanya. Buah dadanya cukup besar. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah kakinya yang jejang dan dia mencukur habis bulu kemaluannya. Jantung saya berdetak dengan kencang dan badan terasa panas dingin.

Antonella mengeringkan badannya dengan handuk, kemudian menaruh handuknya diatas kursi malas yang ada di kolam. Setelah mengoleskan suntain lotion di seluruh tubuhnya yang seksi, mulai dari dada, pinggul, kemaluan dan kakinya yang jenjang, dia berbaring diatas kursi malas. Saya berharap saya bisa mengoleskan suntain lotion di bodynya.

Setelah kira-kira 15 menit berbaring telentang dibawah sinar matahari. Dia membalikkan badannya dan berusaha mengusapkan suntain lotion ke punggungnya, tapi tidak berhasil. Saya melihat dia berpikir sebentar dan berjalan menuju ke rumah. Tak lama kemudian saya mendengar ketukan di pintu kamar saya. Saya berharap itu Antonella. Benar saja, ketika saya membuka pintu kamar Antonella telah berdiri di depan pintu, telanjang bulat, sambil memegang suntain lotion.

"Eddy, could you help me put the suntain lotion on my back? "
"Sure," kata saya sambil menelan ludah.

Saya oleskan suntain lotionnya dengan agak gemeteran, ternyata yang saya harapkan jadi kenyataan.

"Coba warna kulit saya seperti punya kamu Eddy, jadinya kan saya nggak usah berjemur," kata Antonella.
"Terima kasih, warna kulit kamu juga bagus kok dan body kamu juga okey," balas saya.
"Oh ya, kamu suka dengan body saya?" kata Antonella dengan senyum kecil.
"O iya," balas saya sambil menelan ludah lagi.
"By the way Eddy, saya merasa kamu agak gemetaran, kamu nggak keberatankan kalau saya nggak pake baju? Saya dengar orang-orang dari Indo nggak biasa ngeliat orang telanjang?"
"Bener juga sih, nggak biasanya saya melihat orang telanjang apa lagi cewek." kata saya.
"Cuman kalau kamu mau nggak pake baju itu sih terserah kamu, saya sih maklum aja, no problem."
"Oh.. Good then, soalnya saya sebenarnya suka sekali nude kalau di rumah, cuman Mama-Papa bilang karena ada kamu musti sopan. Lagian bulan-bulan kemarin kan musim dingin, jadi nggak oke. Tapi sekarang udah musim summer, jadi saya sekarang bisa menyalurkan hobby saya.
"So ortu kamu nggak keberatan dengan hobby kamu?" tanya saya.
"Nop. Mereka bilang terserah saya mau apa aja. Kadang-kadang si Mami-Papi juga suka jalan dirumah cuman pakai pakaian dalamnya saja," jawab Antonella sambil ketawa, "Cuman mungkin karena ada kamu, sekarang mereka nggak terlalu sering melakukannya. Nanti saya kasih tahu mama-Papa kalau kamu nggak keberatan."
"Okey," jawab saya sambil tersenyum kecil.
"Ok, terima kasih yah udah mengoleskan suntain lotion, saya mau berjemur lagi yah," kata Antonella.
"Bye," balas saya.

Antonella berjalan kembali ke kolam renang dan berjemur dengan posisi tengkurap. Saya kembali melihat Antonella dari balik jendela kamar. Mmhh.. Bodynya benar-benar oke. Pantatnya padat berisi dan bentuknya benar-benar bulat.

Antonella berjemur sekitar 20 menit kemudian berenang lagi selama 5 menit kemudian naik dan masuk ke dalam rumah. Saya tetap saja berada di dalam kamar dan berusaha mengintip diri pintu kamar untuk mengetahui apa yang Antonella sedang lakukan. Ternyata dia tetap tidak memakai bajunya. Dia berjalan-jalan di dalam rumah dengan santainya. Kelihatannya dia sangat menikmati keadaan dimana badannya yang tidak dibalut oleh selembar benang pun. Dia berjalan ke dapur, ruang tamu dan akhirnya duduk di sofa sambil menonton televisi.

Saya tidak tahan lagi hanya mengintip dari kamar, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan ke ruang dapur, pura-pura ambil cemilan kemudian berjalan ke ruang keluarga dan berdiri dekat televesi.

"Ada acara bagus nggak?" tanya saya kepada Antonella.
"Nothing special, ayo duduk di sofa, ngapain nonton TV sambil berdiri?" jawab Antonella sambil tersenyum.
"Ok," kata saya.

Man.. Saya duduk di sofa disamping Antonella yang telanjang bulat. Dia cuek-cuek aja. Kadang-kadang dia berkomentar tentang acara televisi dan saya hanya bisa bilang ok doang. Saya nggak bisa konsentrasi nonton TV, sebentar mata melihat TV sebentar melihat body Antonella yang oke banget. Kakinya benar-benar bagus, panjangnya proposional banget dan betisnya seperti butir padi. Dia tahu saya nggak konsen, karena kadang-kadang dia sengaja pasang posisi yang menurut saya sangat seksi sekali.

Saya duduk disofa kira-kira 15 menit dan permisi ke Antonella untuk balik ke kamar, alasannya mau belajar, cuman pembaca pasti tahu apa yang saya lakukan di kamar, tegangan lagi tinggi butuh saluran pengeluaran.

Tak lama kemudian saya mendengar kalau ortu Antonella kembali dari kerja. Saya mendengar mereka berbicara dengan Antonella menggunakan bahasa Italy. Dari nadanya kayaknya mereka sedang memperingati Antonella. Tapi Antonella cuek aja dan membalas pertanyaan mereka dengan santainya. Setelah sedikit argument akhirnya saya mendengar Antonella masuk ke kamarnya dan dari balik pintu saya bisa melihat dia keluar dari kamarnya dengan menggunakan maju mandi. Ketika saya melihat Antonella sudah memakai baju baru saya berani keluar, soalnya takut ortunya tersinggung. Saya berusaha untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya juga menjelaskan kenapa saya tidak masuk kuliah hari itu.

Malam harinya ketika selesai makan malam. Papa Antonella mengajak saya ke taman untuk berbincang-bincang. Mula-mula kita ngobrol kejadian sehari-hari. Kemudian setelah menarik napas panjang dia berbicara kepada saya.

"Tadi Antonella bilang kalau kamu membantu dia mengoleskan suntain lotion. Apakah kamu tidak keberatan dengan kebiasaanya yang suka tidak memakai baju?"
"Saya tidak merasa keberatan. Kalau Antonella tidak merasa sungkan/malu saya pun tidak jadi masalah. Masing-masing sudah besar"
"Good, saya lega mendengar itu. Tadinya saya ragu-ragu soalnya setahu saya orang Indo tidak biasa dengan nudity"
"Itu benar, tapi selagi saya tinggal di rumah anda, saya mengikuti aturan rumah anda"
"Ok.. Saya sangat menghargai keterbukaan anda. Antonella bilang bahwa dia sudah menganggap kamu seperti kakaknya"
"Saya juga sudah menganggap Antonella sebagai adik saya, so do not worry about it."

Mulai sejak itulah kebiasaan rumah mulai berubah. Antonella semakin sering berenang tanpa baju dan kadang-kadang suka berjalan-jalan dirumah tanpa mengenakan sehelai benang. Bahkan teman-teman Antonella suka datang ke rumah untuk berenang. Maklum lagi musim panas. Dan ada beberapa dari mereka yang juga suka berjemur tanpa menggunakan baju. Kalau saya kebetulan di rumah dan melihat mereka, mereka hanya tersenyum saja. Malah kadang-kadang mereka sepertinya sengaja memamerkan bodynya ke saya. Man.. I think I live in heaven.

Antonella juga sekarang berani menjelaskan kepada saya bahwa dia merasa puas bila banyak mata yang melihat bodynya, terutama kaum cowok. Dia pernah bilang bahwa kadang-kadang kalau dia pergi "Clubbing" dia sering menggunakan rok mini atau baju terusan yang pas body tanpa menggunakan Bra atau CD. Kalau dibawah lampu sorot disco orang lain bisa melihat dengan jelas bahwa dibalik baju tidak ada Bra dan CD.

Itulah pengalaman saya. Saya tinggal di keluarga itu selama 1 tahun. Saya terpaksa pindah ke tempat lain karena saya tidak bisa konsentrasi belajar dan nilai saya agak turun. Man.. Siapa yang bisa belajar kalau tahu di rumah ada cewek cakep yang suka bertelanjang ria!! Saya akhirnya memutuskan untuk menyewa flat dengan harapan bisa berkonsentrasi untuk belajar. Tapi ternyata di tempat baru pun banyak hal yang agak mengganggu konsentrasi belajar saya.


E N D

Senin, 17 Agustus 2015

Pamer Memek Depan Keponakan Tersayang

Cerita Hot Pamer Memek Depan Keponakan Tersayang - Sebut saja namaku Dina. Aku seorang wanita karier yang telah berusia 40 tahun. Tinggi badanku 170 cm dengan berat badan 43 kg. Ukuran braku 34B. Bulu-bulu vaginaku termasuk sedikit, karenanya celah vaginaku dapat terlihat dengan mudah. Berkat rajinnya aku melakukan perawatan muka dan tubuh maka kulitku masih halus, putih, bersih dan kencang. Kebanyakan teman-temanku memujiku seperti baru berumur 33 tahun.

Pamer Memek Depan Keponakan Tersayang


Saat ini aku tinggal sendiri di kawasan Surabaya bagian barat. Aku bercerai dengan suamiku sejak enam tahun yang lalu karena beda prinsip yang terlalu keras. Putra kami satu-satunya hasil dari perkawinan kami kutitipkan pada ibuku di kota asalku, Semarang.

Dulu pada waktu masih muda, aku adalah seorang eksibisionis yaitu orang yang suka memamerkan tubuhnya pada orang lain. Hanya saja aku suka melakukannya seolah-olah aku sendiri tidak tahu kalau pakaianku tersingkap. Sifat itu menghilang ketika aku memasuki masa-masa berkerja, tetapi setelah bercerai selama enam tahun, sifat itu mulai kembali lagi. Kalau pulang ke rumah setelah kerja, aku suka melepaskan semua pakaian kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu, biasanya aku akan mandi tanpa menutup pintu kamar mandi dan keluar kamar mandi setelah selesai dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kalau tidak malas, aku akan memakai celana dalam dan bra atau gaun malam saja tanpa celana dalam dan bra. Tapi kalau malas, aku akan membiarkan tubuhku telanjang, lalu aku akan mulai makan, nonton TV ataupun bersantai. Aku juga suka tidur dengan pakaian yang sexy dan minim. Pernah aku tidur tanpa memakai pakaian sama sekali.

Dua bulan yang lalu, aku kedatangan tamu dari Semarang. Tamu itu adalah keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, dia anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia datang di saat liburan sekolahnya. Aku sangat gembira menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari awal semuanya berjalan seperti normal, tetapi satu minggu kemudian, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada tempat dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada timbul kecurigaan kalau keponakanku itu memainkan pakaian dalamku, sebab kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada pakaian dalamku yang hilang lalu besoknya ditemukan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks tentang aku.

Suatu malam aku memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku segera mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuhku bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkanganku. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa halangan.

Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton TV dan segera duduk menonton TV. Mula-mula aku berusaha duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama kemudian, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang sambil menonton TV, tetapi aku tahu kalau dia diam-diam mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seolah-olah menjangkau sesuatu yang akhirnya mempermudah dia melihat payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak lama kemudian, aku mencoba lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bagian belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku aku bisa melihat kalau keponakanku melihat bagian itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari masa mudaku sebagai seorang eksibisionis.

Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, tetapi menyisakan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun saat itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, pura-pura konsentrasi pada g-stringku agar dia tidak kaget. Kemudian aku membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, tetapi dari banyak yang kudengar, sebetulnya lelaki paling menyukai saat ini yaitu pada saat perempuan mulai membuka pakaiannya.

Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku yakin dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sangat menikmati pemandangan vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka melihat perempuan kencing. Setelah kencingku selesai aku kembali berdiri, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, aku membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku memberikan kesempatan kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat aku. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding aku melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.

Saat aku berjalan ke arah sofa, aku melihat kalau muka keponakanku merah, Dalam hatiku aku tertawa karena teringat masa laluku sebagai eksebisionis. Waktu itu, semua laki-laki yang memandangku saat aku sedang "Beraksi" juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, aku melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, aku kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton TV dan bincang-bincang kami. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk tidur, karena saat itu jam 11.30.

Saat di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Gaun malamku yang tersingkap saat aku naik ke tempat tidur kubiarkan saja sehingga memperlihatkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri merosot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati kalau diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok aku merencanakan sesuatu yang lebih enak lagi.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku bangun dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, aku bertemu dengan keponakanku yang sudah bangun. Dia sedang menonton acara TV pagi. Aku menyapanya dan segera di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku kemudian membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di tempat cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang karena gerakan tanganku yang menyikat gigi.

Keponakanku pasti melihatnya dengan jelas karena aku sudah mengatur posisi tubuhku agar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah selesai, aku kemudian membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, aku siram dan aku masuk ke tempat shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku kemudian mandi seperti biasa, tetapi saat menyabuni badan, aku menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, aku masih melanjutkan acara mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, aku kemudian mengeringkan badan dan rambut, lalu melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku melihat dari pantulan tegel dinding kalau keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.

Saat keluar aku melihat keponakanku duduk di depan TV sambil menikmati acara TV. Aku tahu sebetulnya dia hanya pura-pura. Mukanya merah seperti kemarin sewaktu habis mengintipku kencing. Aku kemudian masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan harapan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat kalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka lilitan handukku sehingga aku telanjang bulat. Setelah itu, dengan handuk itu, aku terus mengeringkan rambutku yang basah sementara aku terus menuju ke meja rias.

Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, aku mengeringkan rambutku. Setelah kering, aku menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil sebuah strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, tetapi kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bagian bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku aku merapikan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku melihat kalau bayangan keponakanku sudah tidak ada.

Setelah itu, aku keluar kamar dan menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu sudah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi dia tidak cuma sekedar mandi, tetapi pasti memakai gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli karena merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.

Saat makan pagi siap dan keponakanku selesai mandi, aku menyuruhnya makan bersama. Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu kalau keponakanku memperhatikan bra yang terlihat akibat bagian leher yang terus melonggar. Setelah makan selesai, aku membereskan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah aku merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.
Sejak hari itu, aku selalu bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku saat mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan memakai pakaian dalamku sepanjang dia mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke tempat cucian.

Aku pura-pura tidak tahu kalau dia melakukan semua itu. Hanya saat aku melakukan masturbasi saja yang tidak kubiarkan dia mengintip. Lagi pula biasanya aku melakukan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena aku malu menunjukkan kepadanya kalau aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati situasi ini sampai saat dia harus pulang kembali ke Semarang, aku mengatakan kepadanya kalau aku sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah aku suka diintip olehnya. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tetapi dia juga mengatakan kalau dia sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan selanjutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menunjukan tubuhku lagi kepadanya.

Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi hanya saja aku sekarang lebih suka diintip.

E N D

Minggu, 16 Agustus 2015

Nikmatnya Memek Minah

Cerita Hot Dewasa Nikmatnya Memek Minah - Ada cewek, anak gadis, mondok di tetanggaku. Dia adalah saudara sepupu tetanggaku itu. Namanya Karminah, atau panggilannya Minah. Setiap pagi dan sore dia nampak nyapu di halaman rumahnya yang kebetulan tepat di depan rumahku.



Aku sangat 'kesengsem' dengan penampilannya yang bagi mata keranjangku sangat luwes, sensual dan seksi. Mungkin usianya sekitar 20 tahunan. Aku sangat senang memperhatikan saat dia menyapu dan menyiram tanaman hiasnya. Gerakannya menunduk, membungkuk, mendorong sapu, mengumpulkan sampah ke pengki, nungging untuk mengambil dedaunan yang tak kena sapu, merapikan dan menyiram tanaman dan seterusnya.

Saat dia membungkuk aku selalu membayangkan bokongnya yang sangat menggetarkan hatiku itu. Aku pengin banget menciuminya. Pasti bokong macam itu nikmat banget untuk membenamkan mukaku de dalamnya. Aku akan ciumi lubang pantatnya. Dan aku akan hirup dan jilati aroma dan lengketan semen yang keluar darinya. Mungkin aku juga akan cocol atau colekkan kue atau makanan kecil lainnya pada semennya sebagai saus yang sedap dari lubang pantatnya itu sebelum kusantap.

Aku juga perhatikan punggungnya yang sedikit bongkok udang. Punggungnya itu menyimpan kenikmatan untuk bibir dan lidahku. Aku bisa menjilati atau mengecupi dengan sepenuh birahiku. Lidah dan bibirku itu akan melata dan merambah pori-pori kulit punggungmya dan merembet kesamping kanan atau kirinya kemudian sedikit kebawah menuju ketiaknya yang sungguh membuat aku blingsatan saat dia mengangkat sapu dan pengkinya untuk membuang sampah ke dalam tong.

Oh, Minah.., kenapa kamu mempesonaku? Akankah kau biarkan aku menikmati dari kejauhan saja? Dan rasanya jawabannya adalah, ya!

Aku tinggal di lingkungan yang cukup ber-etika, moral dan budaya. Tak mudah aku berlaku sembarangan, apalagi untuk hal-hal yang berbau seronok atau mesum. Hal macam itu sangat terasa tabu dan amoral.

Kalau sampai terjadi pasti aku akan terbuang dari lingkungan se-umur-umurku. Baik dari lingkungan tetangga se-RT bahkan bisa se-RW, juga di dalam lingkungan rumahku sendiri yang isinya komplet, ada istri, ada anak, ada ipar yang masih kuliah disamping ada yang paling sering mengesalkan, mertua perempuanku.

Oleh karenanya, aku putuskan sendiri, jauhilah tingkah laku mesumku. Kalau toh terpaksa, ambil saja sarung, duduk melipat kaki di beranda dengan berkerudung dari bahu hingga mata kakimu. Ingat berkerudung macam itu kan biasa bagi orang desa asalmu. Dan orang-orang di sekitarmu semua tahu asal-usulmu.

Kemudian tangan kanan pegang koran atau majalah sambil tangan kirimu mengelus-elus, memijat-pijat atau mengocok-ocok penismu sendiri. Jangan lupa pakai kacamata rabunmu agar kamu bisa menikmati Minah lebih tajam di pagi atau sore hari saat dia menyapu halaman rumahnya.

Kembangkan daya khayalmu, tetapi waspadalah jangan sampai ada orang, mungkin mertua perempuanmu yang mengesalkan itu, yang juga diam-diam memperhatilan tingkahmu itu, karena keheranan kenapa Mas Karyo koq selalu kerudung sarung setiap pagi dan sore. Ha, ha, ha..

Begitulah yang bisa kulakukan untuk memuaskan syahwatku. Mungkin telah berhari-hari atau berminggu-minggu berlalu. Aku menjadi semakin kreatif karena hampir setiap hari aku mengembangkan daya khayal dan semakin banyak ilmu karena koran atau bacaan apa saja tak pernah kulewatkan setiap pagi dan sore.

Tidak jarang berita, iklan atau rubrik yang sama kubaca hingga 4 atau 5 kali. Tetapi lama kelamaan aku merasa statis, Begitu-begitu saja setiap hari. Tak ada lagi kejutan atau sensasi yang bisa mendongkrak syahwatku untuk meraih kwalitas kenikmatan birahi yang lebih tinggi lagi.

Aku ingat pada saat aku menemukan ide kerudung sarung dulu, aku bisa meraih orgasmeku hingga penisku mau menumpahkan spermanya bergalon-galon rasanya. Waktu itu sarungku selalu basah dan lengket sesudahnya. Dan oleh karenanya aku harus sering menjatuhkan sarungku ke lantai basah saat mandi untuk bisa beralasan mengucek-ucek dengan detergen saat menghilangkan cairan kentalku itu.

Tetapi kan tidak mungkin setiap kali sarungku jatuh. Apa kata mertuaku nanti. Aku perlu melakukan inovasi untuk menghadirkan kembali sensasi seksual dalam hal ber-onani sambil mengkhayal menggeluti Minah dengan segala perabot tubuhnya yang demikian sensual dan membuat aku semakin mabok setengah hidup itu.

Ternyata setiap bentuk inovasi itu selalu ada kandungan penyimpangannya. Ya, inovasi berarti menyimpang. Menyimpang dari rutinitas, menyimpang dari kebiasaan, menyimpang dari adat, etika dan moral dan harus juga berani nyerempet-rempet bahaya. Artinya yang tadinya mutlak tabu, dengan inovasi itu aku bisa tawar menawar dengan tabu itu.

Kalau tadinya sama sekali jangan, sekarang sedikit boleh. Tentu saja dengan catatan-catatan agar yang tadinya tak legal menjadi legal. Pokoknya disiasatilah. Dan akhirnya sesudah aku mengerahkan segala dayaku datanglah disain inovasi itu. Ini benar-benar akan menjadi terobosan tingkah lakuku dalam mengejar syahwat. Aku akan tetap berkaca mata rabun dengan tangan kanan membawa koran, tetap duduk di beranda sambil melipat kaki dengan sarung yang dikerudungkan hingga ke bahu. Dan tangan kiriku tetap mengelusi, memijat-pijat dan mengocoki penisku. Inovasiku yang sekarang terletak pada sarungku itu.

Aku akan menciptakan lorong sarung, begitulah sebutannya yang paling tepat. Lorong sarung itu akan tercipta apabila aku sedikit melonggarkan ikatan sarungku yang semula menutup mata kaki kini kuangkat naik hingga dekat ke lututku. Atau kalau kurang berhasil aku akan melonggarkan selonggar-longgarnya ikatan sarung lebih tinggi lagi, hingga selangkanganku akan luas terbuka.

Aku ingin dari tempat biasa menyapu si Minah bisa memandang lorong sarungku hingga melihat penisku. Aku akan terus bergaya membaca koran, seakan-akan aku tidak melihat bahwa dia sedang menyapu sambil setiap kali mengamati kemaluanku dalam lorong sarung itu.

Aku akan dengan mudah mengintip tingkahnya dari celah lembaran koranku. Aku akan menikmati bagaimana serba salahnya si Minah yang birahi menyala menjadi gelisah saat menyaksikan penisku ini.

Tentu saja secara hati-hati setiap kali aku akan, entah memperdengarkan tarikan kursiku, atau bersiul pelan atau apalah nanti untuk menarik perhatian agar Minah mau menengok ke tempat aku duduk ini.

Sore itu, sekitar jam 4, seperti biasa Minah keluar dari rumahnya lengkap dengan slang air, sapu lidi dan pengkinya. Hari ini rupanya dia juga menyirami tanaman, kulihat dia mulai dengan mengatur-atur tanaman hiasnya, membersihkan dedaunan yang tua sebelum menyemprotkan air yang dia ambil melalui slang dari kran air yang terpasang di depan rumahnya.

Aku langsung pasang aksi. Membetulkan dudukku, berkerudung dari bahu hingga ke lututku, kemudian kuambil koran dari meja. Aku bergaya membaca, sementara mataku mencari di mana si Minah. Ah, itu dia. Si Minah masih asyik merapikan tanaman hiasnya. Woo, dia akan melihat penisku dari balik dedaunan tanamannya. Aku menarik meja hingga mengeluarkan suara derit kakinya yang beradu dengan lantai. Haah, aku berhasil.

Minah mengarahkan matanya ke aku. Pasti dia melihatku walaupun tadi kulihat baru sepintas. Dan benar, setelah beberapa saat kutunggu Minah bergeser ke dedaunan yang lebih rimbun dengan wajahnya yang menghadap ke arahku. Aku terus pura-pura membaca dan tanganku mulai mengelus-elus jagoku yang berada di lorong sarungku ini.

Ah, benar, dia menyaksikan semua ulahku. penisku kontan ngaceng banget. Inilah inovasi yang bisa memberikan sensasi syahwat padaku. Kini aku gemetar merinding. Aku merasakan betapa nikmatnya memperlihatkan ulah jorokku pada si Minah ini. Aku yakin pada saat yang sama jantung Minah berdegup kencang, dan naluri birahinya terusik.

Dari balik dedaunan mungkin sekali dia kegatalan lantas merabai puting susunya. Kalau si Minah begitu lama berada di balik dedaunan itu aku semakin yakin bahwa dia benar-benar sedang terperangkap keasyikan syahwatnya. Kulihat dia bergeser ke kanan atau kekiri untuk menampakkan bahwa dia sedang bekerja. Tetapi sama sekali dia tak melepaskan arah pandangannya ke aku.

Duh nikmatnya elusan tanganku. Jari-jariku semakin memilin atau meijit-pijit batang maupun kepala penisku. Aku setengah merem melek keenakkan. Darah birahiku mulai loncat ke-ubun-ubun. Khayalanku terbang ke awang-awang kemudian turun di halaman depan rumah untuk menyambangi Minah yang sedang menyapu. Dia diam saja saat dengan khayalku memperosotkan celana dalamnya dan aku menciumi pantatnya.

Dia membungkuk untuk memberikan kesempatan padaku meraih jilatan pada lubang pantatnya. Kocokkan tanganku semakin cepat. Aku juga menjilati selangkangan dan vagina Minah. Kurasai aroma pesing kencingnya dari bibir-bibir vaginanya.

Kutusukkan lidahku untuk menari-nari di lubang vaginanya. Kuelus dan kupijit panjang penisku. Spemaku akan muncrat nih.. Aku melototkan mataku ke arah Minah untuk menghayati sedalam-dalamnya khayalanku. Ahh.. Nikmat banget. Dan..

Minaahh.. Minaahh.. Minaahh.. Karminahh.. Ahh.., akhirnya crot.. crot.. crot..

Kali ini tidak membasahi sarungku. Spermaku langsung loncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi.
Jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Aku menarik nafas panjang. Ploonng.. Legaa.. Aku melihat Minah salah tingkah. Sejak tadi dia belum beranjak dari rimbunan dedaunan tanaman hiasnya. Biar dia tak gelisah, aku berdiri meninggalkan bangkuku. Aku masuk ke rumah.

Aku mengambil kopi panasku yang telah disediakan istriku. Dengan kue dan kopi di tangan aku kembali ke beranda. Kini acaranya tidak lagi memasang kerudung sarung. Hanya ngopi sambil baca dan sesekali menyaksikan si Minah yang pasti sedang penasaran.

Aku akan buat dia tetap penasaran hingga besok sore saat dia kembali nyapu dan menyiram tanaman. Aku perhatikan kini dia menyapu tanpa konsentrasi, sebentar-sebentar menengok atau melirik ke arah aku duduk. Hi.. Hi..

Benar, khan. Kali ini aku ngintip dari jendela. Ah, kasihan si Minah. Kulihat dia mondar mandir sebelum waktunya untuk nyapu, sepertinya dia men-cek tempat aku biasa duduk. Kali ini 'bargenning position' ada di tanganku. Aku akan keluar agak lambat dari waktu biasanya.

Aku akan keluar nanti saat dia menyapu hampir selesai. Sementara biar aku ngintip dulu dari jendelaku. Betapa Minah ini memang sangat sensual. Dalam pakaian macam apapun. Juga dalam setiap geraknya, entah jongkok, berdiri, saat menyapu, saat membetulkan ikatan rambutnya sehingga ketiaknya nampak terbuka, entah sedang membungku untuk mengambil sapu.

Uhh, sungguh mempesona. Aku tak tahan lagi. penisku kembali tegang mengeras. Ah, sebaiknya aku mulai duduk saja ke beranda. Dengan sarungku aku naik ke bangku beranda rumahku. Kuangkat melipat kakiku ke bangku dengan tepian sarungku berhenti pada lutut sehingga terbitlah lorong sarungku.

Pahaku nampak terbuka dan mata Minah pasti akan langsung menatap penis di tangan-tanganku yang sibuk mengelusi atau memijat-mijat dan kemudian akan mengocok-ocoknya saat nafsu birahiku semakin meninggi dan memuncak.

Duh, Karminah.., kenapa kamu yang secantik ini hanya menyapu halaman rumahmu? Bukankan lebih baik kalau kamu duduk di pangkuanku? Bukankah aku bisa memberikan kesenangan padamu dengan membelai payu daramu yang indah itu? Dengan menciumi bokongmu yang sangat sensual itu? Dengan menjilati ketiakmu yang.. Pasti sangat harum itu?

Ah, Minaahh.., Karminaahh.. Sini kamu. Biar kulepasi celana dalammu. Biar kukecup dan jilati pahamu. Biar kuciumi kemaluanm. Vagina indahmu. Biar kuceboki dengan lidahku saat engkau usai melepas air kencingmu. Sini, Minah.. Mas-mu ini sangat rindu kamu..

Mataku melototi Minah yang menjadi salah tingkah. Kadang jongkok, kadang berdiri, kadang bergeser ke rerimbuanan dedaunan tanaman hiasnya. Daann.., ah, itu kan Bu Ani isteri Pak Durma tetangga sebelah kanan rumah Minah. Dia juga menyapu halaman rumahnya. Ternyata Bu Ani juga sangat cantik ketika sedang menyapu.

Dan lhoo.., ituu.. Dik Karsih, adik ipar Pak Ferdi, tetangga sebelah kiri rumah Minah. Dia juga menyapu halamannya. Duhh.. Bodinya montok banget. Uhh.. penisku menjadi sangat gatal. Aku sebaiknya memijat-pijat lebih keras dan mengocok lebih cepat.. Kini aku mulai menciumi Ani yang isteri Pak Durma. Aku ingat betapa ketiaknya penuh bulu. Ketiak wanita seusia Bu Ani yang 28 tahun itu pasti sangat harum baunya.

Dan ketika kocokkan penisku semakin cepat ciuman dan jilatanku berpindah ke Dik Karsih yang sangat montok itu. Kujelajahi susu dan pentil-pentilnya. Aku merambah perutnya dan cepat turun ke vaginanya. Duh.. 'gembul'-nya rambut kemaluan Dik Karsih. Aku cepat benamkan wajahku ke rimba indah itu. Kuhirup udara penuh aroma syahwat di dalamnya.

Lho, lho, lhoo.. Kenapa para perempuan kanan kiri rumah Minah kini pada keluar menyapu bersama? Itu ada Bu Denis, ada jeng Tatik, Bu Harsa, bu.. Dik.. Jeng.. Mbakyuu.. Siapa lagi ituu.. Dan kocokkanku kini mendekati puncaknya. Spermaku rasanya telah merambati batang penisku dan aahh.. ampuunn.. Aku tak mampu menahannya lagi..

Spermaku kembali muncrat meloncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi. Seperti kemarin, jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Kali ini cairan kental bening keputihan yang keluar penisku ini rasanya tak habis-habisnya.

Berkali-kali semprotan penisku meloncati kakiku hingga aku jatuh terseok ke bangkuku. Dan dari balik mataku yang masih setengah merem melek menanggung kenihkmatan birahiku kulihat sama-samar Minah, jeng Tatik, Bu Harsa, Dik Karsih, Bu Denis, Bu Ani. Mereka pada berhenti menyapu halaman rumahnya. Mereka menahan air liurnya sambil menapatap ke arah sarungku. Duhh.. Aku jadi tersadar.

Rupanya mereka ramai-ramai menonton ulahku. Mereka telah ber-konspirasi untuk menonton tingkah mesum-ku. Dan samar-samar kudengar mereka tertawa cekikikan saat dengan rasa malu yang amat sangat aku berlari kecil masuk ke rumah.

Sejak itu aku sering dengar, saat ibu-ibu pada nge-gosip dan kebetulan aku lewat di depannya, ada saja bisik-bisik,

"Ssstt.. Itu Mas 'Karyo sarung' lewat..".

Kemudian terdengar ketawa mereka yang cekikikan. Aku jadi obyek kelakar mereka. Aku benar-benar telah kehilangan 'pamor' di wilayah RT dan RW-ku.

*****

END

Sabtu, 15 Agustus 2015

Nikmatnya Memek Putri Majikanku

Cerita Hot Nikmatnya Memek Putri Majikanku - Asalku dari kampung di Jawa. Setelah lulus SMU aku mengadu nasib ke Jakarta. Dasar sial aku gak bisa dapet kerjaan yang cocok. Mau balik malu. Akhirnya setelah beberapa kali ganti kerja akhirnya aku bekerja jadi kacung rumah tangga. Majikanku seorang keturunan. Ia tinggal dengan istrinya dan anak perempuannya yang bungsu.

Nikmatnya Memek Putri Majikanku


Majikanku anaknya tiga orang, yang dua sekolah di luar negeri. Yang bungsu baru masuk kuliah tingkat satu. Namanya Vera, tapi aku biasa memanggilnya Nonik. Sebenarnya aku nggak berani berpikir macam-macam karena ia adalah majikanku. Tapi akhirnya aku jadi 'tergoda' juga karena selain orangnya cantik kayak artis mandarin dia suka pakai pakaian yang ketat dan seksi. kadang ia memakai dasternya yang cukup tipis dan tembus pandang, keliatan kulit tubuhnya yang putih mulus sampai BH dan celana dalamnya pula. Ditambah bau tubuhnya yang harum. Apalagi aku sejak dari kampung selalu mengagumi kecantikan artis-artis mandarin dari televisi. Diam-diam aku jadi ngaceng juga kalo ngelihat dia.

Kadang waktu duduk kedua kakinya agak terbuka. Pertamanya kelihatan pangkal pahanya saja yang putih mulus dan menggairahkan. Terus aku nyari posisi yang pas sambil ngepel di kolong meja aku leluasa melihat pahanya sampai ke celana dalamnya. Ketauan celana dalamnya warna coklat. Langsung aku jadi ngaceng. Rasanya pengin ngeraba-raba pahanya dan melihat yang di balik celana dalamnya itu. Sempat beberapa saat aku liatin terus. Kadang ia pakai baju yang lehernya agak rendah jadi keliatan belahan dadanya bagian atas. Atau pakai baju putih tapi BH-nya warna hitam. Semua itu bikin aku jadi adem panas.

Suatu malam aku lagi nonton TV di ruang tamu. Waktu itu tuan dan nyonya sudah tidur. Vera baru pulang dan setelah itu mandi. Setelah selesai mandi, ia memakai kimono yang agak basah. Kulihat sekilas dadanya bergerak-gerak dengan bebas. Wah, apa dia nggak pake BH, pikirku. Seketika anu-ku menjadi menegang. Memang dadanya cukup besar dan padat berisi. Pernah kulihat ukuran BHnya 34C. Setelah itu ia memanggilku minta makanannya untuk dipanasi. Karena bajunya yang agak basah, kelihatan kedua putingnya yang menonjol di balik dasternya dan bergerak-gerak. Seketika aku menjadi tambah ngaceng menyadari aku melihat payudaranya Nonik. Dengan rambutnya yang agak basah membuatnya makin menggairahkan. Kalau nggak ingat ia putri majikanku dan majikanku ada di kamar mungkin ia sudah kuciumi dan .. Tapi aku nggak melakukan apa-apa cuma seringkali melirik ke arah dadanya. Herannya ia cuek saja, seolah-olah tidak ada apa-apa.

Malamnya aku benar-benar nggak bisa tidur. Aku ingin onani tapi keinginanku bisa kutahan sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku jadi mimpi basah dan sadar sepenuhnya. Kurasakan air maniku keluar banyak sekali sampai celanaku benar-benar menjadi basah. Dalam mimpiku aku masuk ke kamarnya, kutelanjangi dia kemudian ia kusetubuhi sampai dia nggak perawan lagi. Benar-benar itu adalah mimpi basahku yang terhebat yang pernah kualami. Sejak saat itu aku jadi tak tertahankan lagi untuk onani hampir tiap malam membayangkan Nonik.

Sejak saat itu semakin sering saja kejadian-kejadian yang 'kebetulan'. MIsalnya saat tuan dan nyonya sedang mengurus tanamannya di taman, aku lagi nyapu ruang tamu, nonik keluar dari kamarnya tanpa memakai BH. Kadang ia memakai BH tapi mungkin terbuat dari bahan yang tipis sehingga membuat kedua putingnya tampak menonjol. Secara pukul rata, hampir tiap hari aku bisa ngeliat susunya Nonik kadang malah sehari lebih dari sekali. Dan semuanya itu dilakukan seolah-olah hal yang biasa dan anehnya Nonik Vera cuek aja seperti nggak ada masalah apa-apa. Akibatnya aku jadi terbiasa tiap hari onani.

Hal paling hebat yang pernah kualami, kebetulan kamar Nonik ada jendela yang menghadap taman di dalamnya ada kamar mandi sendiri. Beberapa kali di waktu malam aku coba ke taman, siapa tahu tirai plastiknya terbuka jadi aku bisa ngeliat ke dalam. Beberapa kali hasilnya kosong sampai suatu saat..

Malam itu tirai plastiknya nggak tertutup rapat jadi aku bisa melihat ke dalam apalagi di luar gelap sementara di dalam kamar terang karena lampu. Kulihat kamarnya kosong, kayaknya ia di kamar mandi. Tak lama kemudian ia muncul. Pake daster yang sama waktu pertama kali aku ngeliat dadanya itu. Kali ini juga ia tidak memakai BH. Lalu dengan posisi membelakangiku ia menanggalkan bajunya! terlihat olehku dari belakang postur tubuhnya dan lekuk-lekuknya yang menggiurkan. Ia cuma mengenakan celana dalam saja warna merah muda. Rambutnya yang sebahu menutupi punggungnya bagian atas. Selain itu kelihatan jelas kulit tubuhnya yang putih halus dan mulus, pinggangnya yang ramping serta pinggulnya yang seksi.

Kemudian ia mengambil daster di lemari. Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon sehingga ia tidak jadi mengambil dasternya. Malah ia mendadak berbalik! Wah, buset! Baru kali ini aku melihat payudaranya secara jelas banget. Ternyata payudaranya benar-benar indah. Padat berisi dan ukurannya proporsional dengan tubuhnya yang tinggi serta masih kencang. Putingnya menonjol keluar serta warnanya merah segar. Cocok sekali dengan celana dalamnya. Ia berbincang-bincang di telepon sambil duduk di meja menghadap kaca yang arahnya 90 derajat dari posisiku.

Semuanya itu dilakukan saat ia telanjang dada! Berkali-kali payudaranya bergerak-gerak mengikuti gerakan tangannya. Aku bisa melihat payudaranya dari dua arah, dari samping agak belakang serta dari pantulan kaca. Langsung aku memegang-megang Ujangku. Selesai telpon ia mencuci mukanya di wastafel hanya dengan memakai celana dalam saja. Kembali aku melihat dadanya dari sudut yang lain. Akhirnya pada posisi menghadap frontal ke arahku ia melakukan gerakan melepas celana dalamnya! Ouch. Akhirnya pada malam itu aku berhasil melihat tubuh Nonik Vera yang telanjang bulat tanpa selembar benang pun. Rambut kemaluannya ok juga sih. Nggak terlalu lebat dan nggak terlalu jarang.

Tapi yang kulihat berikutnya makin membuatku tegang. Karena tak lama kemudian Nonik Vera berbaring telentang di ranjang yang persis di depanku. Kepalanya menghadap kearahku. Mula-mula ia meram beberapa saat kemudian kedua tangannya meraba-raba perut dan pahanya termasuk pangkal pahanya. Kemudian ia menggeliat-geliat dan mulai meremas-remas payudaranya. Wah! Lalu jari-jarinya menggerak-gerakkan putingnya dan ia makin merintih dan menggeliat-geliat. Ternyata ia sedang beronani! Kemudian ia mengangkangkan kedua kakinya sampai aku bisa melihat dengan jelas vaginanya. Lalu ia menggesek-gesekkan jarinya ke vaginanya.

Melihat itu aku jadi nggak tahan akhirnya aku menanggalkan pakaianku juga sampai telanjang bulat trus aku mengocok Ujangku sambil menonton pertunjukannya Nonik Vera. Sampai beberapa saat kemudian kita saling memainkan alat vital masing-masing. Sampai kemudian kulihat Nonik Vera kepalanya menghadap lurus ke atas matanya tertutup. Tangan kirinya meraba-raba putingnya sementara tangan kanannya makin kencang menggesek-gesek vaginanya akhirnya kudengar desahannya sambil tubuhnya menggelinjang. Kayaknya ia sudah orgasme. Tak lama kemudian sambil menatap payudaranya dan kemudian liang vaginanya dalam posisi dia yang kakinya terpentang lebar, aku mengalami ejakulasi, air maniku kutumpahkan di tanah sambil menatap liang vaginanya. Itu adalah masturbasiku yang terindah dan paling nikmat! Tak lama kemudian aku segera balik ke kamarku dan tidur dengan nyenyak.

Sejak saat itu aku jadi makin sering melihat Nonik Vera telanjang atau setengah telanjang. Uniknya Nonik Vera sepertinya cuek aja atau mungkin pura-pura tidak tahu? Ia tidak pernah menyinggung atau berbuat sesuatu yang menunjukkan kalau ia tahu. Jadi kesimpulanku Nonik Vera seorang yang eksibisionis. Sungguh beruntung aku bekerja disini.

END

Senin, 10 Agustus 2015