Sabtu, 25 Juli 2015

Ngentot Bareng Dengan Pacar Lesbian

Ngentot Bareng Dengan Pacar Lesbian - Ini adalah kisah nyata, namun saya tidak akan menceritakan secara rinci, karena saya tidak mau seseorang yang kenal dengan salah satu pribadi yang ada di dalam cerita ini dapat mengetahuinya.


Ngentot Bareng Dengan Pacar Lesbian

Sebenarnya peristiwa ini terjadi di tahun 1997, saat itu usia saya sudah 23 tahun. Saya mengalami percintaan dengan sepasang lesbi, sebut saja Rina (23 tahun) dan Rini (21 tahun). Saat itu aku baru kenal dengan Rina di lokasi syuting sebuah film percintaan yang kebetulan aku menjadi pemeran utama prianya bersama 3 pemeran utama wanita yang salah satunya Rina itu. Berhubung karena dua pemeran utama wanita lainnya sudah punya pacar dengan sering datang ke lokasi syuting, hal ini menjadikanku lebih akrab dengan Rina.

Kami sering bicara tentang apa saja kecuali relationship. Sampai suatu hari, di saat kami sedang berduaan di kamar rias, aku berhasil mengarahkan pembicaraan tentang seks. Namun dia tidak banyak bercerita, hanya banyak bertanya dari apakah aku pernah berhubungan seks, berapa banyak, dengan berapa orang, pernah 'jajan', sampai gaya yang kusuka.

Sampai suatu hari, dia mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung.
"Di, aku perlu bantuan kamu, tapi kamu bisa pegang rahasia nggak..?"
Aku pun langsung mengangguk, karena pikiranku sudah kotor saja. Dan ternyata benar, dia mengajakku berkencan dengan syarat aku harus 100% mengikuti gaya permainan yang diinginkannya. Dan di sore harinya saat kami berdua harus menunggu jadwal berikutnya di malam hari, Rina langsung mengajakku mencari motel terdekat dengan menggunakan mobilnya.
"Pake mobilku aja yah Di..?" pintanya.
Dan aku bilang, "Enaknya kamu aja deh, Rin."

Kami pun langsung meluncur ke salah satu motel di Jakarta dekat lokasi syuting, namun yang membuatku kaget, begitu sampai di garasi dia langsung membuka bagasi dan mengeluarkan dua gulung kain putih.
Melihat wajahku yang kebingungan, dia bertanya, "Kamu ngga berubah pikiran, kan..?"
Singkat kata, aku pun sudah berbaring di tempat tidur hanya menggunakan CD, dan dalam keadaan kedua tangan dan kaki terikat dengan kain yang dibawanya tadi. Dia pun tanpa buang banyak waktu langsung membuka seluruh bajunya, tinggal BH dan CD yang berwarna biru muda berenda-renda yang masih menempel di tubuhnya.

Kemaluanku yang memang sudah tegang sejak di perjalanan seakan ingin mencuat keluar dari CD. Namun anehnya, dia tidak menyentuhku sama sekali, hanya memainkan kedua payudaranya dan mendesah sendiri. Tidak lama kemudian dia mencopot BH-nya, dan waauuw.., bentuk payudaranya indah sekali (saya tidak tahu ukurannya, karena memang bagi saya bentuk lebih utama daripada ukurannya).
Dia pun terus memainkan kedua payudaranya, lalu berkata pelan, "Sekarang saatnya laki dipake perempuan."

Aku hanya diam, dan akhirnya kupejamkan mata, karena itu yang dia minta dari awal, kupikir akan kuikuti saja permainannya. Dia pun mulai meraba dan mengelus seluruh tubuhku dan meremas-remas kemaluanku, agak sakit sebenarnya tapi tidak kuperlihatkankan agar dia dapat menikmati sepuasnya. Beberapa menit berlalu, aku pun menikmatinya, dan akhirnya kudengar seperti suara CD yang dilepaskan, dan dia pun semakin menaiki tubuhku. Karena penasaran, aku pun mulai sedikit membuka mata, kulihat dia menyodorkan kemaluannya di depan wajahku, dan memintaku menghisapnya. Aku pun menghisapnya tanpa rasa jijik, karena aku hanya menemukan aroma harum kemaluan wanita yang terjaga kebersihannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar dari mulutnya yang dari tadi diam seribu bahasa desahan, dan kemaluan Rina sudah sangat basah sekali, bukan karena ludahku, tapi pasti karena dirinya sudah sangat terangsang. Namun kurasakan ada benda dingin menempel di pahaku, ternyata Rina hendak menggunting CD-ku, mungkin karena sulit melepaskan dalam keadaan aku terikat kuat begini. Kemaluanku yang sudah agak pegal karena dari tadi tegang terus, kini agak lega karena sudah tidak tertahan CD lagi. Rina pun langsung menempelkan ujung barangku di depan kemaluannya, dan kali ini terdengar desahannya lebih keras dan lebih lepas lagi.

Perlahan tapi pasti, Rina mulai menurunkan pantatnya, dan memasukkan barangku lebih dalam lagi. Kenikmatan yang amat sangat yang kurasakan ini seakan tidak ingin kukeluarkan barangku dari kemaluannya. Dia pun sambil mendesah dengan nafas yang terengah-engah terus menekan hingga habis barangku ditelan kamaluannya.

Walau dalam keadaan terdiam, aku dapat merasakan kehangatan dan denyut kenikmatan di dalam kemaluannya. Lalu Rina pun mulai mengangkat sedikit pantatnya, dan mulai menggoyang-goyang, semakin lama semakin kencang namun bukan kenikmatan tapi sakit yang kurasakan, barangku seakan mau patah. Gerakannya hanya berlangsung semenit, Rina langsung roboh terkulai lemas mencapai klimaksnya, dan banyak sekali cairan yang keluar dari kemaluannya yang seakan tidak melakukan hubungan seks selama bertahun-tahun.

Rina langsung berdiri, melepaskan barangku, dan langsung menuju kamar mandi tanpa memperdulikan aku yang belum mencapai orgasme. Lagipula pikirku aku tidak akan mencapai klimaks dengan cara yang menyakitkan tersebut.

Beberapa saat kemudian, Rina kembali dari kamar mandi dan membersikan barangku dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat dan dalam keadaan diriku masih terikat. Dia mulai menciumiku dan seluruh tubuhku tanpa satu centi pun yang terlewat, dan kini dia menghisap barangku dengan kuat sekali seakan ingin ditelannya sampai habis. Beda sekali Rina yang tadi dengan yang sekarang penuh kehangatan, walaupun dia belum melepaskan ikatanku. Dia memperlakukanku lebih halus dan lebih merangsang, namun tampaknya kali ini dia sangat bernafsu dan ingin segera memasukkan barangku ke dalam kemaluannya. Tanpa susah payah barangku pun telah masuk, dan kali ini sangat basah kurasakan di dalam kemaluan Rina. Dia pun langsung menaikkan dan menurunkan pantatnya, manggoyangnya berputar-putar.

Saat itu hanya kenikmatan tiada tara yang kami rasakan berdua, dan hanya dalam waktu 2 menit Rina sudah mencapai klimaks dan jatuh tergeletak di dadaku. Dan Rina segera menggunting ikatanku, dan memintaku segera menyetubuhinya.
"Hajar aku Di, siksa aku sampai pingsan..!" katanya sambil membuka lebar-lebar kedua kakinya hingga tampak kemaluannya yang sangat merah dan basah berlendir.
Aku pun langsung menyetubuhinya dalam keadaan telentang, tengkurap (doggy), miring dan kedua kaki disilangkan.

Rina pun mencapai orgasme dalam setiap gaya tersebut, sampai akhirnya aku sudah tidak sanggup menahan kenikmatan.
Kuberitahu Rina bahwa aku akan keluar, dia pun berkata, "Iya Di, keluarin.., keluarin yang banyak, aku juga mau keluar nih..! Ohh Aldi, aku sayang kamu.."
Aku pun mempercepat genjotanku, tapi herannya Rina sudah orgasme tapi aku belum walaupun sudah kurasakan di ujung barangku. Dan sekitar tiga menit kemudian, barulah aku menyemburkan sperma yang menyemprot sampai tujuh kali. Ohh, memang ini salah satu orgasme-ku yang terbaik.

Setelah itu kami pun bersama-sama ke kamar mandi untuk bilas, dan kami pun berpelukan erat dan melakukannya lagi di wastafel kamar mandi. Sambil berdiri, kusenderkan Rina di tembok, lalu sambil berjalan menuju sofa, dan berakhir disana. Dan mungkin karena lengkungan sofa, hingga membuat barangku terbenam seluruhnya mentok yang kurasakan di ujung anuku, dan kulihat Rina pun menggeliat dan menggelinjang hebat disana.

Saat kembali ke lokasi syuting, kami tidak langsung turun dari mobil, karena katanya ada masalah penting yang ingin dibicarakannya denganku. Akhirnya Rina mengaku bahwa temannya Rini yang pernah datang ke lokasi syuting itu adalah pasangan lesbinya. Mereka sudah berpacaran selama sebelas bulan. Rina yang katanya sempat membenci laki-laki, lebih dulu membujuk Rini yang pernah ditiduri pacarnya sekali untuk membuktikan cintanya sebelum cowok itu berangkat sekolah di luar negeri, dan ternyata disana dia punya cewek lain. Dalam hati aku berkata, masih ada saja cewek yang dapat dibohongi dengan cara begitu.

Rini pun berhasil dibujuk Rina untuk tidak menyukai laki-laki lagi, dan mereka sepakat untuk menjadi sepasang kekasih. Dan Rina meminta bantuanku yang dianggapnya tepat untuk meyakinkan ke Rini bahwa berhubungan seks dengan laki-laki tidak sesakit yang pernah Rini rasakan pertama kali sebelumnya.

Dan sampailah suatu hari di kamar Rina, Rini dalam keadaan terikat dengan mulut tersumbat rapat dengan alasan Rina ingin mencoba suasana baru, dan Rini menurut saja. Padahal aku masuk dan membuat Rini merasakan kenikmatan berhubungan seks yang sesungguhnya.

Setelah Rini sudah dalam keadaan terikat kuat, Rina keluar meninggalkan kamar. Aku pun langsung masuk dan menutup pintu kamar dengan rapat. Dapat kulihat ada pancaran kaget dan takut pada wajah dan tatapan mata Rini, aku pun iba dan tidak tega melihatnya, tapi kepalang basah dan aku sudah berjanji kepada Rina untuk menolong mereka untuk berhubungan kembali dengan laki-laki. Aku pun bertekad dalam hati bahwa aku harus berhasil. Aku berpikir tidak mungkin berhasil dalam hubungan pertama, karena dia baru sekali melakukan hubungan seks, dan itu sudah lama berlalu, tentu lubang kemaluannya sudah rapat kembali.

Dengan wajah ketakutan, Rini memperhatikan setiap gerak-gerikku, dan membuatku sedikit gerogi. Aku pun mulai mengusap-usap kakinya dan bagian dalam pahanya, lalu kucium kering (tanpa lidah) seluruh tubuhnya. Rini yang tadinya meronta-ronta hingga pergelangan tangan dan kakinya agak memerah mulai mengurangi pemberontakannya, entah karena sakit, capek atau dia tahu kalau aku tidak bermaksud menyakitinya. Sambil kucium, kuremas pelan payudaranya dan kulepas BH-nya.

Kuperhatikan bulu halusnya mulai berdiri, kupikir aku mulai dapat meningkatkan seranganku. Kumainkan payudaranya dengan dua jari tangan kiriku, sedangkan tangan kananku mulai mengelus kemaluan Rini dari luar CD-nya. Aku pun sempat terperangah mendapatkan putingnya yang mulai mengeras. Bertambah sedikit keyakinanku bahwa segalanya akan berjalan lebih mudah dari yang kubayangkan pertama. Setelah kugesekkan jari-jariku di belahan pangkal pahanya, kulihat cairan vagina Rini mulai becek dan tembus di CD-nya. Aku pun memberanikan diri menyelipkan jariku untuk meraih klitorisnya, dan seperti yang kubayangkan sebelumnya, ternyata memang Rini sudah terangsang habis.

Karena lupa minta gunting sama Rina, dengan susah payah kutarik putus CD Rini. Dan kuperhatikan nafas Rini mulai tidak teratur, dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Kujilati kemaluan Rini dan kuhisap klitorisnya secara terpisah (cara ini kudengar dari pembicaraan orang dewasa waktu saya masih SMP, katanya disebut Indian Style).

Pantat Rini bergerak naik turun, sekarang bukan hanya dadanya, tapi seluruh tubuhnya bergetar dengan kuat. Tidak lama kemudian keluar cairan hangat dari dalam kemaluan Rini, dan getaran tubuhnya melemah. Kini kuhisap kering payudaranya, namun saat kutatap matanya Rini memejamkan matanya, padahal aku tahu kalau dia selalu mencuri kesempatan untuk menatapku. Kuusap lagi kemaluannya dan kupijat-pijat kecil di sekitar pangkal pahanya, dan ternyata tanpa membutuhkan waktu lama, Rini mulai menikmati sentuhan-sentuhanku di tubuhnya.

Kini mulutku kembali bergerilya di selangkangannya, dengan menjilat dan menghisap klitorisnya secara terpisah. Ketika kurasakan tubuh Rini mulai bergetar lagi, kupikir inilah saatnya memasukkan barangku tanpa Rini harus merasakan sakit. Aku pun bangun dan siap untuk menggagahinya. Dan ketika barangku sudah di mulut kemaluan Rini, kulihat Rini masih dalam keadaan terbungkam mulutnya menggelengkan kepalanya dengan pelan, tapi kemudian dia memejamkan matanya lagi dan membuang wajah. Aku pikir ini penolakan basa-basi, langsung kuhujamkan barangku ke dalam kemaluan Rini tanpa hambatan yang berarti. Dan mulai kumaju-mundurkan barangku, tapi kurasakan vagina Rini sangat basah dibandingkan dengan Rina.

Dan dalam waktu yang singkat, aku langsung merasakan bahwa aku akan orgasme.
Dengan santainya kukatakan pada Rini, "Rin, aku mau keluar.."
Kulihat Rini menggelengkan kepalanya lagi, dan aku benar-benar tidak tahu maksudnya apa, tapi ada bekas air mata mengalir yang belum dilap, dan aku tidak tahu kapan keluarnya, namun tubuh Rini mulai bergetar lagi dan sepertinya dia mencapai klimaks berbarengan dengan aku. Aku tidak tahu apa aku terlalu bernafsu hingga permainan yang, "sebenarnya" hanya berlangsung sekitar tiga menit. Namun saat kucabut, aku masih melihat lendir kemerah-merahan bercampur darah yang keluar dari kemaluan Rini.

Aku keluar kamar, dan mendapatkan Rina yang sedang menunggu dengan wajah cemas.
Rina pun bertanya, "Gimana Di, sukses..? Rini gimana..?"
Kubilang lumayan tapi memang harus dua kali baru sempurna. Aku pun pamit untuk segera kembali ke kamar. Aku mulai menciumi Rini lagi yang masih dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal. Namun karena kurasakan barangku sudah mengeras, langsung saja kutempelkan kepala barangku ke vagina Rini, lalu kugesekkan di klitoris dan sekitarnya, Rini pun tampak kegelian.

Kami sempat terkaget karena pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Rina masuk ke dalam, mungkin karena melihat tidak ada tanda-tanda marah atau kebencian di mata Rini. Rina membuka sumpalan mulut Rini dan mereka pun berciuman. Namun hanya sebentar, dan Rina melepaskan ikatan Rini. Rina mendorongku hingga tidur telentang, lalu mulai mengulum penisku, dan Rina melakukannya dengan sangat baik. Tanpa disuruh, Rini menibanku dan mulai menciumi bibirku, kami pun berciuman. Dan Rina melepaskan kulumannya, lalu memanggil Rini agar memasukkan penisku dangan menjongkokiku.

Dengan bantuan, Rina memegang pinggul Rini, mengangkat dan menurunkannya lagi sehingga gerakannya menjadi teratur, mereka pun berciuman lagi. Tidak lama kemudian Rini mencapai klimaks dan jatuh terbaring di sebelahku.
Rina segera menghampiri dan berkata, "Aldi, giliranku kapan..?"
Tanpa menunggu jawabanku, Rina langsung melebarkan kangkangannya, dan melesakkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat merangsang dan basah itu.

Setelah Rina selesai, kemudian Rini lagi, lalu terakhir ditutup dengan Rina. Selesai sekitar jam sebelas malam, kami keluar untuk beli makan di mobil, lalu kembali ke rumah Rina yang memang tinggal sendiri di Jakarta, dan kami bertiga melakukannya lagi sampai jam setengah empat pagi tapi sulit saya ceritakan disini.

Diantara beberapa pengalaman saya, ini adalah cerita yang cukup berkesan bagi saya, dan patut untuk dibagi bersama pembaca lain. Saya menulis ini juga karena tergerak setelah membaca pengalaman-pengalaman lainnya yang dibagikan kepada pembaca. Untuk Rina dan Rini, maaf kalau waktu itu aku sempat menghilang (ganti nomer handphone), karena punya pacar yang cemburuan, tapi kalau sampai membaca cerita ini, tolong email aku. Kalau mungkin kita dapat bernostalgia lagi.

TAMAT

Kamis, 23 Juli 2015

Enak nya Lesbian Cium Toket

Enak nya Lesbian Cium Toket - Kejadian ini sudah lama sekali, tapi kadang aku juga sempet terbayang lagi pada saat aku bercinta dengan cewek lesbi, sebelum terjadinya peristiwa, coba baca "Tahun Baru yang Indah dan Keluarga yang Kesepian".


Enak nya Lesbian Cium Toket

*****

Kejadian ini berawal dari diperkenalkan oleh saudaraku kepada seorang cewek cantik, manis dan sexy lagi, yang pasti setiap cowok yang lihat dia akan melotot dan menelan ludah akan keindahan tubuhnya. Bibirnya yang merah sensual, payudara yang montok, kencang, dan sekel, pantatnya yang sexy serta tubuhnya yang sangat aduhai.

Pada suatu hari dia berkunjung kerumah aku dan suruh aku menemani dia dirumahnya, karena enggak ada siapa-siapa, orang tuanya lagi ada kepentingan. Mulanya dia mau mengajak temannya Desy yang juga teman aku, tapi dianya tak ada. Dari perbincangan aku dengan Wina akhirnya aku mau diajak ke rumahnya. Tak lama kemudian aku sudah berada dirumahnya yang mewah sekali maklum dia anak orang kaya dan anak satu-satunya jadi sangat dimanja sekali. Tak lama kemudian dia bertanya:

"Hey Dewa kamu dapat Bantu aku enggak?" tanyanya,
"Bantu apa win..?" kataku.
"Ntar deh kamu pasti tahu?,"
"Iya apa sih?" tanyaku heran.
"Oke deh kita kekamarku aja yah?" sambil dia menuntun aku ke kamarnya.

Pas dia buka pintu, aku sangat kaget yang luar bisa aku melihat ada cewek cantik bugil sekali sedang mendesah keenakan, dia sedang mansturbasi, meremas-remas payudaranya sendiri terus menusuk-nusuk vaginanya dengan tangan kanannya. Tiba dia berkata,

"Hey.. Win.. Ko..? Lama banget sih datangnya?"
"Maaf Linda sayang, aku tadi ke rumah temanku Desy (Desy ini teman baikku, aku juga heran kenapa dia enggak ada dirumahnya, apa ini mungkin sudah rencananya kali, gumamku dalam hati)"
"Ooo begituu..?," kata Linda (Linda ini adalah teman lesbinya Mbak Wina).
"Gimana kita mulai saja yah..?," kata Mbak Wina, pada Linda yang rasanya ingin banget vaginanya dijilat.

Terus aku yang dari tadi diam hanya dapat menelan ludah, dengan nafasku yang tersenggal-senggal, apalagi di depan mataku sendiri Mbak Wina ikut-ikutan telanjang pula sampai tak sehelai benang pun melekatanya ditubuhnya. Makin cepat detak jantungku bergetar saking nafsu lihat cewek cantik bugil lagi lesbian, ditambah adik kecilku juga ikutan bangun dan rasanya ingin ikutan keluar dari celanaku untuk melihat pemandangan yang wowww..!!indah dan enak dipandang mata.

Lalu mereka berdua bercumbu, saling memadu kasih, saling cium, dan saling meremas.

"Ooohh.. Begini yah.. Cewek lesbi lagi bercinta walaupun pernah kulihat di VCD porno tapi kali ini benar-benar melihat secara langsung," dalam hatiku bicara.
"Kak Wina kita 69-an yukk.. ," kata Linda.
Tanpa ba.. Bi.. Bu.. Be.. Bo.. Langsung aja mereka berdua merubah posisi, saling memakan vaginanya masing-masing.
"Ooohh.. Mmhh.. Aahh.. Ttruus.. Kaakk.. Yang.. Dalam.. Jilat.. Kritorisku.. Ennaakk.. Sekalii..," suara erangan Linda.
Aku sunguh sangat terpesona melihat mereka berdua bergulat, aku akui memang Mbak Wina itu sudah mahir dan pandai sekali memainkan lidahnya.
"Mmhh.. Aahh.. Ooohh.. Yyess.. terus.. Donngg.. Linn.. Kamuu.. Harus banyaakk.. Berlatih.. Yang mantap jilatnya.. Yaa..?"
"Iyah kakk..?" timpal Linda.

"Kak sudah dong ahh.. Rasanya vagina Linda sudah kepengen banget nih dimasukin penisnya Mas Dewa.. En.. Kak..? Tuh.. Dewaa.. Dari tadi penisnya sudah ngaceng banget.. Kayaknya Kak Wina, penis Dewa ingin masuk deh ama vagina-vagina kita, enggak apa-apa kan kak..?" tanya Linda ke Mbak Wina sambil dia memohon agar ia diizinkan dirinya untuk dientot vaginanya.

Sebenarnya Kak Wina sangat keberatan sekali keinginan teman lesbinya itu, tapi apa daya, dia merenget minta dientot vaginanya oleh penisnya Mas Dewa, karena demi untuk keutuhan hubungan mereka maka Kak Wina pun mengizinkannya, lagian Kak Wina pun kelihatanya ingin juga vaginanya dimasukin penisku.

"Iyah.. Iyah.. Deh.. Kalau itu mau mu dan buat kamu senang dan puas, kaka juga akan ikut gembira," jawab Mbak Wina.
Lalu Linda bertanya lagi, "Kak sekali-sekali boleh dong yah..!! Kita ngerasain penis yang beneran?"
"Iyah nih..! Mbak juga kayaknya ingin banget penisnya Mas Dewa, kelihatannya enak banget," timpal Kak Wina.

Memang aku dari pertama lihat mereka, aku sudah bugil sekali sambil aku mengkocok-kocok penisku sendiri lihat mereja bedua bermain.

"Hey.. Dewaa.. Kesini dong sayang.. Bantu kakak yah cinta.. ," kata Mbak Wina merayuku, terus dia bertanya lagi, "Tadi kan kamu mau.. Bantuan kakak. Nah.. Sekarang saatnya.. Kamu penuhi janjimu cintaa.. Masukin tuhh.. penis kamu ke vaginanya Linda.. " kata Mbak Wina sambil membimbingku mendekati Linda.
"Iyah.. Yah..!!? Mbak Wina mempertegas agar aku benar-benar mau.
"Iyah nih Dewa cepet dong masukin penisnya," kata Linda yang ikutan bicara,

"Tapi Kak Wina dan Linda enggak marah kan ama aku," tanyaku.
"Ko..!!marah sih? Emangnya kamu salah apa ama kita-kita,"jawabnya.
"Aku.. kan ikutan main ama kalian terus aku masukin penisku, apa boleh itu?" tanyaku bertele-tele sambil aku juga meremas payudaranya Mbak Wina.
"Yah.. Boleh-boleh aja sih, kamu ngentotin vaginanya kita-kita, siapa yang larang kecuali kalau ceweknya menjalin hubungan cinta kasih(pacaran) ama laki-laki, itu tak boleh sebab dia sudah punya pasangan dan berarti dia sudah mengkhianati temannya, gituu..?" jawab Mbak Wina menerangkan secara singkat, tepat dan jelas.

Terus sambil kita ngobrol ama mereka, aku meraba-raba seluruh tubuh sexynya Mbak Wina sesekali aku mengelus-elus vaginanya yang sudah basah dan sedangkan Mbak Wina sendiri meremas-remas payudaranya Linda dan mengelus vaginanya Linda. Terus Linda bertanya,

"Mas Dewa kalau Mas bisa memuaskan kita berdua, vagina-vagina kita berdua ketagihan sama penisnya Mas Dewa, aku mau mengajak teman cewekku untuk ngentot sama Mas, asal aja Mas jangan mencoba menjalin hubungan (jadi sepasang kekasih) sama mereka, tapi kalau hanya ngentotin aja dan bikin puas nafsunya, kenapa tidak? Iyah.. Kan Kak Wina..?" tanya Linda ama Mbak Wina.
"Yup..!! Kamu benar sekali," jawab Mbak Wina tegas.

Maka mendengar Linda bicara begitu terus dipertegas oleh Mbak Wina, aku semakin bernafsu aja, aku terus mencium, menjilat, mengecup, mengelus tubuh mereka berdua, karena aku ingin mereka benar-benar puas dan orgasme berjali-kali. Dan tibalah saatnya yang aku nanti-nantikan, aku mencoba memasukkan penisku ke vagina meraka berdua, yang pertama aku masukin vaginanya Linda, sebab dari tadi dia yang paling ingin vaginanya dientotin.

Sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar lalu diangkat ke atas dengan dipegang oleh kedua tangannya, sehingga terlihat lobang kenikmatan surga yang sudah basah dari tadi menunggu penisku masuk. Sedang Mbak Wina sedang berciuman dengan Linda sambil meremas-remas payudaranya Linda. Kemudian aku mencoba memasukan penisku yang akhir.. Dengan lancarnya masuk juga penisku ini ke vaginanya.

"Bleess.. bless.. bleess.. awww.. ohh.. aahh.. mhh.. Yess.. ss.. uhh.." erangan Linda
"Dewa.. Puasin yah cinta.. vagina Linda, yahh.. Yah..?" sambil dia kelihatannya mendesah keenakan karena aku mulai mendorong penis keluar masuk lubang vaginanya.
"Ssshh.. Ooohh.. Aahh.. Eennakk Lliinn.. Daa.. Ccaayyangg..?" desahanku, akibat gesekan penisku sama vaginanya, yang ternyata masih seret juga.
"Dewaa.. Cepetin kocokkannyaa.. please.. Yang keras ngentotnyaa..?" ceracau Linda.
Yang akhirnya akibat aku dan Linda benar hebat goyangannya, aku merasa ada sesuatu yang maksa untuk keluar, tiba-tiba juga Linda, bicara..
"Ddewww.. Wwaa.. Aakkuu.. mau.. Keluar.. Nihh.. Masukin.. penisnya semuanyaa..?"
"Sama linn.. Aku juga mau keluar nih..?" timpalku.

Ternyata dia sudah enggak kuat lagi nahan dan.. Ccrrott.. Crrott.. Cccrroott.. Air kenikmatannya keluar..
"Aaarrhhgg.. Aarrgghh.. Aaarrgghh.. Uuuhh.. Eennaakk.. Ssaayyaanngg.. Penis.. Kkamuu..?" ceracaunya disaat dia mencapai pintu surga kenikmatannya.
Dan selang beberapa menit aku mau keluar..
"Aaarrghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Ohh.. Yyeeaahh.. Enak.. Enaakk.. vaginanya kamu Lindaa..?" dan aku keluarin didalam vaginanya yang ueennakk tenann.

Setelah beberapa menit aku ngentot lagi dan sekarang sasaran penisku adalah vaginanya Mbak Wina yang aku ingin banget masukin penisku ke dalam lobang vaginanya yang kayaknya enak sekali. Lalu kami bertiga mengambil posisi aku terlentang dan Mbak Wina mengulum, menjilat dan mengkocok penisku dengan mulutnya sementara Linda di belakang Mbak Wina sambil memakan dan memainkan vaginanya Mbak Wina dari belakang. Terus Kak Wina pun naik ke atas tubuh aku dan memasukkan penisku ke lobang vaginanya dan akhirnya tenggelamlah penisku ke lobang surga kenikmatannya.
Bless.. Bblleess.. Bblleess..

Dengan lancar penisku masuk kevaginanya. Lalu Kak Wina pun mengoyangkan pinggulnya, ke atas dan ke bawah atau memutarkan lobang vaginanya, sesekali juga dia mengocok vaginanya sambil berciuman dengan aku, aku juga enggak tinggal diam aku pegang pantatnya untuk bantu kocokkannya.

"Ooohh.. Aaahh.. Mmbakhh.. Eennakk.. teruss.. Dewaa.. Bantuu.. Mmbbaakk.. Ccintaa.. Puasin vagina kakak sayangg..?" ceracaunya.
Sementara Linda aku suruh duduk diatas kepalaku dan aku makan habis-habis vaginanya itu sambil tanganku juga meremas-remas payudaranya Kak Wina.
"Ttrruus.. Ttruuss.. Dewaa.. Makan.. Maakkaann.. vagina Lindaa.. ,"
"Oohh.. Jiilaatt.. Ampee.. Puuaass.. Aahh.. Ssshh.. Ooohh.. " desahan Linda terus diiringi juga ama desahan, erangan Kak Wina yang semakin gencarnya vaginanya memakan penisku.

Dan akhirnya aku ama Kak Wina orgasme secara bersamaan.
"Aaarrgg.. Aarghh.. Aaarrgghh.. Eeennakk.. Puaass.. vagina.. Kakakk.. DDewaa.."
Saat Kak Wina orgasme dan terjatuh di atas tubuhku.
"Sama Kak Wina, Linda, kalian berdua, baik sekali.. Terima kasih Kak..?" sambil aku membelai mereka berdua dengan penuh kasih sayang, kemesraan dan kelembutan. Terus mereka hampir secara bersamaan, "Sama Mas Dewa.. Kamu juga baik sekali.. Ama kita berdua.. Aku ama Kak Wina baru sekarang ngentot ama cowok yang penuh dengan kasih sayang, iyah kan kak..?" tanya Linda.
"Iyah sayang..?" timpal Kak Wina. Terus Mbak Wina pun ikut bicara,
"Sebenarnya kita berdua yang dibutuhkan bukan saja biologis, tapi hal paling penting adalah, rasa cinta, kasih sayang, kelembutan dan saling pengertian, dan kamu adalah orang yang telah kita berdua idam-idamkan, karena selain kamu dapat melayani biologis, kamu juga pandai sekali memberikan kepuasan lainnya yang sangat penting sekali, aku sangat banyak berterima kasih ama kamu Dewa..?
"Iyah sama-sama Kak," jawabku.

Dan terakhir aku lakukan sekali lagi sama mereka berdua dengan cara, aku sedang ngentot vaginanya Linda. Lalu Kak Wina ambil dildo, penis dari plastik.. Yang diikat sebelumnya sama pinggang aku, jadi dipantat aku dipasang lagi semacam penis lalu Mbak Wina pun memasukkan ke dalam lobang vaginanya.
"Bleess.. Bleess..!?"

Lalu menggenjotnya bersama, pasti pembaca dapat membayangkannya posisiku waktu itu, aku dihimpit diantara dua wanita yang baik hati dan cantik, terus aku geser tubuhku kesamping dan masih dalam posisiku sambil menggenjot vagina Linda, biar Kak Wina bisa ngentot sambil berciuman sama Linda. Saling meremas, menjilat, mencium dengan penuh cinta kasih mereka berdua. Akhiranya kami bertiga lemas setelah pertarungan hebat tersebut.

"Makasih yah Dewa kamu mau ngentotin vagina aku dan Linda," kata Kak Wina.
"Aku juga sama kak, Kapan-kapan kalau kakak mau penisku lagi, call aku aja," tanyaku
"Iyah deh cayang, enak yah kalau penis yang benerannya daripada dildo".
"Iyah aku juga sama, makasih banyak," kata Linda sama berbicara.
"Nah Linda kita sekarang selain kita lesbi kita juga bisek, yah kapan-kapan boleh kan ngerasin penis beneran, yah kalau enggak ada yah dildo lagi deh..,"
"Tapi enggak senikmat penis yang beneran loh!!," timpalku..
"Iyah sih," jawab mereka berdua hampir bersamaan..
"Tenang aja Dewa, kalau kamu ingin vagina cewek lainnya, ntar aku kenalin deh ama teman cewekku lagi, itu juga kalau teman kakak mau? Barangkali mereka mau ama penis kamu, dan kalau kita atau teman cewek lesbiku bosan dengan dildo, aku pinjam yah penis kamu, buat muasin vagina-vagina kami semua..," kata Mbak Wina.
"Yuup..!! "jawabku
"Aku mau, Aduh kalian memang baik sekali," timpalku.
"Tapi maaf!! Yah Mas Dewa, kamu jangan sekali-sekali menggoda mereka, karena mereka sudah mempunyai pasangannya masing-masing, oke!!," kata Mbak Wina.
"Oke Mbak..?" jawabku tegas.

Maaf!! Kalau ada dari para pembaca cewek, yang sama cewek lesbi hubungi aku cepat, jangan khawatir rahasia sangat aku jamin dan aku jaga? Karena aku punya teman cewek lesbi yang baru? Gimana mau enggak? Oh yah bagi cewek-cewek/Mbak-Mbak/tante-tante yang ingin vaginanya dijilatin sama aku, boleh juga, entar aku kasih cara menjilat vagina yang baik dan benar serta tidak salah sasaran.

Dan kalau mau vagina kalian ingin dimasukin penisku, aku akan melayaninya demi memuaskan kalian semua dan buat senang serta ketagihan vaginanya. Salam kenal saja sama penulis ceweknya dari aku Dewa. Kutunggu email dari para pembaca khususnya para cewek jika benar serius ingin ngerasain pelayananku. Dan aku akan berusaha untuk dapat memuaskan vagina vagina kalian semuanya. Oke!! thanks banget yah yang telah menghubungiku.

E N D

Cerita Dewasa Pengalaman Ngentot Sensasional

Cerita Dewasa Pengalaman Ngentot Sensasional - Satu lagi pengalamanku yang kutuangkan dalam tulisan, mungkin ini adalah kejadian yang umum, tetapi bagiku.. Ini adalah pengalaman yang sensasional dan terjadi pada masa sekarang. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.. Sengaja nama pelaku aku samarkan, kecuali namaku.

Cerita Dewasa Pengalaman Ngentot Sensasional


Dalam posisiku sebagai sekretaris sekarang ini, maka hubungan dengan relasi tidak bisa aku hindari.. Tugas entertaint selalu diberikan kepadaku, mungkin bos ku tahu benar bagaimana memanfaatkan kecantikanku didalam menghadapi klien atau relasinya, hingga akhirnya aku berkenalan.. Sebut saja namanya Mas Andy.. Seorang eksekutif muda.. Usianya kira-kira 30 tahun, tinggi 175 cm dengan bentuk tubuh proposional. Mas Andy ini sudah berkeluarga dan punya 2 putra, dalam sehari bisa 3-4 kali Mas Andy menghubungiku via telepon..

Dari membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis sampai ke permasalahan rumah tangganya.. Hingga akhirnya aku mendengarkan pengakuan dari Mas Andy, ternyata dia seorang bisexual.. Gila..? Memang gila.. Tetapi aku malah antusias mendengarkan ceritanya, dan menurut pengakuannya.. Sekarang ini dia juga jalan dengan salah satu karyawannya.. Dan mereka telah jalan 1 tahun lamanya tanpa sepengetahuan siapa-apa.. Kecuali aku..

Sejak pengakuannya itu.. Mas Andy sering menelponku.. Dan apabila pembicaraan sudah menyinggung hubungan dengan karyawannya itu.. Aku tidak sungkan untuk mengodanya, kata.. Wah.. Asyik nih main pedang.. Atau gimana sih Mas ML nya.. Candaku selalu dijawab dengan tertawa saja oleh Mas Andy.

Hari itu adalah hari jumat, dan seperti biasa Mas Andy kembali menghubungiku via telepon.

"Hallo.. Selamat sore Nia" serunya.
"Oh.. Mas Andy.. Selamat sore juga Mas" sahutku.
"Apa nih acaranya nanti malam?"
"Wah.. enggak ada acara nih Mas"
"Gimana kalau nanti malam kita jalan.. Nanti kukenalkan temanku" seru Mas Andy lagi.

Aku tahu yang dimaksud "temannya" itu adalah teman jalannya, dan memang akupun penasaran seperti apasih teman Mas Andy itu.

"Boleh aja Mas" jawabku.
"Oke.. Nanti aku jemput jam 8 malam yaa" serunya lagi.

Jam 19.30 aku sudah berdandan rapih, aku memakai t'shirt dan jeans ketat, dibalik itu aku memakai bra dan g-string berwarna pink.. Warna favoritku, rambut hitamku yang panjang kubiarkan terurai kebelakang, dan benar.. Tepat jam 20.00 Mas Andy datang menjemputku, aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di depan.

"Wah.. Malam ini kamu cantik sekali Nia" puji Mas Andy, aku hanya tersenyum saja, lalu.
"Nia.. Kenalkan temanku" seru Mas Andy.

Ternyata dibangku belakang duduk seorang laki-laki, aku pun menoleh sembari mengulurkan tanganku.

"Nia.. "sahutku,
"Joni.." sahut pria itu sembari menjabat tanganku.

Mhmm.. Ternyata yang namanya Joni ini macho juga.. pikirku. Selama perjalanan kami banyak ngobrol, dan dari pembicaraannya aku tahu kalau usia Joni ini sepantaran dengan aku yaitu 24 tahun, dan dia berasal dari daerah.. Dikota ini dia mengontrak rumah dan tinggal sendirian.

Malam itu kami habiskan dengan duduk-duduk dan ngobrol di sebuah cafe.. Dan aku merasa geli juga melihat tingkah laku Mas Andy dan Joni.. kadang-kadang dalam tawa canda mereka.. Suka saling pandang dan sekali-kali saling berpegangan tangan layaknya seperti dua orang kekasih.. Apalagi sedari tadi tidak henti-hentinya mereka berdua memesan draft beer.. Minuman ringan kata mereka.. Sementara aku hanya memesan long island.. Minuman ringan juga.. menurutku?

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika kami keluar dari cafe itu, tampak sekali Mas Andy dan Joni sudah mulai dipengaruhi alkohol, sedangkan aku.. kepalaku mulai rada-rada pusing.. Karena pengaruh alkohol juga. Dari situ kita pergi ketempat Joni.. Jelas maksud Mas Andy adalah mendrop Joni terlebih dahulu, tetapi ternyata kamipun mampir ditempat Joni.. Dan aku menurut saja ketika disuruh turun.. Masuk ke dalam rumah Joni, akupun duduk diruang tamu.. Sementara Mas Andy dan Joni masuk ke dalam.. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam..

Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.. Apalagi pengaruh alkohol sudah memenuhi kepalaku, aku pun berjalan ke dalam.. Menuju kesebuah kamar yang tidak tertutup.. Tampak cahaya lampu terang dari dalam kamar itu, ketika aku melihat ke dalam.. Terkejutlah aku.. Tampak Mas Andy dan Joni sedang.. berdiri ditengah kamar.. Dan berciuman.. Hah! Mas Andy hanya mengenakan jelana jeansnya.. Sementara kaosnya sudah entah kemana.. Dan Joni dia hanya memakai celana kolor saja..

Aku hanya berdiri bengong diambang pintu.. Melihat adegan itu.. Tampak mereka sangat ganas sekali berciuman.. Joni lebih sedikit agresif.. Dia berusaha melepas celana jeans Mas Andy hingga akhirnya terlepas lalu celana kolor Mas Andy pun dilepasnya.. Maka tampaklah batang kemaluan Mas Andy yang.. Besar dan tegang itu.. Ohh, segera Joni mencekal batang kemaluan Mas Andy itu lalu dikocok-kocoknya dengan tangan kanannya.. Setelah itu Jonipun berjongkok dihadapan Mas Andy.. Dan.. Astagaa..

Dengan ganas Joni mengisap batang kemaluan Mas Andy itu.. Woowww.. Sungguh indah sekali pemandangan di depanku itu.. Tampak batang kemaluan Mas Andy langsung dihisap oleh Joni.. Dijilat-jilat kepalanya terus dihisap lagi.. Joni mengerakkan kepalanya maju mundur sehingga tampak batang kemaluan Mas Andy keluar masuk mulut Joni.. Melihat itu semua membuat pikiranku jadi kacau.. Tetapi aku tidak mau berkedip sekalipun melihat itu..

Tiba-tiba Mas Andy menoleh kepadaku.. Dan tersenyum..

"Nia.. Jangan bengong aja.. Ayo masuk kesini" serunya.

Aku sempat terkejut.. Tetapi akupun berhasil menguasai diriku.. Lalu aku membalas senyum Mas Andy itu.. Dan.. Aku melangkah masuk ke dalam.. Duduk ditepian ranjang, dan memperhatikan adegan itu tanpa berkedip.. Maklum.. Aku suka banget melihatnya, kemudian Mas Andy menyuruh Joni duduk disampingku.. Dan dia berlutut dilantai diantara kedua kaki Joni.. Ditariknya celana kolor Joni itu hingga terlepas.. Tampak olehku batang kemaluan Joni.. yang berdiri tegak itu.. Tidak terlalu besar jika dibanding milik Mas Andy.. Tapi mengairahkan juga.. Oohh..

Dengan rakus Mas Andy langung memasukkan batang kemaluan Joni ke dalam mulutnya.. Dijilatinya.. Dari kepala sampai kebiji pelirnya.. Ohh indahnya.. Diam-diam akupun terangsang hebat.. Sementara Joni hanya mengelinjang keenakan dengan mata setengah terpejam.. Lalu Mas Andy mengangkat kedua paha Joni dan ditekuknya ke atas.. Lalu dia menjilati bagian bawah biji pelir Joni.. Tampak tubuh Joni tersentak-sentak keenakan.. Gilaa.. Aku hanya duduk menonton adegan itu.. Sungguh mengairahkan..

"Hayoo.. Nia.. Ikutan" seru Mas Andy.

Aku hanya tersenyum saja.. Tapi gairahku.. Ohh.. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya akupun mendekatkan kepalaku ke batang kemaluan Joni itu.. Tercium aroma khas.. Penis laki-laki, kemudian kujuiurkan lidahku menjilati batang kemaluan Joni.. Aaahh.. Nikmatnya.. Kukulum batang kemaluan Joni hingga.

"Aahh.. Nggkk.. Uuhh.." terdengar erangan Joni..

Rupanya hal itu membuat Mas Andy kepingin batang kemaluannya dioral olehku, lalu dia berlutut ditepi ranjang dan menyodorkan batang kemaluannya hingga menyentuh pipiku.. Gilaa.. Aku tidak mau menyia-nyiakan itu.. Segera kukulum kepala batang kemaluan Mas Andy..

"Iyaa.. Iyaa.. Oohh" terdengar desisan Mas Andy..

Kukulum dan kujilati kedua batang kemaluan itu secara bergantian, dari sudut mataku.. Aku melihat Mas Andy memperhatikan perbuatanku itu demikian juga Joni.

Lama kuoral kedua batang kemaluan mereka, kemudian Joni merubah posisinya.. Ia menungging ditepian ranjang.. Sementara Mas Andy mengambil sesuatu dari atas meja.. Akupun sadar apa yang akan mereka lakukan, rupanya permainan akan segera dimulai.. pikirku, tampak Mas Andy mengolesi batang kemaluannya dengan cream yang ia tuangkan dari botol, dan aku pun segera beraksi.. Kujilati anus Joni yang ditumbuhi bulu-bulu.. itu.. Terasa beberapa kali tubuh Joni tersentak-sentak karena nikmat.. Kucolok-colok ujung lidahku ke dalam..

"Aaahkk.. Ooh.. Nggkk.."

Joni mengerang keenakan.. Lalu Mas Andy menyerahkan botol cream itu padaku.. Kutuang isinya ketelapak tanganku.. Lalu kuolesi ke sekitar anus Joni.. Sembari sekali-kali kususupkan telunjukku ke dalam lobang pantat Joni itu.. Setelah itu Mas Andy berdiri dibelakang bokong Joni dan segera mengarahkan batang kemaluannya ke lobang pantat Joni.. Akupun tidak tinggal diam.. Kubuka belahan pantat Joni.. Hingga tampak lobang anus Joni merekah.. Dan.. Bless.. Perlahan tapi pasti.. Batang kemaluan Mas Andy masuk ke dalam..

"oohh.. Nggkk.. Aahh" erang Joni..

Setelah itu tampak gerakan erotis pinggul Mas Andy maju-mundur.. Akupun turun dari ranjang sembari memperhatikan adegan itu.. Ohh.. Sangat.. Sangat sensasional.. Dan tanpa sepengetahuan mereka.. Aku mulai melepas pakaianku.. Hingga telanjang bulat..

Kemudian kupeluk tubuh Mas Andy dari belakang sehingga kedua buah dadaku menyentuh punggungnya.. Dan kedua tanganku pun melingkar di dadanya.. Kutempelkan perutku dan pinggulku ke tubuh bagian belakang Mas Andy..

"Aahh.. Nggkk.. " terdengar desisan Mas Andy..

Dalam posisi demikian.. Pinggulku pun kugerak-gerakan maju mundur mengikuti gerakan Mas Andy.. Aahh.. nikmatnya, kuciumi tengkuk Mas Andy dari belakang.. Aku benar-benar lost kontrol.. Rupanya Mas Andy tahu.. kegelisahanku.. Iapun mengulurkan tangan kanannya kebelakang dan langsung meraba kemaluanku.. Kurenggangkan pahaku agar tangan Mas Andy leluasa meraba-raba kemaluanku.. Aaahh.. Ohh.. Aku merintih.. Nikmat ketika jari-jari Mas Andy menyodok-nyodok liang kemaluanku.. Akupun segera mendekap semakin erat tubuh Mas Andy dari belakang dengan tetap mengikuti irama pergerakan pinggulnya.

"Kamu mau Nia.." bisik Mas Andy.
"Ooh.. Iya.. Mas.. Iya" sahutku.
"Naik deh ke atas ranjang" serunya lagi.

Akupun segera naik ke atas ranjang, dan menungging ditepian ranjang disamping Joni.. menanti dengan pasrah.. Lalu

"Mau dimasukin kemana Nia..?" tanya Mas Andy.
"Terserah mass" sahutku pelan.

Ternyata Mas Andy memilih kemaluanku..

"Aah.. Oohh.. Aaghhkk" rintihku ketika terasa batang kemaluan Mas Andy yang masih berlumuran cream masuk ke dalam liang vaginaku.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Lalu Joni yang masih menungging disampingku menoleh padaku.. Akupun menoleh padanya lalu ia menjulurkan lidahnya.. Akupun segera menjilati lidah Joni dengan lidahku, akhirnya bibir kami bertautan.. Oohh.. Nikmatnya..

Setelah agak lama.. Akhirnya kami ganti posisi.. Joni terlentang diatas ranjang dan aku naik ke atas tubuhnya.. Perlahan-lahan aku memasukan batang kemaluan Joni ke dalam liang vaginaku.. Oohh.. Aaahh.. Nikmatnya.. Setelah itu aku menekuk kedua lututku kedepan sehingga dari belakang Mas Andy bebas memasukan batang kemaluannya ke dalam lobang pantatku..

Nggkk.. Aaahh.. Terasa seret.. Tapi peralahan-lahan.. Amblas juga seluruh batang kemaluan Mas Andy ke dalam lobang pantatku.. Gillaa.. Gilaa.. Nikmat.. Sekali.. Ohh.. Susah aku menuliskan apa yang aku rasakan tetapi.. Sungguh sensasi sekali.. Apalagi Joni.. Dia tidak tinggal diam.. Dengan rakusnya Joni mengisap-isap kedua puting payudaraku bergantian.. Oohh.. Sungguh.. Saat itu aku tidak mau permainan kami berakhir.. Dan walaupun aku sudah dua kali klimaks tetapi.. Aku tidak mau.. Permainan ini berakhir..

Akupun segera mengambil inisiatif. Aku minta agar posisi diubah.. Mas Andy terlentang diatas ranjang.. Sementara aku terlentang diatas tubuh Mas Andy, dan tetap batang kemaluan Mas Andy didalam anusku.. Dan Joni.. Telungkup diatas tubuhku dengan batang kemaluannya tertancap didalam vaginaku.. Oohh.. Nikmaatt..

Setiap gerakan yang mereka lakukan membuat tubuhku mengejang-ngejang menahan nikmat, apalagi tangan Mas Andy tak henti-hentinya meremas-remas payudaraku.. Ooh.. Aahh.. Ruaarr biassaa..

Lalu aku menekuk kedua lututku ke atas dan kedua kakiku segera merangkul pinggang Joni.. Nikmat sekali.. Apalagi Joni juga aktif menciumi bibirku, leherku dan seluruh wajahku dijilatinya, aku hanya bisa memejamkan mataku.. Menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini, perlahan tapi pasti.. Joni mulai mempercepat gerakkannya, sementara pinggul Mas Andypun tidak mau diam, dia menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas sehingga batang kemaluannya keluar masuk lobang pantatku. Ooohh.. Enak sekali, hingga akhirnya.

"Aaggkk.. Aku.. Mau keluar.. Aku mau keluar" erang Joni.
"Saya juga.. Oohh.. Aaakk.." erang Mas Andy juga.

Gilaa.. Aku tidak mau.. Tidak mau permainan ini berakhir, aku pun menjadi egois sekali..

"Jangan.. Jangan dulu Mas.. Nanti aja.. Ohh" seruku dengan nafas memburu.
"Kenapa.. Nia.. Nggkk.. Kamu belum puas..?" bisik Mas Andy.
"Jangan dulu.. Mas.. Biar kuminum sperma kalian.." seruku.

Gilaa.. Akupun tidak sadar mengucapkan kata-kata itu.. Tapi jujur.. Aku kepingin sekali.. Karena belum 100% puas jika belum menelan sperma mereka.

Lalu akupun duduk ditepi ranjang sementara mereka berdua berdiri dengan masing-masing batang kemaluan mengarah ke bibirku.. Kukocok-kocok batang kemaluan mereka dengan kedua tanganku.. Sementara lidahku menjilati kesana-kemari.. Kuisap dan kukulum kedua batang kemaluan itu secara bergantian dan..

"Aaaggkk.. Nggkk.. Aarrgghhkk.." tiba-tiba terdengar suara erangan Mas Andy.

Aku segera membuka mulutku dan.. Crott.. Croott.. Keluarlah sperma Mas Andy yang segera masuk ke dalam mulutku.. Nikmatt.. Sekali.. Dan kujulurkan lidahku menjilati lobang kencing Mas Andy.. Aku tidak mau kehilangan setetespun sperma Mas Andy itu.

Beberapa detik kemudian Joni.. Dia mengerang panjang juga.. Walau mulutku masih penuh sperma Mas Andy.. Akupun siap menerima muncratan sperma Joni.. Kumasukan kepala batang kemaluan Joni itu ke dalam mulutku, dan.. Crot.. Crot tersemburlah sperma Joni didalam mulutku.. Ohh.. Banyak.. Sekali.. Sampai beberapa kali aku harus menelannya..

Akhirnya kami bertigapun rebah diatas ranjang.. Peluh membasahi tubuh kami..

"Nia.. Nia.. Tidak disangka.. Kamu luar biasa.." seru Mas Andy.
"Benar.. Kamu hebat Nia" tambah Joni, dan aku hanya tersenyum saja.
"Kalian juga aneh.. Tapi hebat" seruku.
"Tapi ada satu permintaanku Mas.." tambahku.
"Apa tuh Nia.." tanya Mas Andy.
"Aku mau kita komitment.. Hanya sebatas ini saja.. Oke?" seruku.
"Iya dong Nia.. Aku kan punya isteri.. Dan kamu juga.. Ada tunangan kamu" sahut Mas Andy.

Akupun tersenyum puas.. Dan tanpa sadar aku melirik ke jam didinding.. Gilaa.. Sudah jam 2 pagi. Dan benar.. Mas Andy benar-benar memegang komitmentnya, setelah kejadian itu dia tetap sopan kepadaku, dan tidak sekalipun dia menyinggung-nyinggung kejadian itu, dan aku.. Akupun demikian.. Nothing happened beetwen us..

E N D

Nikmatnya Hot Penis Putih

Nikmatnya Hot Penis Putih - Ketika angin yang dingin itu berhembus, kulit pria yang ditumbuhi oleh bulu-bulu itu pun tampak bersinar dengan terang menggambarkan dengan jelas lekuk-lekuk kejantanannya. Dengan perlahan-lahan tetapi pasti dia mulai menancapkan batang penisnya yang kokoh ke dalam lubang vagina teman tidurnya. Tentu saja wanita itu mengerang dengan halus karena si pria dengan begitu pandainya memasukkan dan mengeluarkan kembali penisnya secara perlahan-lahan dan itu mengundang setitik demi setitik rasa nikmat yang tiada tara.

Nikmatnya Hot Penis Putih

Karena terlalu lambat dalam menggerakkan pinggulnya, si wanita pun mendorong tubuhnya ke arah depan mengimbangi gerakan tubuh si pria yang menurutnya sangat lambat.

"Astaga, Sayang! Sungguh permainan yang seimbang dan ini sungguh mendatangkan rasa nikmat yang tiada tara. Gila..! Nikmat sekali..!" kata si wanita di sela-sela rasa kenikmatan yang menderanya.

Makin lama gerakan pinggul si pria semakin cepat dan semakin cepat. Si wanita berteriak histeris karena dia telah mencapai orgasme yang disertai dengan sperma si pria yang berhamburan di mana seperti pistol air yang ditembakkan. Crot! Crot! Terdengar lenguhan si pria yang menanda berakhirnya permainan seks itu.

Kedua artis porno itu turun dari ranjang begitu sutradara mengatakan, "Cut!"

*****

"Aku Violito Erdiwan. Aku selalu menghabiskan sebagian besar waktuku untuk bermain film porno yang diambil secara ilegal. Di sisi lain aku juga bekerja sebagai manager personalia yang cekatan. Aku lebih suka pekerjaanku sebagai bintang film porno daripada sebagai seorang manager. Aku bisa menghasilkan uang yang lebih banyak di bidang ini. Aku harus mengumpulkan uang yang banyak supaya aku bisa menemukan kembali adikku yang hilang puluhan tahun yang lalu,"

Violito mengenakan kembali celana dalamnya yang berwarna merah tua. Saat dia hendak mengenakan singletnya, artis wanita tadi masuk ke dalam kamar mandi itu. Dia tidak berkata apa-apa tetapi dia hanya duduk di atas wastafel sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar mempertontonkannya lubang kenikmatannya yang menggoda selera. Violito tidak jadi mengenakan singletnya tetapi dia terus memandang liang kenikmatan itu dengan bayangan betapa nikmatnya apabila dia bisa menjilat lubang itu.

Wanita itu meremas-remas batang kemaluan Violito yang sudah menegang.

"Aahh..!! Aahh..!!" lenguhan Violito makin lama makin tak tertahankan.

Dia baru saja melakukan satu adegan tadi dan kini gairahnya naik lagi. Tanpa banyak berkata lagi. Dia langsung menanggalkan celana dalamnya dan menghujamkan penisnya ke lubang vagina wanita itu.

Gerakan memompa pun dimulai dan si wanita dibuat kewalahan oleh gairah Violito yang memuncak. Tak lama kemudian, si wanita mencapai orgasme dan setetes cairan ejakulasi menetes dari liang kemaluannya yang masih digesek oleh kulit penis Violito yang kekar. Si wanita bermaksud menyuruh Violito untuk berhenti sebentar tetapi gairah dan nafsu Violito yang meledak sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dia terus saja menusuk dan menusuk. Setelah dia tidak mampu mempertahankan bentengnya, dia baru menusuk dengan kecepatan yang lebih rendah. Dia tidak mengeluarkan penisnya tetapi dia terus menusuk dan akhirnya spermannya berhamburan di dalam lubang kemaluan si wanita.

Si wanita lemas tak bertenaga duduk di atas wastafel itu. Violito melemparkan sebutir pil kepadanya.

"Minum ini. Aku takkan mempertanggungjawabkan gairahku yang hanya sesaat itu,"

Setelah mengenakan pakaiannya, Violito keluar dari kamar mandi.

"Beginilah aku. Gairahku sangat besar padahal aku baru berumur 21 tahun. Tetapi, di sisi lain aku memiliki otak yang cemerlang sehingga aku bisa diangkat menjadi manager personalia di kantor. Aku memang nakal kalau menyangkut hubungan seks. Rata-rata pegawai wanita muda yang bekerja di perusahaan itu telah merelakan vagina mereka menjadi santapan penisku. Setelah melewati penisku, mereka baru bisa bekerja di perusahaan itu. Namun, sekarang yang sangat kuinginkan adalah mencari kembali adikku yang hilang."

"Keluarga kami adalah keluarga yang sangat mengerikan. Ayahku adalah gigolo yang saat itu adalah gigolo yang paling terkenal karena dia memiliki penis yang terpanjang di lingkungan tempat kami tinggal. Dia sudah melayani lebih dari seratus janda-janda dan wanita-wanita tua yang kesepian. Kekayaannya jauh melebihi kekayaan yang sudah kukumpulkan hingga sekarang."

"Ibuku adalah pelacur kelas tinggi yang selalu melayani nafsu para pejabat-pejabat tinggi dan pegawai negara dan kekayaan ibuku juga tidak kalah banyak dari kekayaan ayahku. Dari kedua orang inilah lahirlah aku dan adikku. Kami terlahir ke dunia ini dengan membawa satu keanehan. Bahkan, dokter pun tidak bisa memberikan penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi pada diri kami berdua. Namun, ayahku menganggapnya sebagai suatu keajaiban dan dia menerka aku dan adikku pasti akan lebih hebat daripada dirinya nanti. Penisku tidak seperti penis kebanyakan pria pada umumnya. Penisku berwarna hijau muda. Untuk itulah di tempat pengambilan film porno itu banyak yang memanggilku dengan sebutan Penis Hijau."

"Penis adikku memiliki warna yang jauh lebih unik. Penisnya berwarna putih. Penisnya sangat putih dan bersih tetapi penis itu kokoh, mampu mendatangkan kenikmatan yang tiada tara. Aku sendiri pernah melihatnya bercumbu dengan pacarnya ketika dia berumur 15 tahun. Pacarnya sendiri mengatakan dia tidak menyesal menyerahkan keperawanannya kepada Virginio (nama adikku) karena Virginio telah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada vaginanya yang haus akan sperma dan penis yang perkasa."

"Namun, Ayah dan ibuku mati muda karena terjangkit virus HIV. Keluarga kami terpecah belah. Karena kondisi ekonomi keluarga aku dan Virginio terpaksa berpisah. Sekarang setelah mengumpulkan banyak uang aku akan mencarinya dan kami akan berkumpul kembali"

*****

Violito masuk ke dalam sebuah kamar. Dia mendapati temannya, Freddy Natsim sedang menusuk-nusuk lubang vagina kekasihnya yang kesepuluh, Monica Duarsa. Monica berteriak-teriak penuh rasa nikmat.

"Tidak..!! Freddy! Lebih dalam lagi.. Oh..!!"

Freddy membalikkan badan Monica dan dia menusuk-nusuk vagina kekasihnya itu dengan lebih cepat lagi. Dia ingin segara mengeluarkan spermanya dan melampiaskan gairahnya yang sudah tak terbendung lagi.

"Aku sudah mau keluar.. Akan kupercepat gerakannya.."

Crot! Crot! Crot!

Sperma Freddy berhamburan menodai meja dan sofa yang menjadi arena pertandingan mereka. Tetapi, Monica yang belum mencapai puncak kenikmatan terus memaksa Freddy meneruskan goyangannya. Dia menempatkan Freddy di posisi bawah dan dia yang mengambil kendali memompa bergerak naik turun. Freddy mengerjap-ngerjapkan matanya memancarkan kenikmatan yang tiada batas. Sesaat kemudian, Freddy sudah tidak tahan lagi dan air maninya pun berhamburan di dalam liang vagina Monica.

Monica sangat susah mencapai puncak kenikmatan. Violito menanggalkan sendiri pakaiannya. Dia menarik Monica menjauhi Freddy yang sudah kelelahan. Dengan beberapa tusukan yang dahsyat saja Monica langsung mencapai puncak kenikmatan dua kali berturut-turut. Setelah Monica mendapatkan kepuasan, Violito langsung menancapkan penisnya ke dalam mulut Monica dan melakukan gerakan memompa dengan goyangan pinggulnya yang bergerak maju mundur. Terlihatlah penis kekarnya yang berwarna hijau terang masuk dan keluar dari mulut Monica. Akhirnya, sperma dan air mani Violito pun keluar mengotori mulut Monica.

"Aahh!" suara lenguhan Violito keluar bersamaan dengan air maninya yang berhamburan keluar.
"Astaga! Kau hebat sekali, Violito! Lain kali akan kita lanjutkan ya!" kata Monica sambil berpakaian.
"Kalau kau ingin berbincang-bincang dengan Freddy, aku akan segera pergi. Berbicaralah! Sayang! Nanti malam aku akan ke rumahmu,"

Setelah berkata demikian, Monica pun keluar dari kamar itu. Tinggallah Violito dan sahabat baiknya yang telanjang bulat.

"Penismu memang hebat. Kau memang berhak mendapat penghargaan atas gairahmu yang meledak-ledak dan penismu yang kokoh, Penis Hijau," kata Freddy, "Kau berhasil menaklukkan wanita yang seagresif Monica. Terus terang saja, aku mulai menyesal memilihnya menjadi pacarkku yang ke-10. Ngomong-ngomong, aku sudah menemukan keberadaan adikmu, Virginio,"
"Apa??" kata Violito spontan, "Secepat itu? Di mana dia sekarang? Bagaimana kehidupannya?"
"Sebaiknya.. Sebaiknya kau lupakan saja dia. Aku memberimu saran seperti ini bukan karena aku ingin menjauhkanmu dari adikmu tetapi saat aku berbicara dengannya aku tahu dia tidak sama seperti dulu lagi. Lima tahun berpisah telah membuat jarak di antara kalian semakin jauh dan hubungan persaudaraan kalian semakin jauh," kata Freddy sambil mengenakan celana dalamnya.

Dia merebahkan dirinya di sofa.

"Apa maksudmu?" tanya Violito yang sudah berpakaian lengkap.
"Kemarin setelah menemukannya aku sempat berbicara dengannya. Dia sangat membenciku dan dia bilang dia menyesal pernah berteman denganku. Dia menyesal pernah berteman dengan orang yang sekotor diriku, hanya bisa mengandalkan penisku untuk bermain film porno mencari uang. Kau lebih hebat dariku dan filmmu lebih banyak dariku. Apa kau pikir dia mau menerimamu sebagai kakaknya? Dia sudah jauh berubah. Ketika aku melihat seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan Papa, pertahananku langsung runtuh. Virginio sudah berubah,"
"Tidak! Aku tidak percaya dia bisa berubah sedrastis itu. Dia adalah Penis Putih. Dia adikku. Mengapa dia bisa sampai membenciku? Tidak..! Aku tidak percaya sebelum aku sendiri yang berbicara empat mata dengannya,"

*****

"Hidupku sangat bahagia sekarang ini. Kebahagiaan yang kurasakan sekarang mempunyai arti yang sangat berbeda dengan kehidupan kita dulu. Kau tahu khan apa yang kumaksud?" tanya Virginio dengan tatapan matanya yang tenang.

Violito sangat kecewa dengan sikap Virginio yang ditunjukkan oleh adiknya itu terhadapnya.

"Mengapa kau bisa berubah sedrastis ini, Virginio? Aku telah mengorbankan banyak hal agar aku bisa mengumpulkan banyak uang dan membiayai kehidupan kita berdua. Kau tidak akan mencampakkan diriku dan semua pengorbananku bukan?" tanya Violito terus terang.

Mendengar itu, Virginio melebarkan kelopak matanya. Dia menarik tangan kakaknya dan membawa kakaknya ke kamar mandi. Di sana dia menanggalkan celananya sendiri dan kemudian menanggalkan celana dalam kakaknya. Violito tentu saja terkejut. Belum sempat dia berbicara, adiknya sudah menancapkan batang penisnya ke dalam liang anusnya. Violito hanya bisa mengerang-erang halus penuh rasa nikmat menerima serangan tusukan yang bertubi-tubi itu.

"Aahh..!! Nikmat sekali, Adikku Sayang! Teruskan!!"

Goyangan itu makin lama makin kencang sampai-sampai cermin besar yang ada di hadapan mereka juga bergetar.

Crot! Crot! Crot!

Akhirnya dengan penuh nafsu Virginio mengeluarkan air maninya dan air mani itu mengotori wajah kakaknya. Dia pun mengenakan celananya kembali.

"Lihat dirimu sendiri di depan cermin!" hardik Virginio, "Aku bahkan jijik melakukan hal itu dengan Kakak kandungku sendiri. Tetapi, kau malah mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang bisa mendatangkan kenikmatan dan kita harus meneruskannya. Aku sudah berubah. Aku takkan merendahkan diriku dengan mengakui orang sepertimu sebagai kakakku. Lima tahun ini telah membuka mataku bahwa jalan hidup yang pernah kulalui sebelumnya sangatlah tidak berharga."
"Kau mau supaya aku menerima semua pengorbananmu bukan? Anggap saja hubungan seks ini sebagai tanda penghargaan dariku. Jangan pernah mencariku lagi sebelum kau berubah!"

Virginio berlalu dengan wajah yang penuh dengan kekesalan. Dia keluar dari kamar mandi meninggalkan Violito yang diam-diam meneteskan air mata di lantai kamar mandi itu. Dia merasa dirinya sangat terhina. Timbullah sebersit rasa benci terhadap dirinya sendiri. Semua kenangan yang pernah dialaminya mendadak berubah menjadi sebuah lembaran penyesalan yang menghantuinya.

"Inilah balasan yang kudapatkan? Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.."

Air mata Violito terus mengalir tanpa henti.


E N D

Senin, 20 Juli 2015

Cerita Dewasa Pamer Memek Dengan Pasangan

Cerita Dewasa Pamer Memek Dengan Pasangan - Bulan Juni 2014 kemarin, saya diundang untuk mengikuti pertemuan rutin tahunan dari satu group eksklusif yang anggota adalah orang-orang berperilaku seks menyimpang. Anggotanya berjumlah sekitar 250 orang dari beberapa kota besar. Namun yang hadir saat itu hanya sekitar 125 orang saja. Ada banyak hal yang saya dapat dan saya bisa pelajari dari hasil pertemuan itu. Bahkan ada beberapa kasus penyimpangan yang belum saya ketahui sama sekali sebelumnya.

Cerita Dewasa Pamer Memek Dengan Pasangan


Sangat banyak email saya terima yang berisi hujatan dan cercaan serta ketidakpercayaan akan cerita-cerita tentang penyimpangan seks. Saya hanya bisa menjawab bahwa walaupun kita yang merasa bermoral dan berahlak sangat baik sering menghina dan mencerca mereka yang hidup menyimpang dari kewajaran, tapi kita harus jujur mengakui bahwa ternyata sangat banyak tidak terhitung kasus ini terjadi di antara kita.

Bahkan di lingkungan keluarga kita sendiri. Siapa yang harus disalahkan? Moral? Ahlak? Atau kita sendiri yang harus disalahkan karena terlalu kejam menghujat mereka yang menyimpang sehingga mereka semakin tertutup dan semakin terpuruk di dalam komunitas minor mereka tanpa ada masukan pencerahan dari kita? Berikut akan saya kisahkan cerita nyata dari salah satu anggota group tersebut yang sepertinya mulai merasa tersiksa dengan kondisinya sekarang, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena batinnya tidak bisa lepas dari kebutuhannya.. Saya samarkan nama-nama dalam cerita ini.

*****

Beberapa tahun yang lalu, Jaka, saat itu 29 tahun, adalah satu eksekutif muda di suatu perusahaan ternama di Jakarta. Istrinya, Dewi, saat itu 24 tahun, adalah ibu rumah tangga yang aktif di beberapa kegiatan organisasi. Mereka dikaruniai 1 orang anak. Siang itu di ruangan kerja Jaka, Wenny, sekretaris Jaka sedang menghadap Jaka untuk menyerahkan beberapa berkas laporan.

"Semua berkas sudah aku serahkan. Ada perlu apa lagi Pak?" tanya Wenny sambil tersenyum manja.
"Ada.." kata Jaka.
"Apa?" tanya Wenny lagi sambil tetap tersenyum.
"Nanti jam istirahat kita makan dimana?" tanya Jaka sambil tersenyum.
"Ih, dasar.. Mau lagi ya?" tanya Wenny sambil tetap tersenyum.
"Kan baru kemarin aku kasih.." kata Wenny lagi.
"Kamu menggairahkan sih.." kata jaka sambil meremas pantat Wenny.
"Ya sudah nanti siang kita ke tempat biasa saja, ya?" tanya Jaka. Wenny mengangguk.
"Suami kamu belum pulang, ya?" tanya Jaka.
"Belum. Dia masih di Semarang. Wah kalau dia ada disini, mana bisa kita berduaan. Dia pasti ajak aku makan siang bersama," kata Wenny.
"Ya sudah kalau begitu. Bereskan semua kerjaan kamu.." kata jaka.

Wenny lalu meninggalkan ruangan tersebut. Tengah harinya Jaka dan Wenny terlihat meluncur ke sebuah hotel. Setelah check-in, mereka segera masuk ke kamar.

"Aku selalu merindukan kamu," kata Jaka sambil memeluk pinggang Wenny lalu mencium bibirnya.

Wenny membalasnya dengan panas. Lidah Wenny bermain liar di dalam mulut Jaka, sementara tangannya meremas selangkangan Jaka yang sudah terlihat menggembung.

"Ohh.. Kamu sangat pintar dan memuaskan.. Mmhh," bisik Jaka sambil meremas pantat Wenny.
"Cepat buka bajunya.." kata Wenny kepada Jaka sementara dia sendiri mulai melucuti semua pakaiannya.

Setelah keduanya telanjang, tangan Wenny menarik tangan Jaka ke ranjang lalu mendorongnya agar telentang. Dijilatinya puting susu Jaka lalu turun ke perut, sementara tangannya meremas dan mengocok kontol Jaka yang sudah tegang.

"Ohh sayang.." desah Jaka sambil terpejam.
"Ohh.. Mmhh.." desah Jaka makin keras terdengar ketika kontolnya terasa hangat dan nikmat berada dalam kuluman mulut Wenny.
"Terus, Wen.. Teruss.." bisik Jaka sambil terpejam dan menggoyangkan pinggulnya.

Setelah beberapa lama, Wenny menghentikan hisapannya pada kontol Jaka. Dia bangkit lalu naik dan mencium bibir Jaka. Kemudian dalam posisi mengangkangi wajah Jaka, Wenny mendekatkan memeknya ke mulut jaka.

"Jilati, sayang.." bisik Wenny. Lidah Jaka tak lama kemudian sudah bermain di belahan memek Wenny.
"Oww.." desah Wenny sambil terpejam sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Oh sayangg.. Ohh.." desah Wenny keras ketika kelentitnya dijilat lidah Jaka.
"Terus sayang.. Terusshh.." desah Wenny sambil mendesakkan memeknya ke mulut jaka.

Lalu digoyang pinggulnya lebih cepat sambi Jaka agak gelagapan tak bisa bernafas.

"Ohh.. Ohh.. Ohh.." jerit Wenny ketika terasa ada yang menyembur di dalam memeknya.
"Nikmat sekali sayang.." kata Wenny tersenyum sambil menurunkan badannya dan berbaring di samping Jaka.

Jaka yang sudah bernafsu, langsung bangkit lalu membuka kaki Wenny lebar sehingga memeknya tampak terbuka. Diarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny. Dengan sekali tekanan, bless.. Kontol Jaka sudah masuk ke dalamnya. Wenny terpejam menikmati nikmatnya rasa yang ada ketika kontol jaka dengan perkasa keluar masuk di dalam memeknya.

"Ohh.. Fuck me!" desah Wenny sambil menatap mata Jaka.
"Aku selalu bergairah kalau melihat kamu di kantor.." kata Jaka di sela-sela persetubuhan itu.
"Kenapa?" tanya Wenny sambil tersenyum.
"Karena kamu sangat sexy.." kata jaka lagi sambil terus memonpa kontolnya.
"Aku pengen ganti posisi.." kata Wenny.

Jaka menghentikan gerakan dan mencabut kontolnya dari memek Wenny. Wenny kemudian bangkit lalu nungging.

"Cepat masukkan, sayang.." kata Wenny.

Jaka mengarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny yang jelas terbuka. Lalu, blep.. blep.. blep.. Kontol jaka kembali keluar masuk memek Wenny.

"Ohh.." desah wenny sambil memejamkan matanya.

Setelah beberapa lama, Jaka makin cepat mengeluar masukkan kontolnya ke memek Wenny. Kemudian Jaka mendesakkan kontolnya dalam-dalam sampai amblas semua ke dalam memek Wenny. Crott! Crott! Crott! Air mani Jaka muncrat di dalam memek Wenny banyak.

"Ohh.. Enak sekali sayang.." kata Jaka sambil mencabut kontolnya.
"Hisap, sayang.." kata Jaka.

Wenny lalu bangkit kemudian tanpa ragu kontol Jaka dijilat membersihkan sisa air mani di batangnya. Kemudian mulutnya langsung mengulum dan menghisap kontol Jaka.

"Sudah sayang.." kata Jaka, lalu mencium bibir Wenny mesra.

Setelah berpakaian dan merapikan diri, mereka segera pergi untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaan di kantor. Sore harinya, Jaka pulang ke rumah. Dewi dan anaknya menyambut gembira kepulangan Jaka. Setelah mandi, Jaka duduk dengan Dewi di ruang keluarga sambil memangku anaknya.

"Mau makan, tidak?" tanya Dewi.
"Nanti sajalah.. Aku masih kenyang," sahut Jaka.
"Nanti hari Minggu kita ajak anak kita berenang ya?" ajak Dewi.
"Boleh.." jawab Jaka pendek sambil membuka-buka koran.

Malam harinya, di tempat tidur, Dewi yang sedang naik birahi, sedang memeluk tubuh Jaka yang sedang memejamkan matanya.

"Ayo, dong.." bisik Dewi.
"Apa sih?" kata Jaka sambil tetap memejamkan matanya.
"Aku pengen.." kata Dewi memohon.
"Aku capek seharian kerja, sayang.. Besok lagi ya.." kata jaka sambil mengecup bibir Dewi lalu kembali memejamkan matanya.

Dewi yang merasa kecewa hanya diam. Hari Minggu, sesuai dengan rencana, Jaka dan Dewi pergi ke kolam renang untuk mengantar anaknya. Disana sudah banyak yang berenang. Tua muda, laki perempuan. Setelah Dewi berganti pakaian renang dengan anaknya, mereka langsung masuk kolam. Jaka hanya duduk di pingir kolam melihat istri dan anaknya.

"Tidak ikut berenang, Mas.." tanya seorang pria mengagetkan Jaka.
"Eh, tidak.. Males," kata Jaka sambil melirik ke orang tersebut.
"Kenalkan, saya Edi.." kata pria itu.
"Jaka," kata Jaka sambil bersalaman.

Jaka menatap Edi. Sangat ganteng dan tubuh Edi sangat bagus seperti orang yang sering fitness. Juga terlihat celana renang mininya sangat menggembung bagian depannya pertanda dia punya kontol yang besar.

"Boleh saya duduk disini?" kata Edi.
"Oh, boleh.. Boleh.." kata Jaka.

Edi duduk berhadapan dengan Jaka. Jarak mereka cukup dekat. Mereka bicara ngalor ngidul tentang keluarga, pekerjaan dan lain-lain. Pada mulanya Jaka biasa saja, tapi entah kenapa lama-kelamaan Jaka sangat suka pada wajah ganteng Edi. Ditatapnya lekuk wajah Edi yang sempurna. Ada perasaan berdesir di hatinya. Apalagi ketika melihat Edi tersenyum, jaka merasa sangat ingin mengecup bibirnya. Jaka akhirnya menjadi salah tingkah.

"Kenapa, Mas?" tanya Edi sambil tersenyum.

Dengan sengaja tangannya menggenggam tangan Jaka. Jaka berdesir darahnya. Entah kenapa ada perasaan senang ketika tangannya digenggam.

"Tidak apa-apa.." kata Jaka sambil menatap Edi.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Hati Jaka benar-benar tak menentu ketika saling bertatapan sambil digenggam tangannya.

"Kita bicara di tempat yang lebih nyaman saja, Mas.." kata Edi.

Jaka diam sambil melirik anak istrinya yang sedang berenang. Jaka bangkit lalu menghampiri mereka di tepi kolam.

"Aku keluar sebentar dengan dia ya, sayang? Ada sedikit bisnis.." kata jaka sambil menunjuk Edi.

Edi tersenyum dan mengangguk ke Dewi ketika Dewi meliriknya. Dewipun tersenyum.

"Jangan lam-lama ya.." kata Dewi.
"Iya," kata Jaka sambil bangkit lalu menghampiri Edi.
"Kemana kita?" tanya Jaka.
"Kita bicara di tempat parkir saja biar tenang.." kata Edi sambil melangkah diikuti Jaka.

Jaka terus menatap tubuh dan bokong Edi dari belakang. Darahnya semakin berdesir. Setelah Edi berganti pakaian, mereka lalu menuju tempat parkir.

"Di dalam mobil saya saja kita bicara," kata Edi sambil membuka pintu mobil berkaca gelap.
"Lebih tenang dan nyaman," kata Edi lagi.

Merekapun segera masuk.

"Saya suka kepada Mas.. Mas cakep," kata Edi sambil mengenggam tangan Jaka.

Jaka terdiam sambil menatap Edi. Hatinya berdebar disertai dengan munculnya satu gairah aneh ketika menatap Edi. Edi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jaka. Tak lama bibirnya mengecup bibir Jaka. Jaka terdiam, tapi perasaannya sangat senang. Lalu tak lama Jaka membalas kecupan bibir Edi. Ciuman mereka makin lama makin liar disertai permainan lidah..

"Buka celananya, Mas.. Waktu kita tidak banyak, anak istri Mas menunggu," kata Edi sambil dia sendiri melepas celana pendek dan celana dalamnya.

Tampak kontolnya sudah tegak. Jaka agak ragu untuk melepas celananya. Edi tersenyum lalu tangannya segera membuka sabuk dan resleting celana Jaka. Kemudia diperosotkannya celana Jaka sampai lepas. Celana dalam Jaka tampak menggembung. Edi lalu melepas celana dalam Jaka.

"Kontol Mas sangat besar," kata Edi sambil meremas kontol Jaka.

Jaka terdiam sambil merasakan suatu sensasi kenikmatan ketika kontolnya dikocok oleh sesama lelaki. Apalagi ketika mulut Edi telah mengulum kontolnya. Jaka terpejam sambil meremas rambut Edi.

"Ohh.." desah Jaka. Edi terus menjilat, menghisap, dan mengocok kontol Jaka.
"Gantian, Mas.." kata Edi.

Sambil menempatkan diri di kursi. Dengan agak ragu, karena pertama kali, Jaka menggenggam kontol Edi yang tegang berdenyut. Matanya terus menatap kontol yang digenggamnya.

"Kocok, Mas.." bisik Edi.

Jaka secara perlahan mengocok kontol Edi. Edi terpejam menikmatinya. Lama kelamaan Jaka makin asyik menikmati permainan tersebut. Dengan gairah yang makin lama makin tinggi, tangannya terus mengocok kontol Edi. Lalu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kepala kontol Edi. Ada cairan bening asin dan gurih terasa. Jaka terus melumat kontol Edi dan menghisapnya sambil sesekali mengocoknya.

"Ohh.. Nikmatthh.." desis Edi sambil meremas rambut Jaka.

Tak lama tubuh Edi mengejang. Didesakan kepala Jaka hingga kontolnya hampir masuk semua ke mulut Jaka. Lalu, crott! crott! Air mani Edi muncrat di dalam mulut Jaka. Jaka langung melepaskan kulumannya. Perutnya terasa mual ketika air mani Edi muncrat di dalam mulutnya. Banyak air mani di dalam mulut Jaka yang akan diludahkan.

"Jangan diludahkan!" kata Edi sambil dengan cepat melumat bibir Jaka.

Dihisapnya semua air mani di mulut Jaka sampai habis lalu ditelan. Lalu dilumatnya lagi bibir Jaka. Mereka berciuman liar sambil saling kocok kontol. Tak lama kemudian Edi naik ke pangkuan Jaka. Diarahkan lubang anusnya ke kontol Jaka. Setelah masuk. Secara perlahan tubuh Edi naik turun sambil matanya terpejam menikmati nikmatnya kontol jaka di anusnya. Sementara Jaka juga terpejam sambil menggerakan kontolnya keluar masuk anus Edi.

"Ohh.. Sshh.." desis Jaka merasakan nikmatnya kontol keluar masuk anus Edi.
"Enak, Mas?" bisk Edi.

Jaka tak menjawab. Hanya pejaman mata dan desahan kenikmatan saja yang keluar dari mulutnya.

"Aku mau keluarrhh.." bisik Jaka. Gerakannya makin cepat.
"Keluarkan.. Puaskan.." bisik Edi.

Jaka memegang pinggang Edi lalu didesakan ke kontolnya hingga kontol Jaka masuk semua ke anus Edi. Croott! Croott! Croott! Air mani Jaka muncrat di dalam anus Edi.

"Ohh.. Nikmat sekali.." kata Jaka lemas sambil memeluk tubuh Edi.

Edi bangkit lalu mulutnya segera menjilat dan menghisap kontol Jaka yang berlumuran air mani sampai habis. Setelah itu mereka berciuman..

"Kapan kita bisa bertemu lagi," kata Edi sambil berpakaian.
"Kapanpun kamu mau," kata Jaka sambil berpakaian pula lalu menyerahkan kartu namanya kepada Edi.

Setelah berciuman mesra sebentar, Edi segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Jaka segera kembali menemui keluarganya di kolam renang.

"Bisnis apa sih?" tanya Dewi.
"Lumayanlah sebagai sampingan, siapa tahu berhasil," kata Jaka.

Dewi diam karena dipikirnya jaka benar-benar berbisnis dengan Edi. Begitulah, sejak saat itu Jaka telah benar-benar menjadi petualang seks yang hampir melupakan keluarganya. Telah sangat banyak wanita yang dikencaninya, juga sangat banyak laki-laki yang dipacarinya. Tapi tetap Jaka menjadikan Edi sebagai kekasih utamanya. Memang secara materi, Jaka selalu memberikan apapun dan berapapun yang Dewi butuhkan. Tapi tidak secara batiniah.. Dewi sebetulnya sudah mulai merasa jenuh dan tersiksa akan kehampaan batinnya.

Sampai suatu ketika.. Hari Minggu itu Jaka pamit kepada Dewi untuk bertemu Edi di suatu tempat demi kepentingan bisnis. Sebenarnya Jaka menemui Edi di suatu motel untuk berkencan. Setelah check-in, mereka segera masuk kamar.

"Lama amat sih, Mas," kata Edi sambil memeluk Jaka lalu melumat bibirya.

Jaka tidak menjawab, hanya balasan lumatan bibirnya saja yang menandakan kalau Jaka bergairah. Sambil tetap berciuman, tangan Edi dengan cepat membuka semua kancing baju dan resleting celana Jaka.

"Buka bajunya, Mas.." kata Edi tak sabar.

Jaka lalu melepas semua pakaiannya sambul tersenyum. Setelah Jaka telanjang, Edi langsung jongkok lalu mengulum kontol Jaka dengan bernafsu.. Begitulah, mereka memacu birahi saat itu tanpa menyadari ada seorang wanita dan anak kecil yang duduk menunggu di depan kamar mereka.

Dialah Dewi.. Sebetulnya Dewi sudah lama mendengar selentingan tentang kelakuan Jaka. Tapi Dewi tetap bertahan karena rasa cintanya kepada Jaka masih besar kala itu, juga karena tidak ada bukti. Setelah selesai melampiaskan nafsu birahi mereka, Jaka dan Edi berciuman lalu segera berpakaian. Sambil berpegangan tangan dan tersenyum penuh arti, mereka membuka pintu kamar untuk pulang. Ketika pintu terbuka.. Jaka terkesiap darahnya tanpa bisa bicara sepatah katapun. Matanya nanar menatap Dewi dan anaknya.

"Aku sudah lama mendengar kelakuan kamu dari teman-teman kamu.." kata Dewi dengan nada datar bergetar menahan amarah.
"Kalau kamu berhubungan hanya dengan perempuan, aku masih bisa memaafkan kamu.." kata Dewi dengan suara mulai terbata-bata.
"Tapi tidak dengan kelakuan menjijikan ini!" suara Dewi mulai meninggi sambil berderai air mata.
"Aku minta cerai!!" bentak Dewi.
"Sekarang juga aku mau pulang ke rumah orang tua.. Jangan temui aku dan anakmu lagi!" bentak Dewi lagi.
"Aku akan kirim gugatan cerai untuk kamu tanda tangani lewat pengacara.." kata Dewi lagi sambil segera menarik tangan anaknya dan berlari ke jalan untuk memanggil taksi.

Jaka dan Edi hanya diam mematung..

*****

Menurut penuturan Jaka, tak lama kemudian mereka resmi bercerai. Sampai detik ini rasa rindu Jaka kepada Dewi, dan
terutama rindu kepada anaknya sangatlah besar dan sangat menyiksa batinnya. Jaka sangat ingin untuk bisa kembali bersama mereka.

Pernah beberapa kali Jaka mencoba untuk mengubah kebiasaan yang selama ini dijalaninya, tapi tidak membuahkan hasil. Sudah beberapa psikiater dan pemuka agama yang dimintai pertolongannya, tapi tetap nihil. Keinginan dan hasratnya untuk bercinta dengan wanita dan juga lelaki sangatlah tidak bisa dibendung.. Batinnya sudah tersiksa oleh rasa rindu akan keluarga dan keinginan untuk berubah, tapi raganya tidak bisa membendung gairahnya..

Semua nasihat yang sangat mudah diucapkan oleh orang yang dimintai tolong, ternyata sangat susah dilakukan..

Cerita Dewasa Akibat Terlalu Dimanja

Cerita Dewasa Akibat Terlalu Dimanja - Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak lelaki satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, jelas sekali kalau aku sangat dimanja. Apa saja yang aku inginkan, pasti dikabulkan. Seluruh kasih sayang tertumpah padaku.

Sejak kecil aku selalu dimanja, sehingga sampai besarpun aku terkadang masih suka minta dikeloni. Aku suka kalau tidur sambil memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indri. Tapi aku tidak suka kalau dikeloni Ayah. Entah kenapa, mungkin tubuh Ayah besar dan tangannya ditumbuhi rambut-rambut halus yang cukup lebat. Padahal Ayah paling sayang padaku. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Aku memang tumbuh menjadi anak yang manja. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.
Cerita Dewasa Akibat Terlalu Dimanja

Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi milik orang lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua orang yang bahagia melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.

Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Padahal aku sudab punya mobil. Tapi memang sudah lama aku ingin dibelikan motor. Hanya saja Ayah belum bisa membelikannya. Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indri menikah, umurku sudab dua puluh satu tahun.

Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Di kampus, sebenarnya ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu besar sekali. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dan aku selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Padahal banyak teman-temanku, terutama yang cowok bilang kalau gadis itu menaruh hati padaku.

Sebut saja namanya Linda. Punya wajab cantik, kulit yang putih seperti kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang membusung dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak cowok yang menaruh hati dan mengharapkan cintanya. Tapi Linda malah menaruh hati padaku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya hanya teman biasa saja. Tapi Linda tampaknya juga tidak peduli. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan Ibu juga senang dan berharap Linda bisa jadi kekasihku.

Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi aku tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir semua teman mengatakan kalau aku sudah pacaran dengan Linda, Padahal aku merasa tidak pernah pacaran dengannya. Hubunganku dengan Linda memang akrab sekali, walaupun tidak bisa dikatakan berpacaran.

Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, aku memperoleh anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Padahal tadinya aku benci sekali, karena menganggap Mas Herman telah merebut Mbak Indri dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yang aku sukai. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.

Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dengan Linda. Tapi dia tidak sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan Ibuku. Aku tidak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.
"Bagus sekali anjingnya..", piji Tante Maya.
"Iya, Tante. diberi sama Mas Herman", sahutku bangga.
"Siapa namanya?" tanya Tante Maya lagi.
"Bobby", sahutku tetap dengan nada bangga.

Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi membawa Bobby, aku dan Linda duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, karena Tante Maya sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sambil terus-menerus memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka kalau dipuji.
Oh, ya.., Nanti malam kamu datang..", ujar Tante Maya sebelum pergi.
"Ke rumah..?", tanyaku memastikan.
"Iya."
"Memangnya ada apa?" tanyaku lagi.
"Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau merayakannya sama kamu", kata Tante Maya Iangsung memberitahu.
"Kok Linda nggak bilang sih..?", aku mendengus sambil menatap Linda yang jadi memerah wajahnya. Linda hanya diam saja.
"Jangan lupa jam tujuh malam, ya.." kata Tante Maya mengingatkan.
"Iya, Tante", sahutku.

Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Linda. Suasananya sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi aku disambut Linda yang memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Tapi tidak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Linda berulang tahun malam ini. Dan hanya kami berempat saja yang merayakannya.

Perlu diketahui kalau Linda adalah anak tunggal di dalam keluarga ini. Tapi Linda tidak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam, Linda membawaku ke balkon rumahnya yang menghadap langsung ke halaman belakang.

Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya tersingkap. Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan aku tetap tidak peduli meskipun Linda menggeser duduknya hingga hampir merapat denganku. Keharuman yang tersebar dari tubuhnya tidak membuatku bergeming.

Linda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Tapi aku diam saja, malah menatap wajahnya yang cantik dan begitu dekat sekali dengan wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Tapi tetap saja aku tidak merasakan sesuatu.

Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget, tidak menyangka kalau Linda akan seberani itu. Aku menatapnya dengan tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang saat itu sangat sulit ku artikan.
"Kenapa kau menciumku..?" tanyaku polos.
"Aku mencintaimu", sahut Linda agak ditekan nada suaranya.
"Cinta..?" aku mendesis tidak mengerti.

Entah kenapa Linda tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda mengenakan rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan betapa halusnya kulit paha gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak merasakan apa-apa. Dan sikapku tetap dingin meskipun Linda sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin dekat saja jarak wajah kami. Bahkan tubuhku dengan tubuh Linda sudah hampir tidak ada jarak lagi. Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup, tapi dia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah. Sedangkan aku tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Linda melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya kalau aku sama sekali tidak bisa apa-apa.
"Kenapa diam saja..?" tanya Linda merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.

Tapi tidak.., Linda tidak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yang begitu indah dan manis sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku. Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Tapi aku tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Linda berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali aku tidak bisa apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.
"Memangnya aku harus bagaimana?" aku malah balik bertanya.
"Ohh..", Linda mengeluh panjang.

Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak pernah pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Linda kembali mencium dan melumat bibirku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau aku harus membalasnya dengan cara-cara yang tidak pantas untuk disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.
"Ke kamarku, yuk..", bisik Linda mengajak.
"Mau apa ke kamar?", tanyaku tidak mengerti.
"Sudah jangan banyak tanya. Ayo..", ajak Linda setengah memaksa.
"Tapi apa nanti Mama dan Papa kamu tidak marah, Lin?", tanyaku masih tetap tidak mengerti keinginannya.

Linda tidak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini. Bahkan aku tidak protes ketika Linda mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan celanaku hingga yang tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tidak merasa malu, karena sudah biasa aku hanya memakai celana dalam saja kalau di rumah. Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Tapi aku tidak tahu apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Linda mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa begitu hangat sekali hembusan napasnya.
"Linda.."

Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok tubuh sempurna seorang wanita dalam keadaan tanpa busana. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.

Sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan menggemuruh saat Linda memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali. Dan aku menurut saja saat dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku. Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan dia tidak berhenti menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yang bidang dan sedikit berbulu.

Tergesa-gesa Linda melepaskan penutup terakhir yang melekat di tubuhnya. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos dan indah itu. Begitu rapat sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Tapi aku masih tetap diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yang membusung padat dan kenyal.

Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti dengan permintaannya. Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yang berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Linda. menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku jadi gelagapan karena tidak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tapi Linda malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu aku merasakan sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku.
"Okh..?!".
Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang tipis, dan..
"Linda, apa yang kau lakukan..?" tanyaku tidak mengerti, sambil mengangkat wajahku dari dadanya.

Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku semakin tidak menentu. Dan aku merasakan kalau bagian tubuhku yang vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Linda malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih dengan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Tapi aku hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda kembali menghujani wajah, leher dan dadaku yang sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan penuh gairah membara.

Memang Linda begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku dengan berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang kini sudan polos.
"Ayo dong, jangan diam saja..", bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu.
"Aku.., Apa yang harus kulakukan?" tanyaku tidak mengerti.
"Cium dan peluk aku..", bisik Linda.

Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Tapi nampaknya Linda masih belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut.

Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dengan suara tertahan akibat hembusan napasnya yang memburu seperti lokomotif tua. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang d ibisikkannya. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Walau sudah berusaha melakukan apa saja yaang dimintanya.

Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih mulus. Linda berada tepat di atas tubuhku, sehingga aku bisa melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan jelas sekali.

Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku menggelelar ketika penisku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan agak basah. Namun tiba-tiba saja Linda memekik, dan menatap bagian penisku. Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda sudah dipengaruhi gejolak membara dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.
"Kau..", desis Linda terputus suaranya.
"Ada apa, Lin?" tanyaku polos.

"Ohh..", Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya ke samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil memandangiku yang masih terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya kecewa.
"Ada apa, Lin?", tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba.
"Tidak.., tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya.

Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Linda yang sudah rapi berpakaian. Aku memang tidak mengerti dengan kekecewannya. Linda memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal tadi Linda sudah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan